Indonesia Sumbar Bisnis Olahraga Gaya Hidup Harian Magazine Otomotif Pariwisata Features Internasional Opini Advertorial Pendidikan Buku & Film Hiburan Kesehatan

Masjid Raya Ganting Disorot: Oase Religi di Padang, Jamaah Usul Penataan dan Fasilitas Ditingkatkan

Mengki Kurniawan • Senin, 2 Maret 2026 | 20:40 WIB

Masjid Raya Ganting Padang disorot jamaah. Fasilitas, ketertiban, dan pusat informasi sejarah diusulkan untuk ditingkatkan.
Masjid Raya Ganting Padang disorot jamaah. Fasilitas, ketertiban, dan pusat informasi sejarah diusulkan untuk ditingkatkan.
PADEK.JAWAPOS.COM—Masjid Raya Ganting di Kelurahan Ganting Parak Gadang, Kecamatan Padang Timur, kembali menjadi perhatian warga.

Masjid tertua di Kota Padang ini bertransformasi menjadi oase religi bagi umat Muslim yang mencari ketenangan ibadah di tengah cuaca kota yang terik.

Bangunan bersejarah yang didirikan pertama kali pada 1700-an dan dipindahkan ke lokasi saat ini pada 1805 tersebut, bukan sekadar tempat salat.

Masjid ini menjadi saksi perjalanan panjang sejarah Sumatera Barat dengan arsitektur unik yang memadukan gaya Neoklasik Eropa pada pilar, sentuhan Tiongkok pada atap, serta nuansa Persia dan Arab di bagian interior.

Pada Senin (2/3/2026), suasana masjid tampak ramai oleh jamaah yang menunaikan salat Zuhur. Salah seorang jamaah asal Kabupaten Agam, Ahmad (27), sengaja singgah untuk beribadah di sela kunjungannya ke ibu kota provinsi.

Menurut Ahmad, nilai historis Masjid Raya Ganting masih sangat terasa dan keasliannya tetap terjaga hingga kini.

Namun, ia memberikan sejumlah catatan terkait kenyamanan jamaah, terutama karena masjid ini menyandang status Cagar Budaya Nasional yang seharusnya diimbangi dengan pengelolaan fasilitas penunjang yang lebih baik.

"Kesan saya terhadap masjid ini cukup baik, terutama nilai sejarahnya yang sangat terasa. Namun, suasana yang ramai dan ribut suara anak-anak terkadang kurang mendukung ibadah yang lebih nyaman dan khusyuk. Sepertinya perlu ada aturan tertulis untuk menjaga ketertiban jamaah agar suasana tetap tenang," ujar Ahmad usai menjalankan salat, Senin (2/3/2026).

Selain ketenangan, ia menyoroti ketiadaan pendingin ruangan (AC) di dalam masjid yang selama ini hanya mengandalkan sirkulasi udara alami dan kipas angin.

Bunyi kipas angin, menurutnya, justru cukup mengganggu konsentrasi saat beribadah, sehingga ia berharap pengelola dapat mulai memikirkan integrasi fasilitas modern tanpa merusak nilai otentik bangunan bersejarah tersebut.

Ahmad juga menilai penataan fasilitas seperti karpet, buku-buku, dan Al-Qur'an masih kurang rapi meskipun secara umum area masjid tergolong bersih.

Kondisi itu, katanya, memberi kesan manajemen fasilitas masih standar dan belum dikelola secara profesional untuk menyambut jamaah dalam jumlah besar, terutama dari luar daerah.

"Otentik itu tidak harus membatasi fasilitas modern. Saya berharap masjid ini bisa memberikan kesan otentik dengan meningkatkan nilai melalui fasilitas penunjang seperti AC dan penataan karpet yang lebih baik. Kebersihan lumayan, tapi kurang tertata saja, sehingga terlihat agak semrawut di beberapa sudut," tambahnya.

Ia juga mengusulkan penyediaan perpustakaan arsip atau pusat informasi sejarah di area masjid agar jamaah, khususnya musafir, dapat mempelajari perjalanan panjang bangunan tersebut.

Masjid ini tercatat pernah menjadi tempat perlindungan Presiden Soekarno pada 1942 saat menghindari kejaran tentara Belanda.

Kekuatan struktur bangunan turut menjadi sorotan, karena Masjid Raya Ganting tetap berdiri kokoh saat gempa besar 2005 dan 2009 melanda, meski sempat mengalami kerusakan ringan pada bagian plafon dan dinding luar.

Dengan 27 tiang beton yang menopang bangunan, masjid ini dinilai tangguh dibandingkan sejumlah bangunan modern di sekitarnya yang runtuh.

Sebagai bangunan yang dilindungi undang-undang, setiap pembenahan harus dilakukan secara hati-hati agar tidak mengubah bentuk asli.

Namun, peningkatan tata kelola, fasilitas modern, serta aturan tertib jamaah diharapkan dapat menjadikan Masjid Raya Ganting tidak hanya dikenal karena usia dan sejarahnya, tetapi juga sebagai pusat peradaban Islam yang nyaman dan informatif.(*)

Editor : Hendra Efison
#cagar budaya nasional #sejarah Masjid Ganting #Masjid tertua di Padang #Masjid Raya Ganting