PURUS—Nelayan di kawasan Pantai Purus, Kota Padang, menghadapi tekanan akibat cuaca buruk dan menurunnya hasil tangkapan ikan dalam sepekan terakhir. Kondisi ini berdampak pada pendapatan yang ikut menurun, sementara biaya operasional tetap tinggi.
Pantauan di lokasi pada Jumat (3/4/2026) menunjukkan aktivitas nelayan cenderung menurun. Sejumlah perahu masih tertambat di pesisir, sementara sebagian nelayan lainnya memilih memperbaiki jaring dan perlengkapan melaut.
Ketua Kelompok Nelayan Pantai Purus, Imam (63), mengatakan dalam kondisi normal nelayan dapat melaut hampir setiap hari. Namun, gelombang tinggi dan hujan yang terus terjadi membuat aktivitas tersebut terbatas.
“Kalau cuaca tidak memungkinkan, kami tidak bisa memaksakan melaut. Keselamatan tetap jadi yang utama,” ujarnya.
Baca Juga: Pantai Muaro Lasak Dipenuhi Sampah, Wisatawan Lebaran Menurun
Hasil Tangkapan Menurun
Selain faktor cuaca, Imam menjelaskan fenomena terang bulan turut memengaruhi hasil tangkapan. Ikan menjadi menyebar dan sulit ditangkap, sehingga hasil melaut berkurang.
“Sekarang ini memang lagi terang bulan. Ikan jadi menyebar, jadi lebih sulit ditangkap. Ditambah cuaca buruk, lengkap sudah kendala kami,” katanya.
Nelayan lainnya, Irul (48), mengaku pendapatannya menurun signifikan. Jika sebelumnya ia bisa memperoleh hingga Rp500 ribu per sekali melaut, kini hanya sekitar Rp300 ribu.
“Penurunannya bisa sampai 30 sampai 35 persen. Itu sangat terasa bagi kami,” ungkapnya.
Baca Juga: Aparat Pemkab Pasaman Barat Bersihkan Pantai Usai Lebaran, Sampah Wisata Diangkut
Biaya Tetap, Pendapatan Menyusut
Irul menambahkan, biaya operasional melaut seperti bahan bakar tetap harus dikeluarkan meskipun hasil tangkapan menurun. Kondisi ini membuat sebagian nelayan hanya mencapai titik impas, bahkan berpotensi merugi.
“Kalau hasil sedikit, sementara biaya tetap, kadang kami cuma balik modal, bahkan bisa rugi,” ujarnya.
Selain itu, waktu melaut juga menjadi lebih terbatas. Nelayan harus kembali lebih cepat ke darat untuk menghindari risiko gelombang tinggi.
“Sekarang melaut juga tidak bisa lama. Kami harus cepat pulang karena takut ombak makin besar,” jelasnya.
Sebagian nelayan bahkan memilih tidak melaut sementara waktu, karena mempertimbangkan risiko dan biaya yang tidak sebanding dengan hasil.
Baca Juga: Nasi Uduk Uni Emi Lubuk Minturun Ramai, Dari Lapak Kini Sewa Ruko
Harapan Dukungan dan Informasi Cuaca
Imam berharap adanya perhatian dari pemerintah untuk membantu meringankan beban nelayan, terutama melalui dukungan seperti subsidi bahan bakar.
“Kalau bisa ada bantuan atau kebijakan yang membantu kami bertahan di kondisi seperti ini,” harapnya.
Ia juga menekankan pentingnya akses informasi cuaca yang akurat dan cepat agar nelayan dapat merencanakan aktivitas melaut dengan lebih baik.
Kondisi ini menunjukkan tantangan yang dihadapi nelayan tradisional ketika cuaca buruk dan fenomena alam terjadi bersamaan. Meski demikian, para nelayan tetap berupaya bertahan sambil menunggu kondisi kembali normal.(*)
Editor : Hendra Efison