Riyadhatul Khalbi, Alai—
Keputusan tersebut diambil Marlius pada 2020, saat pandemi Covid-19 melumpuhkan banyak sektor usaha. Penjualan ikan yang kian menurun, persaingan yang semakin ketat, serta kepergian orangtuanya menjadi alasan utama baginya untuk beralih profesi dan melanjutkan usaha keluarga.
“Jual ikan sudah susah sekali. Sudah mentok dan akhirnya nyerah. Orangtua juga sudah tidak ada, jadi saya putuskan untuk nerusin usaha ini. Waktu itu Covid, ya tetap dijalani saja dengan keyakinan,” ujar Marlius kepada Padang Ekspres, Minggu (4/1).
Marlius menilai usaha jasa reparasi sepatu dan sandal memiliki kebutuhan yang lebih berkelanjutan dibanding berdagang ikan. Pelanggan tidak harus datang khusus ke pasar, tetapi bisa berasal dari siapa saja yang melintas dan membutuhkan perbaikan alas kaki.
Pada awal menjalankan usaha, pelanggan masih terbatas. Namun, meski berada di tengah situasi pandemi, selalu ada saja warga yang datang memperbaiki sepatu atau sandal. Penghasilan yang didapat setidaknya cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Awalnya, Ainun Reparasi beroperasi di bawah tangga UPTD Pasar Alai. Setelah dua tahun berdagang di lokasi tersebut, Marlius harus pindah karena tidak lagi diizinkan berjualan di sana.
Ia kemudian menempati salah satu blok di dalam pasar, sebelum akhirnya berdagang dengan menumpang di depan sebuah ruko yang belum dihuni hingga saat ini. “Kalau ruko itu nanti sudah diisi, saya harus cari tempat lagi,” katanya.
Tak hanya pandemi, tantangan kembali datang saat cuaca ekstrem melanda Sumatera Barat pada 2025. Hujan berintensitas tinggi yang berlangsung berhari-hari menyebabkan banjir dan longsor di sejumlah wilayah, membuat aktivitas pasar sepi pengunjung.
Pada awal cuaca ekstrem, Marlius sempat tetap membuka usahanya. Namun minimnya pembeli membuatnya lebih banyak menunggu tanpa hasil. Ia pun memilih menutup sementara usahanya hingga kondisi membaik.
“Orang lagi terdampak bencana, mana mungkin mikirin sepatu atau sandal yang rusak. Jadi saya putuskan tutup dulu sampai kondisi normal,” tuturnya.
Memasuki Desember 2025, usahanya mulai kembali berjalan normal. Awal tahun 2026 membawa harapan baru seiring dimulainya kembali aktivitas sekolah. Banyak orangtua datang memperbaiki sepatu sekolah anak-anak mereka.
Dalam menjalankan usahanya, Marlius mematok tarif jasa berdasarkan jenis dan tingkat kesulitan reparasi. Untuk perbaikan ringan, harga berkisar Rp 20 ribu hingga Rp 25 ribu. Sementara reparasi dengan tingkat kesulitan lebih tinggi, seperti sepatu bersol keras atau sepatu sepak bola, tarif bisa mencapai Rp 35 ribu.
Selama lima tahun menjalani usaha ini, Marlius juga kerap menghadapi persoalan pelanggan yang tidak kunjung menjemput sepatu atau sandal yang telah selesai diperbaiki.
Barang-barang tersebut bahkan ada yang menumpuk di tempat usahanya hingga berbulan-bulan, bahkan hampir setahun. “Saya tidak enak minta biaya di awal, nanti dibilang tidak percaya,” ujarnya.
Untuk barang yang tidak kunjung diambil, Marlius mengaku terpaksa menjualnya jika ada pembeli. Pasalnya, ia telah mengeluarkan modal untuk reparasi tanpa mendapatkan upah.
Meski begitu, ada pula kisah-kisah manis yang ia rasakan. Sejumlah pelanggan setia kerap memperbaiki sepatu dalam jumlah banyak, bahkan meminta Marlius mengantarkan langsung ke rumah karena keterbatasan waktu. Tak jarang pula pelanggan memberikan uang lebih sebagai bentuk apresiasi atas hasil reparasi yang dinilai memuaskan.
“Kadang jasanya cuma Rp 25 ribu, tapi dibayar Rp 50 ribu dan uang kembaliannya disuruh simpan,” katanya sambil tersenyum.
Di awal tahun 2026 ini, Marlius berharap Ainun Reparasi dapat terus bertahan dan berkembang. Ia ingin tetap menjaga kualitas hasil reparasi agar semakin banyak masyarakat yang mempercayakan perbaikan sepatu dan sandal kepadanya. (*)
Editor : Adetio Purtama