PADEK.JAWAPOS.COM – Harapan pedagang seragam sekolah di Kota Padang untuk meraup keuntungan pada momentum tahun ajaran baru 2026/2027 belum terwujud. Penjualan di Pasar Raya Padang justru lesu sehingga omzet para pedagang mengalami penurunan dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.
Pantauan di sentra penjualan seragam sekolah Pasar Raya Padang, Jumat (3/7), menunjukkan aktivitas jual beli belum ramai.
Sebagian besar pedagang terlihat menunggu pembeli, sementara tumpukan paket seragam sekolah masih tersimpan di dalam toko.
Para pedagang menilai kondisi tersebut berkaitan dengan program seragam sekolah gratis yang dijalankan Pemerintah Kota Padang.
Mereka menyebut pengadaan seragam dilakukan melalui vendor dari luar Sumatera Barat sehingga pelaku usaha lokal tidak ikut menikmati perputaran ekonomi dari program tersebut.
Ketua Asosiasi Pedagang Seragam Sekolah Kota Padang, Jasman, mengatakan kebijakan tersebut berdampak langsung terhadap penurunan penjualan.
Menurutnya, momentum penerimaan peserta didik baru yang biasanya menjadi masa panen bagi pedagang kini tidak lagi memberikan hasil seperti sebelumnya.
"Dengan kebijakan Pemko yang menggratiskan pakaian itu saja sudah membuat pasar sepi, saat ini hanya hitungan jari yang jual beli dan pasar belum mengeliat. Bagaimana kondisi dari kawan-kawan yang hanya berharap dari momentum tahun ajaran baru ini, pertanyaannya apa untungnya bagi kita di Kota Padang, pemenang vendor pakaian tersebut dari luar Sumbar dan kita minta tolong penilaian dari pemerintah kota Padang agar memperhatikan kami yang menjerit dan ke mana lagi kami akan mengadu selain pemerintah kota," kata Jasman.
Pedagang Berharap UMKM Lokal Dilibatkan
Jasman menegaskan para pedagang tidak mempermasalahkan program seragam sekolah gratis. Menurutnya, program tersebut memberikan manfaat bagi masyarakat, terutama keluarga yang membutuhkan.
Namun, ia berharap pemerintah dapat mengembalikan pola pengadaan seperti sebelumnya atau memberikan ruang bagi UMKM lokal untuk terlibat dalam penyediaan seragam sekolah. Dengan demikian, manfaat program dapat dirasakan masyarakat tanpa mengurangi peluang usaha pedagang lokal.
Ia menyebut terdapat sekitar 50 pedagang seragam sekolah di Pasar Raya Padang, sedangkan di Kota Padang jumlahnya mencapai ratusan pedagang.
Selama ini mereka menggantungkan pendapatan pada musim tahun ajaran baru yang hanya berlangsung sekali dalam setahun.
"Para pedagang mengharapkan keuntungan di momentum tahun ajaran baru yang terjadi hanya sekali setahun. Kalau kata orang, sambil menunggu momentum tersebut orang akan bersabar menahan diri mereka agar di tahun ajaran para pedagang mendapat, namun hari ini direnggut oleh pembuat kebijakan," ujarnya.
Penjualan Belum Bergerak
Keluhan serupa disampaikan Elly, pedagang seragam sekolah di Pasar Raya Padang. Ia mengaku penjualan pada tahun ajaran baru kali ini jauh di bawah harapan.
Menurut Elly, hingga pukul 11.00 WIB pada Jumat (3/7), tokonya baru menjual satu stel seragam sekolah. Sehari sebelumnya, penjualan yang diperoleh hanya tiga stel.
"Untuk hari ini sudah pukul 11.00 baru hanya satu stel pakaian yang terjual, kemarin alhamdulillah ada tiga stel baju yang laku," ujarnya.
Elly mengatakan harga satu stel seragam sekolah dasar berkisar Rp100 ribu hingga Rp110 ribu, bergantung pada ukuran. Sementara seragam SMP dan SMA dijual dengan harga antara Rp150 ribu hingga Rp160 ribu per stel.
Menurutnya, pada tahun-tahun sebelumnya, waktu menjelang siang biasanya menjadi jam sibuk karena banyak orang tua datang membeli perlengkapan sekolah. Kini kondisi tersebut berubah.
"Sekarang saya hanya lebih duduk-duduk dengan kondisi saat ini," tuturnya.
Lesunya penjualan pada musim tahun ajaran baru membuat para pedagang berharap Pemerintah Kota Padang memberi perhatian terhadap keberlangsungan usaha mereka.
Mereka menginginkan kebijakan yang tidak hanya membantu masyarakat memperoleh seragam sekolah, tetapi juga membuka ruang bagi pelaku UMKM lokal untuk ikut berpartisipasi dalam pengadaan seragam.(*)
Editor : Hendra Efison