Imelda menyebutkan, kasus kekerasan terhadap anak pada 2025 tercatat 61 kasus. Pada 2024 jumlahnya 78 kasus.
Sementara kasus kekerasan terhadap perempuan pada 2025 tercatat 21 kasus. Pada 2024 angkanya sekitar 31 kasus.
Imelda menjelaskan jenis kekerasan yang dialami perempuan dan anak beragam, mulai dari KDRT, kekerasan fisik, psikis, seksual, penelantaran hingga eksploitasi.
Meski turun, ia menegaskan kasus kekerasan tetap harus menjadi perhatian karena masih banyak yang tidak terungkap.
“Ada dua faktor, bisa jadi karena kasusnya memang menurun atau banyak kasus yang belum terungkap atau dilaporkan,” kata Imelda.
Ia menegaskan DP3AP2KB Kota Padang terus menjalankan tugas perlindungan bagi korban perempuan dan anak.
Salah satu langkah pencegahan dilakukan melalui sosialisasi ke masyarakat dan sekolah-sekolah.
“Pemuatan pencegahan kekerasan juga akan kami lakukan dalam kegiatan Pesantren Ramadan tahun ini melalui edukasi dan sosialisasi kepada anak-anak,” ujarnya.
Ia meminta masyarakat tetap waspada karena kekerasan dapat terjadi kapan saja dan di mana saja.
Imelda juga mendorong korban untuk berani melapor agar penanganan cepat dilakukan.
“Kami menyediakan layanan konsultasi dan pemulihan mental bagi korban. Kami butuh peran masyarakat karena banyak korban takut melapor akibat ancaman,” tuturnya.
DP3AP2KB Kota Padang mengimbau masyarakat dan LSM peduli anak-perempuan untuk bersama mencegah dan menangani kasus kekerasan di Kota Padang.(yud)
Editor : Hendra Efison