Kondisi tersebut tidak hanya menimbulkan kerusakan fisik dan korban terdampak, tetapi juga memberi efek domino terhadap perekonomian masyarakat, termasuk sektor usaha mikro dan kecil.
Salah satu kelompok yang merasakan dampak langsung adalah para pelaku usaha kuliner yang berjualan di sekitar kawasan GOR H Agus Salim, Padang.
Kawasan yang biasanya ramai dikunjungi warga, baik pada hari kerja maupun akhir pekan, mengalami penurunan aktivitas secara signifikan selama periode cuaca ekstrem dan pascabencana.
Hujan deras yang turun hampir setiap hari membuat mobilitas masyarakat terganggu. Warga cenderung memilih bertahan di rumah, sementara daya beli masyarakat turut melemah akibat kondisi ekonomi yang terdampak bencana.
Wahyudi Candra, 42 tahun, pemilik usaha Jamur Mr. Bay yang telah berjualan selama tujuh tahun di seberang pintu masuk Stadion GOR H Agus Salim, mengaku penjualannya anjlok drastis saat bencana melanda.
“Kalau dari waktu bencana namanya ekonomi susah, memang jauh drastis. Kalau dipersentasikan penjualan itu cuma 30 persen karena cuaca dan kondisi orang enggak keluar, namanya bencana kan,” ungkap Wahyudi kepada Padang Ekspres, Kamis (1/1).
Menurutnya, kondisi penjualan pascabencana pun belum sepenuhnya pulih. Ia menyebut peningkatan hanya sekitar 10 persen dibandingkan saat bencana, dan masih jauh dari kondisi normal sebelum siklon hujan panjang terjadi.
Bahkan pada malam pergantian tahun, yang biasanya menjadi momentum peningkatan omzet, penjualan justru mengalami penurunan dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.
“Malam tahun baru kalau dibilang rame sih kurang, karena memang portal ditutup untuk menghindari keramaian. Tetap ada yang belanja, tapi jelas berkurang,” katanya.
Wahyudi menilai kondisi ekonomi yang dialami pelaku usaha saat bencana hingga pascabencana hampir serupa dengan situasi saat pandemi Covid-19 beberapa tahun lalu.
Ia berharap, memasuki tahun 2026 kondisi perekonomian dapat kembali membaik sehingga usaha kecil seperti yang dijalaninya dapat kembali bertahan.
“Untuk kami pelaku usaha, 2026 mudah-mudahan sikon naik kembali, ekonomi normal. Semoga harga bahan pokok juga kembali stabil karena margin sekarang makin tipis,” tutupnya.
Hal senada disampaikan Desniwati, 54 tahun, pemilik usaha Pisang Crispy Ciani yang juga berjualan di kawasan yang sama. Ia mengungkapkan sepanjang 2025 penjualan mengalami penurunan tajam.
Menurutnya, penurunan tersebut dipengaruhi oleh semakin banyaknya usaha kafe baru, serta diperparah oleh bencana dan intensitas hujan yang tinggi.
“Pokoknya sudah masuk 2025 memang penjualan menurun jauh. Mungkin pengaruh banyak kafe baru dan kedua karena bencana, jadi makin parah penjualan,” jelas Desniwati.
Ia menyebutkan, saat bencana terjadi penjualan turun hingga 70 persen. Kondisi tersebut berlanjut hingga pascabencana, tanpa adanya peningkatan yang signifikan.
“Penurunannya itu sampai 70 persen, jauh turunnya karena hujan dan bencana, ekonomi sekarang juga susah,” tuturnya.
Desniwati berharap, tren penjualan di tahun 2026 dapat kembali membaik, seiring membaiknya kondisi ekonomi masyarakat dan stabilnya harga bahan baku.
Pedagang lainnya, Hendrika, 31 tahun, yang telah berjualan di kawasan GOR H Agus Salim selama 10 tahun dengan berbagai jenis usaha kuliner, juga merasakan hal serupa.
Ia menjelaskan, pada awal 2025 penjualan masih tergolong normal. Namun, memasuki bulan kelima, daya beli masyarakat mulai menurun dan berdampak langsung terhadap omzet usahanya.
Saat bencana terjadi, Hendrika bahkan memilih menutup gerainya selama hampir dua minggu karena kondisi cuaca yang tidak memungkinkan.
“Awal tahun masih normal, tapi masuk bulan ke-5 daya beli orang sudah kurang. Waktu bencana kita libur sekitar 12 hari, tidak jualan sama sekali. Habis itu jualan lagi, penjualan menurun sekitar 50 persen,” ujarnya.
Selama tidak berjualan, ia mengandalkan tabungan pribadi untuk memenuhi kebutuhan hidup. Dalam dua pekan terakhir, penjualan mulai menunjukkan peningkatan seiring libur sekolah.
“Baru dua minggu ini naik karena anak-anak sekolah libur. Kalau anak sekolah libur biasanya penjualan naik, apalagi yang datang dari luar kota,” katanya.
Jika dibandingkan dengan libur Natal dan Tahun Baru 2024, Hendrika menilai penjualan pada periode yang sama di 2025 mengalami penurunan. Namun, khusus untuk malam tahun baru, omzet dinilai relatif sama.
Selain persoalan penurunan penjualan, ketiga pelaku usaha tersebut juga menyimpan kekhawatiran lain memasuki awal 2026.
Berdasarkan informasi yang mereka terima, GOR H Agus Salim direncanakan akan menjalani proses renovasi pada 2026. Rencana tersebut sebelumnya dijadwalkan pada November 2025, namun tertunda akibat bencana.
Kekhawatiran muncul terkait kejelasan nasib para pedagang yang berjualan di sisi jalan kawasan GOR tersebut selama masa renovasi berlangsung.
Hingga berita ini diturunkan, belum ada kepastian apakah para pedagang masih diperbolehkan berjualan atau harus direlokasi sementara.
Para pelaku usaha berharap, meskipun renovasi dilakukan, mereka tetap diberikan ruang untuk berjualan, mengingat kawasan tersebut menjadi sumber penghidupan utama bagi mereka dari hari ke hari. (cr4)
Editor : Adetio Purtama