Indonesia Sumbar Bisnis Olahraga Gaya Hidup Harian Magazine Otomotif Pariwisata Features Internasional Opini Advertorial Pendidikan Buku & Film Hiburan Kesehatan

Rendang Bu Ning Hangatkan ASEAN Youth Creative Meeting 2025 di Tengah Hujan Dingin Padang

Hendra Efison • Senin, 24 November 2025 | 14:57 WIB

Rendang Bu Ning menghangatkan suasana ASEAN Youth Creative Meeting 2025 di Padang, memperkenalkan kuliner Minang kepada pemuda ASEAN.
Rendang Bu Ning menghangatkan suasana ASEAN Youth Creative Meeting 2025 di Padang, memperkenalkan kuliner Minang kepada pemuda ASEAN.
PADEK.JAWAPOS.COM—Hujan turun tanpa jeda di Kota Padang sejak beberapa hari terakhir. Langit kelabu menggantung rendah, sementara suhu udara bertahan di kisaran 23 derajat Celsius. Angin lembap menyusup ke sela jaket para pejalan kaki yang berlindung dari gerimis.

Namun, di atas perbukitan kampus Universitas Andalas, suasana berbeda terasa di dalam Convention Hall Unand, Senin (24/11/2025).

Aroma rempah yang hangat menyelimuti ruangan. Asap tipis beraroma santan dan serai mengepul dari sebuah sudut ruangan—dari sebuah stan sederhana bertuliskan Himpunan Pengusaha Rendang Minangkabau (Hipermi) Kota Padang.

Di balik meja saji berdiri Harti Ningsih, yang akrab disapa Bu Ning. Tangannya sigap mengaduk panci besar, di mana potongan daging terbalut kuah gelap kecokelatan yang mengilap.

“Kami ikut membuka stan di sini,” ujar Bu Ning kepada Diskominfo, sambil tersenyum dan terus melayani tamu yang mengantre.

Hari itu, ratusan pemuda dari berbagai negara ASEAN berkumpul dalam agenda ASEAN Youth Creative Meeting (AYCM) 2025.

Seminar, diskusi, dan pertukaran gagasan mengisi panggung utama. Namun di salah satu sudut ruangan, terjadi pertemuan budaya yang lebih sunyi—namun tak kalah bermakna: kuliner.

Stan Bu Ning menyajikan rendang daging, kalio ayam, dan dendeng badaruak. Tak ada transaksi di awal. Yang ada hanya piring-piring kecil berisi nasi hangat dan lauk khas Minang.

“Silakan dicoba, gratis,” ucap Bu Ning, sambil menyodorkan piring kecil kepada seorang pemuda asal Makassar bernama Eja.

Eja menggigit potongan pertama rendang. Wajahnya berubah seketika. Ia terdiam beberapa detik, lalu tersenyum.

“Enak sekali, tidak seperti rendang dibuat di Makassar,” katanya jujur.

Tak lama kemudian, Eja kembali mendekat ke meja stan. Kali ini bukan untuk mencicipi. Ia membeli beberapa kotak rendang dan olahan lainnya sebagai oleh-oleh.

Sejak pukul 08.00 WIB, Bu Ning telah membuka stannya. Di meja tersusun rapi rendang jengkol, dendeng lambok balado, kerupuk kulit, serta berbagai makanan tradisional lainnya.

Satu demi satu peserta AYCM dari negara ASEAN singgah, mencoba, lalu bertanya tentang nama dan cara memasaknya.

Di tengah dingin dan hujan Kota Padang, hangatnya rendang Bu Ning tak sekadar mengenyangkan. Ia menjadi jembatan rasa—memperkenalkan Minangkabau kepada dunia, satu suap demi satu suap.(*)

Editor : Hendra Efison
#kuliner khas minangkabau #ASEAN Youth Creative Meeting 2025 #Bu Ning rendang Minang #Hipermi Kota Padang