Kondisi tersebut memicu spekulasi di media sosial bahwa pakaian bantuan tidak digunakan pengungsi.
Pengelola posko membantah informasi tersebut dan menegaskan penumpukan terjadi akibat kelebihan pasokan yang jauh melampaui kebutuhan pengungsi, bukan karena penolakan.
Hendriani (54), pemilik rumah sekaligus pengelola posko Batu Busuk, mengatakan pakaian bantuan telah dipilih dan digunakan pengungsi.
“Baju-baju ini dipakai, sudah dipilih semua oleh pengungsi yang ada di sini. Memang sudah banyak sekali yang terpakai,” ujar Hendriani, Senin (15/12/2025).
Ia menambahkan, pakaian yang tersisa merupakan bantuan berlebih.
“Sisanya ini betul-betul baju yang berlebih. Jumlahnya terlalu banyak, jauh melebihi yang kami butuhkan,” katanya.
Menurut pengelola posko, kebutuhan pengungsi kini bergeser ke logistik makanan.
Kondisi tersebut dipicu terputusnya akses jalan menuju kawasan Batu Busuk ujung, yang menyebabkan wilayah itu terisolasi.
Akses jalan setelah jembatan utama dilaporkan terputus sejak Minggu (14/12/2025) subuh, sehingga distribusi bantuan menjadi terkendala.
“Saat ini yang paling mendesak adalah makanan. Batu Busuk ujung sudah tidak bisa dilewati kendaraan sama sekali,” ujar Hendriani.
Pengelola posko mengimbau donatur menyesuaikan bantuan dengan kebutuhan prioritas, yakni bahan makanan pokok, air bersih, dan kebutuhan dapur umum, karena pasokan pakaian dinilai sudah mencukupi.(CR3)
Editor : Hendra Efison