Di bulan suci Ramadhan, lokasi ini bertransformasi menjadi pasar pabukoan raksasa yang menyedot ribuan pengunjung setiap harinya.
Berdasarkan pantauan di lapangan pada Rabu (25/2/2026) sore, geliat aktivitas jual beli mulai tampak sejak pukul 16.00 WIB.
Ratusan pedagang makanan dan minuman bersiap di balik tenda-tenda yang berjejer rapi di sepanjang kawasan Sendik Pasar Baru hingga mendekati gerbang kampus.
Kawasan ini dikenal sebagai oase kuliner bagi mahasiswa dan warga sekitar pada hari biasa.
Namun, selama Ramadhan, jumlah pedagang dan pembeli meningkat berkali-kali lipat sehingga menciptakan suasana meriah sekaligus padat di sepanjang ruas jalan utama menuju kampus Universitas Andalas.
Beragam kuliner khas Ramadan mudah dijumpai, mulai dari takjil manis seperti kolak, cendol, dan es buah hingga makanan berat seperti sate Padang dan ayam bakar.
Aroma masakan yang menyeruak dari lapak-lapak pedagang menjadi daya tarik utama bagi pencari menu berbuka puasa.
Tingginya antusiasme masyarakat berdampak langsung pada arus lalu lintas. Kemacetan panjang tak terelakkan di sepanjang Jalan Dr. Moh. Hatta karena banyaknya kendaraan yang parkir di bahu jalan serta padatnya pejalan kaki.
Kerumunan didominasi mahasiswa yang tinggal di wilayah Pauh dan sekitarnya. Bagi mereka, Pasar Baru menjadi pilihan praktis untuk mendapatkan takjil dengan harga yang relatif terjangkau bagi anak kos.
Nabila (19), seorang mahasiswi yang ditemui di lokasi, mengaku hampir setiap sore datang ke kawasan tersebut. Baginya, ragam pilihan kuliner menjadi alasan utama meskipun harus bersabar menghadapi kepadatan.
"Saya selalu menyempatkan diri ke sini tiap sore untuk berburu takjil. Di sini pilihannya sangat banyak dan menggugah selera, apalagi saat puasa begini. Ya, meskipun kadang harus mengeluh karena macet dan berdesakan dengan pembeli lain," ujar Nabila, Rabu (25/2/2026) sore.
Baca Juga: Prakiraan Cuaca Sumatera Barat 26–28 Februari 2026: Ada Potensi Hujan Sedang hingga Lebat
Kondisi berdesakan menjadi tantangan tersendiri bagi pengunjung. Ruas jalan yang tidak terlalu lebar harus menampung arus kendaraan sekaligus ribuan orang yang mengantre di depan lapak pedagang kuliner.
Berbeda dengan Nabila, Hamdi (20) memiliki strategi agar tetap nyaman berbelanja. Ia memilih lapak yang berada di bagian pinggir atau ruas jalan yang tidak terlalu padat untuk menghindari kemacetan dan desak-desakan.
"Saya tetap memilih membeli takjil di kawasan ini, tapi biasanya mencari yang di ruas jalan agak ujung yang tidak terlalu ramai. Ini cara saya menghindari kemacetan dan desak-desakan yang terlalu parah," ungkap Hamdi saat memilih menu berbuka.
Para pedagang meraup keuntungan selama momentum Ramadan. Meski persaingan cukup ketat karena banyaknya jenis makanan serupa, arus pembeli yang tidak terputus membuat dagangan cepat habis sebelum waktu magrib tiba.
Hingga azan magrib berkumandang, kawasan Pasar Baru Unand tetap dipadati masyarakat. Petugas keamanan dan warga sekitar berupaya mengatur lalu lintas agar kemacetan tidak terkunci total di titik-titik persimpangan jalan utama demi kenyamanan bersama. (cr3)
Editor : Hendra Efison