Kondisi ini memicu lonjakan penjualan air galon di sejumlah depot pengisian ulang.
Pantauan di beberapa depot di kawasan Jalan Adinegoro menunjukkan warga mengantre sambil membawa satu hingga empat galon, bahkan lebih. Air galon dipilih untuk memenuhi kebutuhan mendesak seperti mandi, memasak, dan konsumsi.
Pemilik Depot Ikhlas, Hendrizal (62), menyampaikan penjualannya meningkat signifikan sejak layanan PDAM terhenti. Biasanya ia menjual 70–80 galon per hari, namun kini bisa mencapai sekitar 190 galon dalam satu hari.
“Biasanya pasokan air tahan dua hari. Sekarang belum satu hari sudah habis,” kata Hendrizal, Minggu (30/11/2025).
Ia juga menyebut beberapa warga membeli hingga sepuluh galon sekaligus untuk kebutuhan rumah tangga.
Kondisi serupa terjadi di Depot Fahri. Karyawan, Tri Ananda Kevin (21), mengatakan permintaan meningkat drastis dalam beberapa hari terakhir.
Sebelum banjir, depot menjual sekitar 70 galon per hari, namun kini dalam setengah hari bisa laku hingga 200 galon.
“Warga sering antre. Tadi buka jam delapan pagi, sekarang jam dua siang galon sudah habis,” ujar Tri. Ia menambahkan, pasokan air dari Solok juga terhambat akibat kemacetan di Sitinjau Lauik.
Meskipun permintaan meningkat tajam, harga air galon di depot tetap stabil di angka Rp7.000 per galon untuk pengantaran dan Rp6.000 jika diambil langsung.
Situasi ini membuat warga mengandalkan depot sebagai sumber utama air bersih sementara waktu, hingga layanan PDAM kembali beroperasi. (CR6)
Editor : Hendra Efison