Endapan lumpur setinggi hampir satu meter masih menutupi rumah-rumah warga di beberapa kawasan. Lumpur yang telah mengeras seperti beton itu menyulitkan proses pembersihan, sehingga banyak rumah belum layak huni. Akibatnya, sebagian warga hingga kini masih bertahan di lokasi pengungsian atau menumpang di rumah sanak famili.
Kondisi tersebut bukan disebabkan oleh ancaman banjir susulan, melainkan karena keadaan hunian yang belum memungkinkan untuk ditempati kembali. Lumpur yang mengeras membutuhkan tenaga, peralatan, dan waktu lebih lama untuk dapat dibersihkan secara menyeluruh.
Memasuki fase pemulihan (recovery) yang dinilai paling berat, Pemerintah Kota Padang terus mengerahkan personel lintas unsur untuk membantu masyarakat. Pada Senin (22/12) proses pengangkatan endapan lumpur mengeras dilakukan di Kawasan Brandon, Kecamatan Nanggalo.
Kegiatan tersebut dipimpin langsung oleh Kepala Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) Kota Padang bersama jajaran. Personel tampak bekerja mengangkat lumpur yang telah mengeras dari dalam rumah warga agar hunian dapat kembali difungsikan.
Kepala Satpol PP Kota Padang, Chandra Eka Putra mengatakan, tahapan pemulihan saat ini membutuhkan ketekunan dan konsistensi, berbeda dengan fase tanggap darurat yang menuntut kecepatan.
“Saat ini kita memasuki fase pemulihan yang tidak ringan. Lumpur sudah mengeras, tenaga yang dibutuhkan lebih besar, dan prosesnya tidak bisa instan. Namun kami berkomitmen untuk terus hadir membantu warga sampai rumah mereka benar-benar bisa dihuni kembali,” tegas Chandra.
Ia menyampaikan, kehadiran personel di lapangan tidak semata menjalankan tugas kedinasan, tetapi juga merupakan bentuk tanggung jawab moral pemerintah terhadap masyarakat terdampak bencana.
“Selama masih ada warga yang belum bisa kembali ke rumahnya, maka proses pemulihan akan terus kami lakukan. Ini bukan sekadar membersihkan lumpur, tapi memulihkan kehidupan,” ujarnya.
Berbeda dengan hari-hari awal pascabencana yang diwarnai evakuasi dan penyaluran bantuan darurat, fase pemulihan ini menuntut ketahanan fisik dan mental para petugas. Meski berjalan perlahan, upaya tersebut menjadi harapan bagi warga untuk kembali menata kehidupan mereka.
“Pemulihan pascabencana bukan hanya tentang infrastruktur, tetapi juga tentang mengembalikan rasa aman dan martabat hidup masyarakat. Di hari ke-24 pascabanjir dan galodo, upaya ini masih terus berjalan—pelan, berat, namun pasti,” tutup Chandra. (adt)
Editor : Adetio Purtama