Berdasarkan pantauan di lokasi pada Jumat (6/3/2026), kawasan yang biasanya menjadi destinasi favorit warga untuk bersantai itu tampak kumuh akibat sisa material yang terbawa arus banjir beberapa bulan lalu.
Meski bencana telah berlalu sekitar empat bulan, proses pembersihan belum sepenuhnya tuntas. Pemandangan laut yang biasanya menjadi daya tarik wisata kini terganggu oleh tumpukan sampah yang berserakan di sepanjang garis pantai.
Sampah yang menumpuk di kawasan tersebut didominasi oleh dua jenis material utama, yakni sampah rumah tangga dan limbah kayu. Potongan batang pohon berukuran besar hingga ranting-ranting kayu terlihat tertimbun pasir pantai, bercampur dengan kemasan plastik yang terbawa arus dari hulu sungai saat banjir besar terjadi.
Seorang warga sekitar kawasan Purus, Herman (42), mengatakan bahwa pembersihan sebenarnya sudah pernah dilakukan oleh petugas kebersihan. Namun volume sampah yang sangat banyak membuat proses pembersihan membutuhkan waktu yang lama.
“Sampah ini sebenarnya pernah dibersihkan oleh petugas sebelum masuk bulan puasa kemarin. Seingat saya sudah cukup lama proses pembersihan besar-besaran itu dilakukan,” ujar Herman.
Ia menambahkan, jika dibandingkan dengan kondisi awal setelah galodo pada November lalu, jumlah sampah memang sudah berkurang cukup banyak.
“Dulu sampahnya menggunung sampai menutup akses jalan dan bibir pantai. Sekarang sudah agak berkurang, meskipun belum benar-benar bersih,” katanya.
Meski begitu, dampak terhadap sektor pariwisata masih sangat terasa. Kawasan pantai yang biasanya ramai oleh wisatawan lokal maupun pengunjung dari luar daerah kini terlihat jauh lebih sepi.
Menurut Herman, jumlah pengunjung menurun drastis karena kondisi pantai yang belum bersih sepenuhnya.
“Ini sangat berdampak terhadap aktivitas wisata di sini. Karena kondisi pantai kotor, wisatawan yang datang jauh berkurang. Sekarang yang sering datang hanya orang-orang yang memancing saja,” keluhnya.
Lesunya kunjungan wisata juga berdampak langsung terhadap perekonomian warga sekitar. Pedagang kecil dan pelaku usaha yang menggantungkan penghasilan dari sektor pariwisata mengaku mengalami penurunan pendapatan.
Warga berharap pemerintah daerah dapat kembali melakukan pembersihan secara menyeluruh agar kondisi pantai segera pulih dan aktivitas wisata kembali hidup.
“Harapan kami tentu pantai ini bisa dibersihkan secara total supaya wisata kembali ramai. Kalau pantai sudah bersih seperti dulu, ekonomi warga juga bisa kembali berputar,” tutup Herman. (cr3)
Editor : Adetio Purtama