Program bertajuk SUMATERA SURVIVE Trauma Healing #11 tersebut diinisiasi Dangau Studio berkolaborasi dengan TDA Padang serta didukung sejumlah komunitas dan relawan.
Kegiatan difokuskan pada pemulihan mental anak-anak terdampak sekaligus penguatan lingkungan pascabencana melalui aksi nyata yang melibatkan partisipasi aktif warga dan relawan.
Founder Dangau Studio, Budi Irwandi, mengatakan trauma healing menjadi kebutuhan penting bagi anak-anak agar tidak berlarut dalam tekanan psikologis akibat peristiwa bencana yang mereka alami.
“Kami memberikan ruang aman bagi anak-anak untuk mengekspresikan perasaan mereka melalui pendekatan kreatif dan menyenangkan,” ujar Budi.
Kegiatan diawali dengan salat Dhuha berjamaah yang diikuti anak-anak dan relawan sebagai bentuk penguatan spiritual sebelum memasuki sesi utama.
Setelah itu, peserta mengikuti ice breaking untuk membangun suasana ceria dan menghilangkan rasa canggung, sehingga anak-anak lebih siap mengikuti rangkaian kegiatan berikutnya.
Pada sesi inti, anak-anak mengikuti Art Therapy Dangau, yakni kegiatan menggambar dan mencoret sebagai media untuk menyalurkan emosi serta pengalaman yang dirasakan selama bencana.
Menurut Budi, metode art therapy dipilih karena lebih mudah diterima anak-anak dan memungkinkan mereka menyampaikan cerita tanpa harus merasa tertekan oleh pertanyaan langsung.
“Lewat gambar, mereka bisa bercerita tanpa harus merasa tertekan. Ini bagian dari proses pemulihan mental secara bertahap,” katanya.
Selain pendampingan psikososial, kegiatan juga diisi dengan aksi tanam pohon melalui program Kebun Warga Bencana yang berlangsung sejak pukul 10.00 WIB hingga menjelang Magrib.
Sebanyak 1.000 bibit serai, 1.000 bibit kunyit, dan 1.000 bibit ubi kayu, serta berbagai tanaman produktif lainnya ditanam di sekitar lokasi terdampak.
Bibit tersebut didukung Rimbo Andalas Project sebagai bagian dari upaya penghijauan sekaligus penguatan ketahanan pangan warga di kawasan terdampak bencana.
Kegiatan tanam pohon ini juga menjadi sarana edukasi bagi anak-anak dan masyarakat tentang pentingnya menjaga lingkungan pascabencana melalui aksi bersama yang berkelanjutan.
Interaksi antara relawan dan warga berlangsung aktif selama proses penanaman, menciptakan suasana kolaboratif dalam membangun kembali lingkungan sekitar.
Budi berharap kolaborasi ini terus berlanjut untuk mendampingi masyarakat hingga benar-benar pulih secara mental maupun lingkungan.
“Pemulihan bukan hanya membangun fisik, tetapi juga memulihkan mental dan lingkungan. Itu yang kami dorong bersama,” tutupnya.(*)
Editor : Hendra Efison