Berdasarkan pantauan Selasa (16/12/2025), harga telur tercatat mencapai level tertinggi dalam beberapa bulan terakhir.
Salah seorang pedagang, Herman (52), mengatakan kenaikan harga telah terjadi secara bertahap sejak sekitar dua bulan lalu dan terus merangkak naik hingga saat ini.
“Sudah lama naiknya ini. Sekitar dua bulan belakangan, harganya merangkak naik terus,” ujar Herman, Selasa (16/12/2025).
Ia menjelaskan, harga telur ayam ras per papan atau isi 30 butir yang sebelumnya berada di kisaran Rp55.000, kini dijual antara Rp60.000 hingga Rp63.000 per papan, tergantung pasokan.
Pedagang lainnya, Aji (47), menyebut lonjakan harga paling terasa dalam dua pekan terakhir.
Menurutnya, kenaikan dipicu tingginya permintaan dari beberapa sektor yang terjadi secara bersamaan.
“Harga naik, terutama sejak dua minggu terakhir ini. Ada tiga hal yang bikin permintaan banyak, seperti Dapur Makan Bergizi Gratis, permintaan bantuan untuk korban bencana, dan karena mau Nataru,” kata Aji.
Aji menilai, selain faktor musiman Nataru, permintaan non-musiman seperti program pemerintah dan bantuan bencana turut memberi tekanan pada ketersediaan pasokan di pasar.
Ia memprediksi harga masih berpotensi naik apabila permintaan tetap tinggi dan distribusi pasokan mulai tersendat.
“Prediksi saya, harga ini ada potensi untuk naik lagi kalau permintaan tetap tinggi dan pasokan mulai tersendat,” ujarnya.
Meski demikian, Aji memastikan pasokan telur yang diterimanya pada Selasa (16/12/2025) masih dalam kondisi aman.
Baca Juga: Gianluigi Donnarumma Dinobatkan sebagai Kiper Terbaik Dunia FIFA The Best 2025
Sementara itu, pedagang lain bernama Yoga (25) menyebut harga telur di lapaknya relatif stabil di angka Rp60.000 per papan.
Ia memperkirakan harga tidak akan kembali naik menjelang Nataru, meski tetap mencermati perkembangan pasar.
“Memang naik beberapa minggu ini. Kalau di tempat saya sekarang Rp60.000 per papan. Saya prediksi tidak akan naik lagi jelang Nataru,” kata Yoga.
Kenaikan harga telur ayam ras yang dipicu tingginya permintaan musiman dan non-musiman ini mendorong harapan pedagang agar pemerintah daerah dapat melakukan langkah stabilisasi guna menjaga keterjangkauan harga pangan bagi masyarakat. (CR3)
Editor : Hendra Efison