Hujan turun tanpa jeda. Air yang semula hanya mengalir keruh berubah menjadi arus liar, membawa batang kayu, lumpur, dan puing-puing.
Di tengah derasnya aliran, tiga sosok terlihat bertahan di sebuah pulau kecil di tengah sungai.
Asep (53), Ryan (31), dan Is (50) hanya mampu berpegangan pada batang pohon besar yang tersangkut. Ketinggian air terus naik. Gerak mereka terbatas. Nafas terlihat terburu-buru.
Informasi keberadaan korban pertama kali diterima Tim Reaksi Cepat (TRC) PT Semen Padang dari laporan warga.
Tanpa jeda, tim bergerak menuju lokasi bersama tim gabungan dari berbagai unsur. Setibanya di tepi sungai, pemandangan langsung menunjukkan tingkat risiko tinggi.
Arus memotong deras dari hulu, sementara salah satu korban, Is, tampak tidak bisa bergerak leluasa. Belakangan diketahui ia mengalami fraktur pada kaki kiri bagian bawah.
“Setelah melihat situasi di lapangan, kami sadar bahwa evakuasi biasa tidak mungkin dilakukan. Arus terlalu kuat. Satu-satunya cara adalah tactical rescue, menggunakan tali sebagai pengaman utama,” ujar Marsudi, personel TRC PT Semen Padang.
Sebuah tali dibentangkan dari satu sisi sungai ke sisi lain. Tangan-tangan di tepi sungai menarik dan menahan tali sebagai penyangga.
Di tengah arus, seorang personel TRC masuk ke air, mengikatkan pengaman di tubuhnya, lalu bergerak perlahan mendekati para korban.
Setiap langkah terukur. Setiap tarikan tali menjadi penentu keseimbangan.
Satu per satu, korban dibawa menyeberang. Wajah mereka terlihat pucat, tubuh menggigil. Namun mereka berhasil mencapai tepian dalam keadaan selamat.
“Alhamdulillah, proses evakuasi yang kami lakukan berhasil. Meskipun kondisinya sulit, semua korban bisa dievakuasi dalam keadaan selamat,” kata Marsudi.
Ketiganya langsung mendapatkan penanganan awal sebelum dilarikan ke Rumah Sakit Universitas Andalas (RS Unand).
Is menjadi prioritas penanganan karena mengalami patah tulang. Dua korban lainnya mengalami syok dan kelelahan berat setelah lama terjebak di tengah arus.
Di tepi sungai, sejumlah warga menyaksikan langsung proses dramatis itu. Tatapan mereka tertuju pada tali yang tegang dan figur-figur penyelamat yang berdiri di garis paling berbahaya—senyap, fokus, dan tidak mundur selangkah pun.(*)
Editor : Hendra Efison