Curah hujan tinggi tidak hanya menghambat distribusi pasokan, tetapi juga mempercepat kerusakan komoditas sayur yang sensitif terhadap kelembapan. Akibatnya, sejumlah pedagang mengaku merugi lantaran banyak dagangan yang membusuk sebelum sempat terjual.
Salah seorang pedagang, Cindy Anggraini, 35, mengungkapkan, beberapa hari terakhir ia kesulitan mendapatkan pasokan sayuran berkualitas. Meski berhasil mendapatkan kiriman sayur, sebagian besar kondisinya sudah rusak bahkan mengalami pembusukan.
“Karena mencari sayur ini susah, kalau pun dapat sayurnya hancur. Keadaan musim hujan sayurnya busuk jadi banyak yang terbuang,” ujarnya kepada Padang Ekspres, Senin (24/11).
Cindy menjelaskan, sayuran yang dibawa dalam karung selama perjalanan cenderung menjadi basah dan mengeluarkan bau tidak sedap, tanda awal pembusukan.
Beberapa jenis sayur yang paling cepat rusak di musim hujan antara lain sawi, pangsit, brokoli, dan selada. Dengan tingkat kesegaran yang tidak bertahan lama, dagangan tersebut hanya memiliki waktu singkat untuk laku terjual.
“Sayur kalau sudah kena hujan, sebentar saja hancur, baunya berubah karena dalam karung. Kalau tidak cepat laku, sorenya sudah banyak yang harus dibuang,” tuturnya.
Selain masalah pembusukan, musim hujan yang terus menerus juga mengganggu proses distribusi sayuran dari daerah produksi menuju pasar. Hujan deras di beberapa wilayah menyebabkan banjir dan longsor, sehingga memperlambat perjalanan kendaraan pengangkut.
“Tadi pagi (kemarin) ada sayuran masuk, yakni pangsit dan sawi dari Padangpanjang, tapi banyak yang busuk. Mungkin karena agak lama sampainya,” jelas Cindy.
Pasokan yang terlambat membuat risiko kerusakan semakin besar. Kondisi sayuran yang mengalami gesekan, terendam air, atau tertahan dalam waktu lama di dalam karung membuat kualitasnya menurun drastis sebelum sempat sampai ke pedagang.
Tak hanya kerusakan barang, Cindy juga merasakan penurunan jumlah pembeli. Cuaca yang sering hujan membuat warga enggan datang ke pasar, sehingga tingkat penjualan pun merosot.
Dari omzet biasanya sekitar Rp 3 juta per hari, kini penjualannya hanya berkisar di bawah Rp 2 juta. “Dari hujan Senin kemarin memang sudah terasa sepi. Memang dari sebelum itu juga pasar di atas ini sepi, tapi saat musim hujan malah makin sepi,” ujarnya.
Penurunan jumlah pembeli ini memperparah kerugian karena sayur yang tidak laku harus dibuang lebih cepat dibandingkan musim panas.
Hal senada juga disampaikan Puji Mandala Putra, 36, pedagang sayur lainnya di Pasar Lubukbuaya. Ia mengaku mengalami penurunan omzet yang cukup signifikan. Jika pada hari biasa omzetnya mencapai Rp 3 juta, kini menurun hingga hanya Rp 1,5 juta saat musim hujan. “Orang malas ke pasar karena hujan, jadi sayuran tak habis terjual,” katanya.
Puji menambahkan, sayuran yang tersimpan dalam karung hanya tahan sekitar dua hari, itupun jika tidak terkena hujan secara langsung. Ketika pembeli sepi, semakin banyak dagangan yang membusuk sebelum berhasil dijual semuanya.
Para pedagang kini harus lebih berhati-hati dalam mengatur stok sayuran. Mereka tidak berani mengambil jumlah besar dari pemasok karena khawatir kualitasnya rusak sebelum sempat terjual.
Namun, membeli stok sedikit juga berakibat pada keuntungan yang menipis. “Kalau stok sedikit, untung tipis. Tapi kalau kita ambil banyak, risiko busuk besar. Jadi serba salah,” ujar Puji.
Di tengah kondisi sulit ini, para pedagang terpaksa lebih sering melakukan penyortiran untuk meminimalkan kerusakan.
Daun atau batang yang mulai layu atau rusak harus segera dipisahkan agar tidak mempercepat pembusukan bagian lainnya. Langkah tersebut setidaknya membantu menjaga kualitas sayuran yang masih layak jual. (cr6)
Editor : Adetio Purtama