PADEK.JAWAPOS.COM--Bimtek Bundo Kanduang Sumbar diikuti 70 perempuan dari seluruh kabupaten dan kota yang digelar di Bukittinggi pada 6–8 Juni 2026, dengan fokus memperkuat peran perempuan Minangkabau dalam membentuk karakter generasi muda di tengah perubahan sosial.
Kegiatan yang diinisiasi Dinas Kebudayaan Sumatera Barat melalui UPTD Museum Adityawarman ini menjadi langkah strategis untuk memperkuat fungsi Bundo Kanduang sebagai pilar pendidikan dalam keluarga dan masyarakat.
Bimtek Bundo Kanduang Sumbar Dorong Peran Perempuan Minangkabau
Kepala Dinas Kebudayaan Sumbar, Syaiful Bahri, membuka kegiatan tersebut bersama Wakil Ketua DPRD Sumbar Nanda Satria dan sejumlah anggota legislatif lainnya di Bukittinggi.
Selain itu, kehadiran unsur DPRD provinsi dan kota memperkuat sinergi antara pemerintah dan lembaga adat dalam menjaga keberlanjutan nilai budaya Minangkabau.
Kepala UPTD Museum Adityawarman, Dr. Tuti Alawiyah, menegaskan Bundo Kanduang memiliki posisi strategis sebagai limpapeh rumah nan gadang yang berperan langsung dalam membimbing anak dan kemenakan.
Ia menjelaskan falsafah “Anak Dipangku Kamanakan Dibimbiang” menjadi dasar utama dalam membentuk generasi berakhlak, berilmu, dan berbudaya.
Tantangan Zaman Perkuat Urgensi Pendidikan Karakter
Arus teknologi dan perubahan sosial yang cepat mendorong meningkatnya tantangan dalam membentuk karakter generasi muda di lingkungan keluarga.
Kemudian, kondisi tersebut menuntut Bundo Kanduang memiliki kapasitas yang lebih kuat agar mampu menanamkan nilai adat dan budaya secara relevan dengan perkembangan zaman.
Bimtek ini dirancang untuk meningkatkan pemahaman peserta terhadap peran strategis perempuan dalam pendidikan karakter sekaligus memperkuat nilai adat Minangkabau.
Selain itu, kegiatan ini juga menekankan pentingnya pembinaan anak dan kemenakan sejak usia dini agar tumbuh menjadi generasi yang bertanggung jawab.
DPRD Sumbar Dorong Penguatan Kelembagaan Adat
Wakil Ketua DPRD Sumbar, Nanda Satria, menegaskan kegiatan ini menjadi langkah konkret untuk mengangkat marwah kelembagaan adat, bukan sekadar kegiatan seremonial.
Ia mendorong pemerintah daerah agar fungsi Bundo Kanduang tidak hanya berjalan secara sosial, tetapi juga terintegrasi dalam sistem kelembagaan pemerintahan.
Selanjutnya, Nanda menyatakan komitmen DPRD untuk mendukung berbagai program dan kebutuhan Bundo Kanduang di tingkat provinsi.
Ia berharap forum ini melahirkan rekomendasi kebijakan yang konkret, sehingga peran Bundo Kanduang semakin aktif dan berdampak dalam kehidupan masyarakat.
Kegiatan ini sekaligus diharapkan menjadi momentum penting dalam menjaga nilai “Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah” agar tetap hidup dalam keluarga Minangkabau.
Dengan penguatan tersebut, Bundo Kanduang diharapkan mampu menjadi benteng utama dalam membentuk karakter generasi muda di Sumatera Barat.(*)
Editor : Hendra Efison