Dampak ini membuat petani kehilangan mata pencaharian sekaligus terjepit utang modal.
Tasar (63), salah satu petani terdampak, mengatakan seluruh lahan jagung, cabai, dan padi miliknya hanyut beberapa hari sebelum panen.
Rumahnya pun ikut terbawa arus. Ia kini menghadapi utang benih sebesar Rp10 juta tanpa aset tersisa.
“Rumah sudah tidak ada, lahan tersisa hanya batu-batu besar. Untuk menanam kembali pun tidak mungkin saat ini,” ujar Tasar.
Harip (62) menambahkan belum adanya bantuan fisik dari pemerintah untuk membenahi lahan.
“Bantuan baru sebatas sembako. Sawah kami sudah jadi sungai batu. Kami gagal panen dan kesulitan memenuhi kebutuhan harian,” katanya.
Sari (56) juga merasakan dampak serius. Kehilangan lahan pertanian berarti hilangnya satu-satunya sumber penghasilan keluarga.
“Semua habis. Lahan hanyut, tanaman rusak, gagal panen total. Tidak tahu lagi harus mengadu ke mana,” ungkapnya.
Para petani memperkirakan dibutuhkan sekitar Rp20 juta per orang untuk memulihkan lahan agar kembali layak tanam, belum termasuk kerusakan alat pertanian dan tempat tinggal.
Kelumpuhan produksi ini mulai memicu kenaikan harga beras di pasar Kota Padang.
Warga berharap pemerintah daerah segera menyalurkan bantuan nyata, terutama alat berat untuk pembersihan lahan dan modal usaha, agar masyarakat dapat bangkit dari kerugian ekonomi dan terlindungi dari potensi banjir di masa depan.(CR3)
Editor : Hendra Efison