Indonesia Sumbar Bisnis Olahraga Gaya Hidup Harian Magazine Otomotif Pariwisata Features Internasional Opini Advertorial Pendidikan Buku & Film Hiburan Kesehatan

Wajah Baru Pasar Raya Padang: Trotoar Lega, PKL Khawatir Dapur Terancam

Mengki Kurniawan • Selasa, 10 Februari 2026 | 11:43 WIB

Kawasan Pasar Raya Padang yang kini lebih tertib, namun menyisakan kegelisahan bagi pedagang selasar, Selasa (10/2/2026).
Kawasan Pasar Raya Padang yang kini lebih tertib, namun menyisakan kegelisahan bagi pedagang selasar, Selasa (10/2/2026).
PADEK.JAWAPOS.COM—Kawasan utama Pasar Raya Padang menampilkan wajah baru yang lebih tertib dan lapang, Selasa (10/2/2026). Pasca-penertiban oleh Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) Kota Padang, trotoar di sepanjang ruko yang sebelumnya dipenuhi tenda Pedagang Kaki Lima (PKL) kini tampak bersih dan bebas hambatan.

Perubahan tersebut berdampak signifikan terhadap kelancaran arus lalu lintas. Kemacetan yang kerap terjadi di jalan utama Pasar Raya berkurang drastis, sementara area parkir di bahu jalan terlihat lebih teratur. Kondisi ini menciptakan suasana pasar yang dinilai lebih nyaman dan ramah bagi pengunjung.

Sejumlah warga menyambut positif penataan tersebut. Des (38), salah seorang pengunjung, mengaku merasa lebih tenang berbelanja di tengah suasana pasar yang tertib. Menurutnya, kelancaran lalu lintas turut memengaruhi kenyamanan psikologis pengunjung.

“Arus lalu lintas lancar membuat pikiran tenang. Kadang kalau pulang kerja lalu ke pasar yang semrawut, rasanya malah makin capek,” ujarnya.

Meski demikian, di balik kenyamanan yang dirasakan pengunjung, muncul ironi bagi para pedagang yang terdampak penertiban. Des mengaku prihatin melihat para PKL selasar yang kini kehilangan tempat berjualan.

Ia berharap pemerintah tidak hanya fokus pada penataan, tetapi juga menghadirkan solusi yang adil bagi pedagang.

“Pengunjung memang nyaman, tapi pedagang juga harus tetap hidup. Semoga ada jalan tengah yang masuk akal,” katanya.

Relokasi PKL ke dalam Gedung Fase VII Pasar Raya Padang justru memicu penolakan dari para pedagang. Asad (42), salah seorang PKL, menilai lokasi tersebut tidak strategis karena berada di dalam gedung dan minim lalu lintas pembeli.

“Dagangan kami bergantung pada orang yang lewat. Kalau masuk ke dalam, pembeli tidak melihat kami. Ini sama saja mematikan dapur kami pelan-pelan,” ujarnya dengan nada kecewa.

Selain lokasi yang dinilai tertutup, pedagang juga mengeluhkan kondisi Gedung Fase VII yang sudah padat. Keterbatasan ruang dikhawatirkan memicu gesekan antarpedagang dan menghambat aktivitas jual beli. Ukuran lapak yang kecil pun dianggap tidak memadai untuk menyimpan stok barang.

Persoalan biaya sewa turut menjadi beban tersendiri. Di tengah kondisi ekonomi yang belum sepenuhnya pulih, tarif sewa dinilai terlalu tinggi dan tidak sebanding dengan potensi pendapatan yang diperoleh pedagang.

Para PKL menegaskan bahwa mereka tidak menolak penataan kota. Namun, mereka berharap adanya pembinaan dan pengaturan yang lebih manusiawi, seperti penataan selasar secara rapi tanpa harus memindahkan seluruh pedagang ke dalam gedung.

Aksi protes yang dilakukan pedagang disebut sebagai bentuk perjuangan mempertahankan mata pencaharian. Mereka meminta Pemerintah Kota Padang meninjau ulang kebijakan relokasi dan mencari solusi yang tidak mengorbankan pedagang kecil sebagai penggerak ekonomi pasar.

Kini, tantangan berada di tangan Pemko Padang untuk menjaga wajah Pasar Raya tetap tertib dan modern, sekaligus memastikan para pedagang kecil tetap dapat bertahan hidup tanpa kehilangan sumber penghidupan. (cr3)

 

Editor : Adetio Purtama
#trotoar #pasar raya padang #wajah baru