PADANG--Pembangunan hunian tetap (huntap) berbasis Semen Padang Bata Interlock (Sepablock) menunjukkan percepatan signifikan, dengan target penyelesaian rumah contoh hanya dalam waktu 10 hari kerja.
Kecepatan tersebut menjadi lompatan besar dibanding metode konstruksi konvensional yang membutuhkan waktu lebih lama dalam proses pembangunan hunian pascabencana.
Wali Kota Padang Fadly Amran mengakui efektivitas penggunaan Sepablock yang dinilai mampu mempercepat pembangunan huntap di berbagai lokasi di Kota Padang.
“Saya saksikan sendiri pengerjaan huntap dengan Sepablock sangat cepat, bahkan bisa selesai dalam hitungan hari. Ini solusi konkret untuk percepatan pemulihan pascabencana,” ujar Fadly saat peletakan batu pertama rumah contoh huntap mandiri di Kampung Tangah, Kelurahan Sungai Sarik, Kecamatan Kuranji, Kota Padang, Selasa (7/4/2026).
Baca Juga: Wagub Sumbar Dorong Investasi Padat Karya, Target Rp13,3 Triliun untuk Serap Tenaga Kerja
Direktur Operasi PT Semen Padang, Andria Delfa, menyatakan bahwa peningkatan penggunaan Sepablock di berbagai daerah menunjukkan tingginya kepercayaan terhadap inovasi konstruksi lokal tersebut.
Menurutnya, Sepablock tidak hanya menjadi solusi di Sumatera Barat, tetapi juga mulai diadopsi secara nasional untuk menjawab kebutuhan pembangunan di wilayah rawan bencana dengan pendekatan yang lebih efisien dan terukur.
“Kami melihat Sepablock kini tidak hanya menjadi solusi di Sumbar, tetapi mulai diadopsi secara nasional. Ini menunjukkan bahwa inovasi lokal mampu menjawab tantangan pembangunan di wilayah rawan bencana,” katanya.
Ia menjelaskan, Sepablock dirancang untuk memenuhi tiga kebutuhan utama pembangunan huntap, yakni kecepatan, ketahanan, dan efisiensi, serta telah memenuhi standar nasional dari Kementerian PUPR dengan karakteristik ramah gempa.
Baca Juga: Huntap Sepablock di Padang Dipuji, Yayasan Buddha Tzu Chi Apresiasi Dukungan SIG dan Semen Padang
Di Sumatera Barat, tren penggunaan Sepablock terus meningkat, termasuk pembangunan 10 unit huntap oleh Kadin di Koto Tuo, Kecamatan Pauh, serta proyek hunian oleh Yayasan Buddha Tzu Chi di Air Dingin, Koto Tangah, dan di Kabupaten Agam.
Penggunaan yang semakin luas tersebut menunjukkan pergeseran pola pembangunan huntap di Indonesia dari metode konvensional menuju teknologi konstruksi modern yang lebih cepat dan tangguh dalam menghadapi risiko bencana.
Bagi masyarakat terdampak, kehadiran hunian berbasis Sepablock memberikan harapan baru untuk kembali memiliki tempat tinggal dalam waktu singkat setelah kehilangan akibat bencana.
Baca Juga: Indosat Gandeng Google, Hadirkan Akses Gemini AI untuk Pelanggan IM3 dan Tri
Agusman (46), salah satu penerima manfaat, mengaku bersyukur karena pembangunan rumahnya dapat segera diselesaikan dalam waktu singkat setelah hanyut akibat banjir.
“Rumah kami hanyut akibat banjir. Sekarang kami punya harapan baru. Kalau bisa selesai 10 hari, kami bisa segera menempati rumah ini,” ujarnya.
Dengan dukungan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), pemerintah daerah, serta berbagai pemangku kepentingan, Sepablock kini berkembang dari sekadar produk menjadi salah satu standar baru dalam pembangunan hunian tetap pascabencana di Indonesia.(*)
Editor : Hendra Efison