Henju menyebut berkurangnya kunjungan wisatawan pascabanjir bandang di Sumatera Barat menjadi faktor utama lesunya penjualan. Wisatawan selama ini merupakan pelanggan utama produk ikan asinnya.
Henju tercatat sebagai satu-satunya pengolah sekaligus penjual ikan asin yang masih bertahan di Kota Padang selama sekitar 20 tahun.
Minimnya pelaku usaha sejenis dipengaruhi proses produksi yang panjang, kebutuhan modal besar, serta perputaran uang yang lambat.
Untuk menjaga arus kas harian, Henju kini juga menjual ikan basah di lapaknya yang beroperasi 24 jam.
Langkah tersebut dilakukan untuk menutup kebutuhan operasional di tengah penurunan penjualan ikan asin.
Harga ikan asin produksi Henju berkisar Rp80.000 hingga Rp100.000 per kilogram.
Meski memiliki daya simpan hingga berbulan-bulan, permintaan dari luar daerah seperti Jambi, Pekanbaru, dan Malaysia hampir tidak ada dalam beberapa waktu terakhir.
“Saat ini kondisinya sulit. Kadang dalam sehari tidak ada transaksi sama sekali. Setelah banjir, pengunjung ke sini jauh berkurang,” kata Henju saat ditemui, Selasa (23/12/2025).
Menurut Henju, waktu pengeringan ikan asin yang mencapai empat hari menjadi tantangan utama usaha ini.
Kondisi tersebut membuat banyak pedagang enggan terjun ke bisnis serupa.
Meski pasar sedang lesu, Henju tetap bertahan karena produk ikan asin tidak mudah rusak.
Ia berharap kondisi pariwisata dan ekonomi lokal segera pulih agar permintaan kembali meningkat.(CR3)
Editor : Hendra Efison