PADEK.JAWAPOS.COM— Program Studi Biologi Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) Universitas Negeri Padang (UNP) membentuk Satgas Anti Rabies Karang Taruna di Kelurahan Koto Pulai, Kecamatan Koto Tangah, Kota Padang, Selasa (21/7/2026).
Pembentukan satgas ini menjadi bagian dari pengabdian masyarakat untuk memperkuat literasi kesehatan dan mitigasi penyakit zoonosis berbasis komunitas.
Kegiatan tersebut merupakan bagian dari program “Transformasi Bioteknologi Prodi Biologi FMIPA UNP: Inisiasi Satgas Rabies Karang Taruna sebagai Agen Literasi Kesehatan dan Mitigasi Berbasis Komunitas”.
Program ini mengimplementasikan pengetahuan bioteknologi dan biologi kesehatan dalam upaya pencegahan rabies di lingkungan masyarakat.
Ketua Tim Pengabdian Dr. Dwi Hilda Putri, S.Si., M.Biomed. mengatakan pencegahan rabies membutuhkan pemahaman masyarakat mengenai karakter virus, virologi, dan pentingnya vaksinasi.
“Pengendalian zoonosis seperti rabies tidak cukup hanya bertumpu pada tenaga medis. Kami ingin mengimplementasikan ilmu bioteknologi dengan mengedukasi masyarakat tentang karakter virus rabies dan pentingnya vaksinasi,” ungkapnya.
Satgas Libatkan Pemuda Koto Pulai
Dwi Hilda menyebut Karang Taruna memiliki potensi untuk menjadi agen literasi yang menjembatani pengetahuan mengenai rabies kepada masyarakat.
Satgas tersebut juga ditargetkan membantu meningkatkan cakupan vaksinasi Hewan Penular Rabies (HPR).
Lurah Koto Pulai Hendri Shouvandi, S.Sos. menyambut positif pembentukan satgas tersebut.
Ia berharap kelompok yang dikukuhkan dapat menjadi mitra pemerintah kelurahan, Puskesmas, dan Dinas Pertanian dalam pemantauan serta edukasi pengendalian rabies.
“Kami sangat berterima kasih karena Koto Pulai dipilih sebagai lokasi pengabdian. Satgas Anti Rabies yang dikukuhkan hari ini diharapkan terus menjadi mitra pemerintah kelurahan, Puskesmas, dan Dinas Pertanian dalam memantau, mengedukasi, serta mendukung program pengendalian rabies di lapangan,” tutur Hendri.
Sekretaris Camat Koto Tangah yang hadir dalam kegiatan tersebut turut mengapresiasi langkah Prodi Biologi FMIPA UNP dalam memperkuat ketahanan kesehatan lingkungan melalui kolaborasi.
Edukasi Pertolongan Pasca-Gigitan HPR
Pembekalan satgas menghadirkan dua pemateri dari bidang kesehatan manusia dan hewan. Kepala Puskesmas Koto Panjang Ikua Koto yang diwakili Chyntia Lara Utami, S.Tr.Keb. memberikan penjelasan mengenai tindakan medis pertama setelah gigitan HPR.
“Masyarakat jangan menunggu gejala klinis muncul. Segera cuci luka dengan air mengalir dan sabun selama 15 menit, lalu segera ke fasilitas kesehatan,” tegasnya.
Sementara itu, Kepala Bidang Kesehatan Hewan dan Kesehatan Masyarakat Veteriner Dinas Pertanian Kota Padang drh. Sovia Hariani, M.Biotek. memaparkan strategi pengendalian rabies dari sisi kesehatan hewan.
Materi mencakup tanda-tanda klinis HPR yang terinfeksi serta pentingnya vaksinasi berkala untuk memutus mata rantai penularan virus.
Pengukuhan Satgas Anti Rabies Karang Taruna ditandai dengan penyematan pin secara simbolis. Kegiatan tersebut menjadi penanda dimulainya peran anggota Karang Taruna dan kader Posyandu sebagai agen literasi serta mitigasi rabies berbasis komunitas.
Program Studi Biologi FMIPA UNP berharap pembentukan satgas dapat meningkatkan partisipasi masyarakat dalam vaksinasi hewan dan memperkuat upaya mitigasi zoonosis di tingkat kelurahan.(*)
Editor : Hendra Efison