Mengki Kurniawan, Padang—
Lukman bukanlah pendatang baru di dunia usaha. Pria asal Pariaman ini sebelumnya dikenal sebagai penjahit andal. Ia sempat membuka jasa jahit di kawasan Pasar Raya Padang dan di rumahnya sendiri.
Namun, seiring berjalannya waktu, pesanan jahitan kian menurun akibat ketatnya persaingan dan perubahan pola konsumsi masyarakat.
Tekanan ekonomi akhirnya memaksa Lukman untuk banting setir. Sejak tahun 2018, ia memutuskan berjualan asinan jambu Bangkok secara keliling. Keputusan itu menjadi titik balik dalam perjalanan hidupnya, meski harus memulai dari nol di usia yang tak lagi muda.
Produk yang ditawarkan Lukman bukan asinan biasa. Ia menggunakan jambu Bangkok atau yang dikenal masyarakat Minangkabau sebagai jambu paraweh. Buah tersebut ia datangkan langsung dari Medan setiap dua pekan sekali dengan jumlah sekitar 150 kilogram. Harga beli jambu berkisar Rp12.000 per kilogram, meski kerap mengalami fluktuasi tergantung ketersediaan di pasaran.
Keunggulan asinan Lukman terletak pada racikan bumbu yang dibuatnya sendiri. Perpaduan rasa asin dan manis yang seimbang menghadirkan sensasi gurih yang khas dan berbeda dari asinan pada umumnya. Tekstur jambu Bangkok yang renyah menjadi pelengkap rasa yang digemari pelanggan.
“Saya pakai bumbu khusus yang saya buat sendiri. Jambu Bangkok ini teksturnya lebih renyah dan harganya lebih terjangkau, jadi cocok dipadukan dengan bumbu saya,” ujar Lukman saat ditemui di kawasan Lolong, Jumat (19/12).
Setiap hari, Lukman memulai aktivitasnya sejak pukul 08.00 WIB. Rute pertamanya adalah kawasan GOR H. Agus Salim. Selepas Zuhur, ia berpindah ke Jalan S. Parman, tepatnya di sekitar Taman Makam Pahlawan Kusuma Bangsa. Menjelang sore, Lukman melanjutkan berjualan di kawasan Pantai Padang atau Taplau hingga sekitar pukul 19.00 WIB.
Ia hanya meliburkan diri jika cuaca tidak memungkinkan atau stok jambu dari Medan belum tiba. Konsistensi tersebut menjadi kunci Lukman bertahan di tengah persaingan dan keterbatasan fisik akibat faktor usia.
Meski usaha asinan jambu Bangkok di Padang relatif minim pesaing, Lukman menghadapi tantangan lain yang tak kalah berat.
Pada tahun 2022, ia sempat mempekerjakan lima orang karyawan dengan sistem permodalan penuh dari dirinya. Namun, kepercayaan itu justru berujung pahit.
Para karyawannya diketahui melakukan penipuan dengan laporan penjualan yang tidak sesuai dengan jumlah asinan yang terjual. Kejadian tersebut meninggalkan luka mendalam dan membuat Lukman kehilangan kepercayaan.
“Dulu ada yang bantu jualkan, tapi saya ditipu. Uang hasil penjualan tidak cocok dengan jumlah asinan yang terjual. Sekarang lebih baik saya kerjakan sendiri saja, lebih tenang rasanya,” kenangnya.
Sejak saat itu, Lukman memilih menjalankan usahanya seorang diri. Meski lebih berat secara fisik, ia merasa lebih aman dan tenang tanpa harus bergantung pada orang lain.
Tantangan lain kembali datang dalam dua tahun terakhir. Omzet penjualannya menurun drastis hingga sekitar 50 persen. Jika sebelumnya ia mampu menjual hingga 40 porsi per hari, kini menjual 20 porsi saja kerap terasa sulit.
Kondisi tersebut diperparah dengan dampak pascabencana alam yang sempat melanda Kota Padang dan menyebabkan daya beli masyarakat menurun.
Satu porsi asinan jambu Bangkok buatan Lukman dijual dengan harga Rp12.000. Harga tersebut dinilai terjangkau, terutama bagi kalangan anak muda yang menjadi pelanggan setianya. Meski keuntungan yang diperoleh tak sebesar dulu, Lukman tetap bertahan demi memenuhi kebutuhan keluarga.
Lukman yang kini tinggal di sekitar kawasan Transmart Padang merupakan ayah dari enam orang anak. Istri pertamanya telah lama meninggal dunia.
Sebelum berpulang, sang istri berpesan agar Lukman membesarkan dan menjaga anak-anak mereka dengan sebaik-baiknya.
Pesan itulah yang hingga kini menjadi sumber kekuatan Lukman. Setiap pagi, amanah tersebut mendorongnya untuk kembali mengayuh motor dan berjualan di jalanan kota.
“Saya berupaya sekuat tenaga untuk anak-anak, ini pesan dari mendiang istri saya. Meskipun jualan sekarang lagi sulit, apalagi habis bencana kemarin pembeli makin sepi, saya tetap syukuri yang ada,” ujarnya sambil membungkus pesanan pembeli. (*)
Editor : Adetio Purtama