Indonesia Sumbar Bisnis Olahraga Gaya Hidup Harian Magazine Otomotif Pariwisata Features Internasional Opini Advertorial Pendidikan Buku & Film Hiburan Kesehatan

Kisah Korban Selamat Galodo Padang: Terjepit Kayu, Terbawa Arus, Selamat dari Maut

Fadli Zikri • Kamis, 4 Desember 2025 | 10:09 WIB

Fernandi, korban banjir Padang yang berhasil selamat.
Fernandi, korban banjir Padang yang berhasil selamat.
Suasana subuh yang biasanya sunyi dengan suara kokok ayam berubah menjadi kepanikan mencekam bagi Fernandi (47), warga Kampung Apar, Kelurahan Kotopanjang Ikua Koto, Kecamatan Kototangah. Banjir bandang dahsyat yang menerjang kawasan tersebut pada Kamis (27/11/2025) nyaris merenggut nyawanya. Gelondongan kayu besar dan material rumah yang roboh membuatnya terjepit di dalam rumah, sebelum akhirnya ia berhasil selamat meski terbawa arus sejauh kurang lebih 150 meter dari lokasi rumahnya.

Laporan FADLI ZIKRI, Padang—

Peristiwa itu masih terekam jelas dalam ingatan Fernandi. Saat itu, hujan deras mengguyur kawasan Batang Aia Proyek Kampung APA sejak dini hari. Ia baru saja terbangun dari tidurnya ketika suara hempasan kayu menghantam dinding rumah terdengar keras dan beruntun.

Belum sempat berdiri, air bercampur lumpur berwarna pekat bersama gelondongan kayu langsung meluncur masuk ke dalam rumahnya.

Dalam kondisi panik, saat tinggi air sudah mencapai sepaha, Fernandi hanya sempat meraih satu benda yang menurutnya paling penting saat itu, yakni telepon genggam yang sudah berada di dekatnya. Arus yang datang begitu cepat membuat ia tidak sempat menyelamatkan ijazah maupun barang-barang berharga lainnya.

Dalam hitungan menit, ketinggian air meningkat drastis hingga mencapai dada. Pada saat itulah, deru suara kayu-kayu besar kembali terdengar menghantam sisi rumahnya. Satu per satu bagian dinding rumah ambruk diterjang arus bercampur gelondongan kayu yang datang bertubi-tubi.

Tak Bisa Keluar Rumah, Leher Terjepit Kayu Akibat Arus Galodo

Ketika dinding depan rumahnya runtuh, tubuh Fernandi terseret ke arah sisa dinding yang masih berdiri. Posisi itu justru membuat jalan keluar tertutup. Sebuah balok kayu besar menghantam dan menekan bagian depan lehernya, sementara arus deras mendorong tubuhnya kuat-kuat ke arah dinding.

Dalam kondisi tersebut, Fernandi tidak bisa bergerak bebas. Napasnya tersengal karena lehernya terjepit di antara balok kayu dan tekanan arus yang sangat kuat.

“Airnya makin tinggi dan arusnya juga makin deras. Saat itu saya benar-benar tidak ada jalan keluar lagi. Leher saya kejepit, arus menahan badan saya dari depan, ditambah lagi kayu seperti balok yang menjepit leher saya, jadi tidak bisa bergerak dan payah bernapas,” ujar Fernandi kepada Padang Ekspres.

Dalam kepasrahan di tengah maut yang mengintai, lintasan pikiran akhirnya muncul di benaknya. “Dalam pikiran saya saat terjepit itu, kalau ini ajal saya, saya ikhlas,” katanya, sambil memperagakan kembali posisi saat dirinya terjepit di dalam rumah.

Namun naluri untuk bertahan hidup membuatnya mengambil keputusan berat. Telepon genggam yang sejak awal digenggam erat, satu-satunya barang yang berhasil ia selamatkan, terpaksa ia lepaskan. Ia membutuhkan kedua tangannya untuk berusaha melepaskan jepitan balok kayu di lehernya.

“Saat itu saya berpikir, mungkin ini satu-satunya cara. Saya lepaskan HP dari genggaman, lalu saya berusaha mendorong balok itu dan memiringkan kepala supaya sedikit demi sedikit bisa keluar,” tuturnya.

Terbawa Arus 150 Meter

Usaha keras itu akhirnya membuahkan hasil. Balok kayu yang menjepit lehernya berhasil terlepas. Namun, tubuh Fernandi langsung terseret derasnya arus galodo. Ia kehilangan kendali atas arah tubuhnya.

Di tengah kekacauan itu, ia hanya berusaha bertahan dari hantaman kayu-kayu besar dan puing-puing bangunan rumah yang ikut hanyut.

“Saya terbawa arus sekitar 150 meter dari rumah. Saat itu saya berusaha meraih ranting-ranting yang ada, bertahan dari satu pohon ke pohon lainnya. Bukan hanya air saja yang datang, tapi juga kayu-kayu besar dan sisa bangunan rumah yang runtuh,” ungkapnya.

Upaya bertahan hidup itu akhirnya membawanya ke sebuah pohon alpukat. Di sanalah ia berusaha menghentikan tubuhnya dari sergapan arus. Dari tempat itulah ia menyaksikan pemandangan yang menyayat hati.

“Saat saya bertahan di pohon alpukat itu, saya menyaksikan rumah saya sudah rata diterjang galodo,” ujarnya lirih sambil menunjuk ke arah lokasi bekas rumahnya.

Melihat Warga Lain Terbawa Galodo

Selama hanyut, Fernandi juga menyaksikan langsung bagaimana warga lain berjuang melawan derasnya arus. Jeritan minta tolong terdengar bersahut-sahutan, bercampur dengan suara gemuruh air yang mengalir sangat besar.

“Saya lihat orang-orang juga hanyut. Ada yang memegang batang pohon, ada yang sudah naik ke atas rumah, ada juga yang terbawa kayu-kayu itu. Suasananya sangat kacau, seperti sudah mau kiamat rasanya,” katanya dengan mata berkaca-kaca. Momen tersebut terus membekas dalam ingatannya hingga kini dan menjadi trauma yang sulit ia lupakan.

Ketika Air Mulai Surut

Saat arus mulai melemah, Fernandi mencoba kembali melihat kondisi sekitar. Dengan sisa tenaga, ia berpindah dari satu pohon ke pohon lain untuk mendekati lokasi rumahnya. Arus balik yang masih membawa berbagai reruntuhan tetap menjadi ancaman di setiap langkah.

“Saya berpindah dari satu pohon ke pohon lain untuk melihat kondisi rumah saya yang sudah hancur, tidak ada tersisa,” tuturnya.

Bertahan Setelah Kehilangan Segalanya

Di lokasi yang kini tinggal puing-puing, Fernandi hanya bisa terdiam. Rumah yang selama ini menjadi tempat tinggalnya bersama seluruh kenangan hidupnya telah lenyap dalam hitungan menit. Ia kehilangan segalanya, rumah, perabotan, dokumen penting, hingga barang-barang pribadi.

Namun di balik semua itu, ia tetap mensyukuri satu hal yang paling berharga: nyawanya. “Alhamdulillah saya masih hidup, tapi barang-barang dan rumah sudah habis semuanya,” katanya pelan. (*)

Editor : Adetio Purtama
#Kototangah #Galodo #Terbawa Arus #padang #korban selamat #kayu