Mengki Kurniawan, Pasar Raya—
Berada di lantai dua Jalan Pasar Raya II, lapak yang dikelola oleh Zulhendri, 53, ini telah beroperasi selama lebih dari dua dekade. Sejak didirikan pada tahun 2000, Prima Elektronik menjadi saksi perubahan teknologi sekaligus perkembangan Pasar Raya dari masa ke masa.
Enam kali pindah lokasi tidak menyurutkan tekad Zulhendri untuk terus bertahan dan melayani konsumen yang membutuhkan jasa reparasi.
Zulhendri, seorang pria bersahaja yang lahir di Padang dan berdarah asli Sungai Tarab, Kabupaten Tanahdatar, dikenal luas karena kemampuannya “menghidupkan kembali” barang elektronik yang rusak.
Pelanggan yang datang tidak hanya berasal dari wilayah Kota Padang, tetapi juga dari daerah lain seperti Pasaman hingga Kepulauan Mentawai. Keahliannya diakui luas, meski latar belakang pendidikannya hanya sampai tingkat Sekolah Dasar (SD).
“Kemampuan ini saya dapat dari pelatihan enam bulan di BLK Lubukalung. Dari situ saya punya modal ilmu untuk memperbaiki barang elektronik,” kata Zulhendri saat ditemui Padang Ekspres.
Sebelum membuka usaha sendiri, ia lebih dulu menjalani berbagai pekerjaan serabutan. Suasana Pasar Raya sudah tidak asing baginya sejak kecil karena sering membantu orang tuanya berdagang buah.
Prima Elektronik dikenal mampu menangani berbagai jenis barang elektronik, terutama yang memiliki arus listrik. Kerusakan yang paling sering ditemui adalah korsleting pada speaker, televisi, hingga peralatan rumah tangga lain. Di awal usaha, Zulhendri bahkan melayani perbaikan langsung ke rumah pelanggan untuk barang besar seperti kulkas.
“Kami bisa perbaiki hampir semua yang ada listriknya. Kebanyakan orang datang karena korslet, mungkin salah pakai atau kena air. Dulu kalau ada barang besar, kami datangi rumahnya. Tapi sekarang fokus di lapak saja,” jelasnya.
Tarif servis di Prima Elektronik sangat fleksibel dan menyesuaikan tingkat kesulitan kerusakan serta kebutuhan penggantian suku cadang. Prinsip keadilan menjadi dasar dalam menentukan harga.
Namun, tantangan terbesar yang dihadapi Prima Elektronik adalah musim hujan. Cuaca buruk membuat jumlah pelanggan menurun drastis.
“Kalau cuaca bagus, sebelum musim hujan, Alhamdulillah bisa dapat Rp 200 ribu per hari. Tapi kalau musim hujan panjang, bisa sepi. Kadang tidak ada konsumen sama sekali,” ungkapnya.
Lapak ini beroperasi setiap hari dari pukul 10.00 hingga 17.30 WIB. Untuk mempertahankan usahanya, Zulhendri harus membayar biaya kontrak tahunan sebesar Rp 2,5 juta hingga Rp 3 juta untuk lokasi di lantai dua Pasar Raya.
Di balik ketekunannya, terdapat tanggung jawab besar yang ia pikul. Zulhendri berjuang menghidupi keluarga dan menyekolahkan dua anak perempuannya. Anak pertamanya berhasil menyelesaikan pendidikan D3 Akuntansi di Universitas Andalas (Unand). Sementara anak keduanya, lulusan SMA Adabiyah Padang, terpaksa menunda kuliah karena keterbatasan biaya.
“Semua kerja keras ini untuk keluarga. Alhamdulillah, anak pertama sudah sarjana meskipun D3. Anak kedua ingin kuliah, tapi belum bisa karena kondisi biaya,” katanya.
Kisah Zulhendri dan Prima Elektronik menjadi cerminan bahwa keterbatasan pendidikan bukanlah hambatan untuk memiliki keterampilan dan membangun usaha yang bermanfaat. Lapak servis ini bukan sekadar tempat memperbaiki barang rusak, tetapi juga simbol ketekunan, perjuangan, dan harapan yang disandarkan pada kemampuan memperbaiki barang elektronik agar kembali berfungsi.
Prima Elektronik bukan hanya bagian dari dinamika pasar, tetapi juga bagian dari sejarah sosial ekonomi Pasar Raya Padang.
Di tengah perkembangan zaman dan teknologi, lapak kecil ini tetap hadir menjadi tempat masyarakat menggantungkan harapan terhadap barang-barang elektronik yang mati suri, serta menjadi penopang kehidupan keluarga yang tak pernah berhenti berjuang. (*)
Editor : Adetio Purtama