Indonesia Sumbar Bisnis Olahraga Gaya Hidup Harian Magazine Otomotif Pariwisata Features Internasional Opini Advertorial Pendidikan Buku & Film Hiburan Kesehatan

Penjualan Kue Singgang selama Musim Hujan: Omzet Pedagang Turun 50 Persen

Fadli Zikri • Kamis, 11 Desember 2025 | 10:43 WIB

Salah seorang pedagang kue singgang di Pasar Tradisional Bandaaia sedang menunggu pembeli, kemarin.
Salah seorang pedagang kue singgang di Pasar Tradisional Bandaaia sedang menunggu pembeli, kemarin.
Musim hujan yang berlangsung lebih dari sebulan terakhir mulai menekan aktivitas ekonomi pedagang kecil di Kota Padang, termasuk di Pasar Tradisional Bandaaia, Batang Kabung Ganting, Kecamatan Kototangah. Derasnya hujan yang turun hampir setiap hari membuat pembeli enggan keluar rumah, sehingga berdampak langsung terhadap penjualan jajanan tradisional. Seperti apa ceritanya?

Laporan Fadli Zikri, Padang—

Salah satu yang merasakan dampaknya adalah pedagang kue singgang, Nur Rahmi, 48. Lapaknya berada di sekitar Pasar Tradisional Bandaaia dan menjadi langganan warga setempat. Namun, sejak curah hujan meningkat tajam, penjualannya menurun drastis dibanding hari-hari normal.

Kue singgang merupakan kue tradisional Minang yang dibuat dari tepung beras, santan, dan gula. Aromanya yang harum karena dipanggang di atas bara biasanya membuat pembeli tak ragu singgah.

Namun, suasana berbeda terlihat pada musim hujan kali ini. Pembeli jauh lebih sedikit, bahkan pada hari yang sebelumnya dikenal ramai.

Dalam kondisi normal, Rahmi mampu menjual hingga 500 potong kue singgang per hari. Namun kini, jumlah tersebut tidak lagi tercapai. Sejak satu bulan terakhir, penjualannya hanya berada di kisaran 200 potong per hari. “Paling banyak laku sekitar 200 potong kue,” ujarnya saat ditemui Rabu (10/12).

Penurunan jumlah pembeli tersebut berdampak langsung pada omzetnya. Sebelumnya, ia dapat memperoleh pendapatan stabil sekitar Rp 1 juta per hari. Namun kini, jumlah tersebut merosot hingga kurang dari Rp 500 ribu.

“Kalau cuaca seperti ini terus, berat juga. Kadang modalnya sudah termakan karena pemasukan berkurang,” katanya.

Musim hujan juga membuat aktivitas pasar melambat. Banyak warga menunda atau bahkan membatalkan kunjungan ke pasar ketika hujan turun mendadak. Kondisi ini memaksa Rahmi menata ulang strategi penjualan agar kerugian tidak semakin besar.

Beberapa minggu terakhir, ia mengurangi jumlah adonan kue yang dibuat setiap hari. Jika sebelumnya ia menyiapkan adonan untuk sekitar 500 potong kue, kini ia hanya membuat sekitar 300 potong. “Daripada banyak yang tidak laku dan terbuang, lebih baik buat sedikit saja,” ujarnya.

Meski penjualan menurun, Rahmi tetap mempertahankan kualitas kue buatannya. Ia tidak ingin mengurangi takaran bahan meski biaya produksi meningkat. Menurutnya, menjaga cita rasa adalah cara terbaik untuk mempertahankan pelanggan. “Kalau rasa berubah, makin hilanglah pembeli,” ungkapnya.

Kondisi serupa dialami pedagang jajanan lain di pasar tersebut. Penjual gorengan, sarapan pagi, hingga pedagang jajanan tradisional lainnya turut merasakan turunnya omzet. Pasar Bandaaia yang biasanya ramai pada sore hari kini tampak lebih lengang ketika hujan mengguyur.

Meskipun menghadapi masa sulit, Rahmi tidak patah semangat. Baginya, bertahan adalah satu-satunya pilihan agar roda ekonomi keluarga tetap berputar. Ia meyakini bahwa kondisi akan kembali normal ketika musim hujan mulai mereda.

Namanya usaha kecil, pasti ada naik turun. Yang penting sabar sampai cuaca bagus. Kalau tidak jualan, bagaimana memenuhi kebutuhan sehari-hari dan anak, tegasnya.

Setiap hari, Rahmi tetap menjaga tungku pemanggang kue singgangnya. Asap tipis yang mengepul dari sela loyang menjadi tanda bahwa harapannya masih menyala. Meski pembeli tak seramai dulu, ia yakin rezeki tetap akan datang selama ia terus berusaha. “Yang penting selalu berusaha, rezeki akan datang juga,” tutupnya. (*)

Editor : Adetio Purtama
#penjualan #omzet #pedagang #musim hujan #kue singgang