Di antara hiruk-pikuk itu, seorang pria berkaus lusuh mengayuh sepeda ontel tua. Keranjang di bagian depan terisi penuh gulungan tisu. Namanya Zulkifli (60) — warga memanggilnya Izul.
Sejak tiga tahun terakhir, jalanan menjadi ruang kerjanya. Setiap hari, usai salat Zuhur, ia mulai mengayuh dari satu sudut kota ke sudut lain.
Dua pekan terakhir, kawasan Seberang Palinggam menjadi rute tetapnya. Ia baru berhenti menjelang pukul setengah enam sore, saat langit mulai meredup dan keringat mengering di pelipis.
Namun kerja Izul tak hanya itu. Pagi harinya, ia sudah berada di kawasan Teluk Bayur, membantu menjajakan ikan mengikuti seorang bos langganannya.
Bau amis, tangan basah air laut, dan terik pantai menjadi pembuka harinya sebelum ia kembali ke pelana sepeda saat matahari tepat di atas kepala.
“Apalah daya, sudah tua. Kerjaan ini saja yang bisa. Dari pagi jualan ikan, siangnya lanjut jualan tisu,” ucapnya lirih, Selasa (18/11/2025).
“Kadang penghasilan tidak seberapa, tapi harus cukup untuk makan sekeluarga.”
Di rumah sederhana, tiga putrinya menanti: satu berusia 30 tahun, satu 25 tahun, dan yang bungsu baru menamatkan pendidikan di SMK. Setiap lembar tisu yang terjual berarti sepiring nasi di meja makan.
Jalanan, bagi Izul, tidak selalu ramah. Sesekali, ia memilih berbelok cepat saat melihat petugas Satpol PP di kejauhan.
Penertiban pedagang keliling menjadi bayangan yang terus mengikutinya, ketakutan kehilangan satu-satunya sumber nafkah.
Sebelum roda sepedanya menapak kembali di aspal Padang, Izul sempat merantau ke Pekanbaru. Selama setahun ia membuat perabot rotan.
Harapannya sederhana: mengubah nasib. Kenyataannya berbeda. Penghasilan tak memberi ruang bernapas, dan ia pulang dengan tangan yang tetap kosong.
Kini, ia kembali mengayuh. Setiap kayuhan roda sepeda tuanya adalah perjuangan yang tak banyak terlihat.
Peluh yang menetes di punggungnya adalah bagian dari kisah penghidupan yang jarang masuk perhitungan statistik.
Bagi Izul, kota ini bukan sekadar tempat tinggal, melainkan medan perlawanan atas keterbatasan.
Di tengah panas, ancaman penertiban, dan uang kembalian yang tak seberapa, langkahnya tak berhenti.
Ia terus mengayuh, bukan hanya menjual tisu, tetapi menjaga martabat sebagai kepala keluarga.(CR3)
Editor : Hendra Efison