Udara Padang Tampak Berasap dan Kabur, BMKG: Dampak Fenomena Haze dan Minim Hujan

Randi Zulfahli • Dipublikasikan Kamis, 13 Agustus 2026 | 12:24 WIB
BMKG menjelaskan udara Padang kabur akibat fenomena haze dan minim hujan, serta belum ada indikasi asap karhutla kiriman.
BMKG menjelaskan udara Padang kabur akibat fenomena haze dan minim hujan, serta belum ada indikasi asap karhutla kiriman.

PADEK.JAWAPOS.COM— Udara di Kota Padang tampak berasap dan kabur dalam beberapa hari terakhir akibat fenomena haze yang dipengaruhi minimnya curah hujan di Sumatera Barat. BMKG Stasiun Meteorologi Minangkabau menyebut belum ada indikasi asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla) kiriman dari wilayah lain.

Prakirawan BMKG Stasiun Meteorologi Minangkabau, Raafi Darojat, menjelaskan kondisi udara yang menyerupai kabut atau asap tebal tersebut merupakan fenomena meteorologi yang dikenal sebagai haze.

Menurut analisis BMKG, minimnya hujan membuat partikel-partikel kering di permukaan lebih mudah terangkat ke udara. Kondisi itu menyebabkan udara terlihat buram dan jarak pandang menjadi kurang jernih.

BMKG Jelaskan Penyebab Udara Kabur

Raafi mengatakan fenomena haze terbentuk ketika konsentrasi partikel udara kering terangkat dan melayang di atmosfer.

Partikel tersebut kemudian membiaskan cahaya matahari sehingga pandangan mata secara mendatar terlihat buram dan kabur.

Partikel kering yang melayang di udara dapat berasal dari berbagai sumber aktivitas manusia maupun faktor alam lokal, seperti polusi kendaraan bermotor, emisi gas buang pabrik, serta debu di permukaan tanah.

Meski kondisi udara di Padang terlihat seperti diselimuti asap, BMKG menyebut indikator visual atmosfer saat ini masih berada dalam kategori udara kabur biasa.

Kelembapan udara masih tinggi dan jarak pandang mendatar tercatat lebih dari 5 kilometer. Kondisi tersebut menjadi indikator bahwa udara kabur yang terlihat belum menunjukkan kondisi asap tebal.

Belum Ada Indikasi Asap Karhutla Kiriman

Kondisi udara kabur di Padang sebelumnya dikaitkan dengan dugaan asap kebakaran hutan dan lahan dari daerah lain.

Namun, berdasarkan data atmosfer terkini BMKG, belum ada indikasi sebaran asap kiriman dari wilayah lain yang masuk ke Kota Padang.

Raafi menyebut kondisi udara kabur tersebut berkaitan dengan kondisi atmosfer lokal Kota Padang dan sekitarnya yang dipengaruhi minimnya curah hujan.

BMKG juga terus memantau pergerakan partikel atmosfer dan arah angin. Pembaruan akan disampaikan apabila terpantau adanya sebaran asap.

Udara Diprakirakan Normal Setelah Hujan

Mengenai durasi fenomena tersebut, BMKG memperkirakan kondisi visual udara di Kota Padang akan kembali jernih ketika wilayah tersebut kembali diguyur hujan dengan intensitas yang cukup.

Hujan dapat membantu mengurangi partikel-partikel kering yang melayang di atmosfer sehingga kondisi udara kembali lebih jernih.

Raafi mengimbau masyarakat Kota Padang dan sekitarnya agar tetap tenang serta tidak panik menghadapi kondisi udara kabur tersebut.

Masyarakat juga diminta tidak mempercayai desas-desus atau melakukan spekulasi mengenai penyebab kondisi udara. BMKG mengingatkan warga untuk memantau informasi resmi terkait perkembangan cuaca dan kondisi atmosfer.(*)

Editor : Hendra Efison
BMKG Padang udara Padang kabur fenomena haze asap karhutla Cuaca Padang