PADEK.JAWAPOS.COM– Pemerintah Kota Padang mulai mengerjakan perbaikan irigasi Lubukminturun Padang di Kecamatan Kototangah sebagai langkah mempercepat pemulihan sektor pertanian pascabencana hidrometeorologi.
Perbaikan intake Daerah Irigasi (DI) tersebut diharapkan mampu mengembalikan aliran air ke sawah dan ladang warga yang sempat terhenti sejak akhir 2025.
Pengerjaan dilakukan oleh Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) bersama Pemerintah Kecamatan Kototangah sebagai respons atas keluhan para petani yang kehilangan pasokan air akibat rusaknya sistem pengairan.
Perbaikan Irigasi Lubukminturun Padang Fokus Pulihkan Aliran Air
Kerusakan jaringan irigasi dipicu bencana hidrometeorologi yang melanda kawasan tersebut pada November 2025. Curah hujan tinggi dan derasnya arus sungai mengubah struktur dasar sungai sehingga posisi saluran irigasi tertutup material dan bebatuan.
Baca Juga: Pasar Murah Dharmasraya di Sungai Rumbai, Beras SPHP Rp60 Ribu dan Minyakita Rp12 Ribu
Kondisi itu menyebabkan permukaan sungai menjadi lebih rendah dibandingkan jalur irigasi, sehingga air tidak lagi dapat mengalir menuju area persawahan.
Camat Kototangah, Rio Ebu Pratama, mengatakan pekerjaan fisik mulai difokuskan pada penyesuaian kembali jalur hulu irigasi agar debit air dapat masuk ke jaringan pengairan.
"Hari ini perbaikan intake DI Lubukminturun resmi berjalan. Upaya dari Dinas PUPR ini dilakukan untuk menyesuaikan kembali hulu irigasi dengan jalurnya sehingga air dapat naik dan mengalir menuju jaringan irigasi," ujar Rio, Kamis (4/6/2026).
Menurutnya, keberadaan saluran irigasi tersebut sangat penting bagi aktivitas pertanian di kawasan Lubukminturun dan sekitarnya karena sebagian besar kelompok tani menggantungkan pasokan air dari jaringan tersebut.
Baca Juga: Motor Listrik QT Resmi Masuk Padang, Dibanderol Rp15,75 Juta dan Bidik Mobilitas Harian Warga Sumbar
Produktivitas Petani Terdampak Sejak Bencana
Rio menjelaskan, sejak bencana melanda pada akhir tahun lalu, banyak lahan sawah dan kebun warga tidak dapat diolah secara optimal akibat terputusnya sistem pengairan.
Selain menghambat produktivitas pertanian, kondisi itu juga memicu kekhawatiran petani terhadap keberlanjutan mata pencaharian mereka.
Karena itu, berbagai kelompok tani terus menyampaikan aspirasi kepada pemerintah agar perbaikan irigasi menjadi salah satu prioritas penanganan pascabencana.
Selain berfungsi menyalurkan air ke lahan pertanian, jaringan irigasi juga memiliki peran penting dalam mengatur aliran sungai sehingga dapat membantu mengurangi potensi genangan dan banjir di kawasan sekitar.
Baca Juga: TASPEN Bukittinggi Serahkan Santunan JKK dan JKM Rp180,37 Juta kepada ASN di Pasaman
Pemko Padang Juga Benahi Kawasan Rawan Banjir Palarik
Di saat bersamaan, Pemerintah Kota Padang juga melakukan normalisasi saluran drainase di kawasan Palarik, Aie Pacah, Kecamatan Kototangah.
Wilayah tersebut dikenal sebagai salah satu titik yang kerap mengalami genangan ketika hujan deras mengguyur Kota Padang.
Pengerukan saluran sudah dimulai sejak 20 Mei 2026 dan ditargetkan rampung pada pertengahan Juni mendatang.
Baca Juga: Fenomena “Halo Matahari” di Langit Padang: Keindahan Atmosfer, Bukan Alarm Bencana
"Kawasan Palarik memang sering banjir dan tergenang air. Penanganan sudah berjalan sejak akhir Mei dan insyaallah pertengahan Juni ini selesai," kata Rio.
Pemko Padang berharap perbaikan intake irigasi Lubukminturun dan normalisasi drainase di Palarik dapat menjadi solusi jangka pendek untuk memulihkan aktivitas masyarakat sekaligus menjadi langkah mitigasi menghadapi potensi bencana hidrometeorologi di masa mendatang.
Dengan pulihnya fungsi irigasi, pasokan air untuk lahan pertanian di Kototangah diharapkan kembali normal sehingga petani dapat melanjutkan aktivitas budidaya dan meningkatkan produktivitas hasil panen.(*)
Editor : Hendra Efison