PADEK.JAWAPOS.COM--Menjelang peringatan 100 tahun Gempa Padangpanjang 1926, sejumlah wartawan menggelar bincang lepas membahas isu kebencanaan di Kota Padangpanjang, Jumat (3/4/2026).
Kegiatan yang difasilitasi Perkumpulan Jurnalis Keterbukaan Informasi Publik tersebut menghadirkan Nova Indra dari Alpha Rescue. Dalam diskusi itu, Nova menyoroti masih rendahnya respons pemerintah terhadap pentingnya mitigasi bencana, baik pada tahap prabencana maupun pascabencana.
Nova mengungkapkan, pihaknya bersama Alpha Rescue telah membentuk Gugus Sekolah Siaga Bencana (GSSB) dan Gugus Madrasah Siaga Bencana (GMSB) sejak Februari 2025.
Namun, hingga kini belum terlihat tindak lanjut dari pemerintah daerah melalui dinas terkait.
Baca Juga: Semen Padang FC vs Persib Bandung: Ujian Berat Kabau Sirah usai Lebaran 2026
Selain itu, program pembentukan cluster logistik yang diinisiasi Badan Nasional Penanggulangan Bencana juga dinilai belum berjalan optimal. Menurutnya, di Padangpanjang program tersebut masih sebatas grup komunikasi tanpa implementasi nyata di lapangan.
“Cluster logistik seharusnya menjadi katalog kesiapan logistik daerah saat menghadapi bencana, namun implementasinya belum maksimal,” ujarnya.
Menanggapi kondisi tersebut, JKIP Padangpanjang berinisiatif menggelar Focus Group Discussion (FGD) terkait kesiapsiagaan bencana. Ketua JKIP Padangpanjang, Rifnaldi Ce, menyebut kegiatan itu diharapkan mampu meningkatkan kesadaran semua pihak terhadap pentingnya kesiapan menghadapi bencana.
Baca Juga: BMKG: Prakiraan Cuaca Sumbar 4 April 2026, Hujan Ringan Guyur Hampir Semua Wilayah
“Kita tidak mengklaim sepenuhnya siap, tetapi setidaknya kita tahu langkah apa yang harus dilakukan untuk meminimalisir risiko saat bencana terjadi,” ungkapnya.
Rifnaldi juga menyoroti lemahnya alur informasi dalam penanganan bencana. Ia menilai masih rendahnya sinergi lintas sektor menyebabkan distribusi bantuan tidak merata, meskipun bantuan yang masuk terbilang melimpah.
“Di satu sisi bantuan banyak, tetapi di sisi lain masih ada korban yang belum tersentuh secara maksimal. Ini menunjukkan distribusi dan koordinasi masih perlu diperbaiki,” tegasnya.
Baca Juga: Arus Lalu Lintas Jalur Lembah Anai di Jembatan Kembar Ramai Lancar Meski Ada Pekerjaan
Diskusi ini diharapkan menjadi momentum refleksi menjelang satu abad gempa besar 1926, sekaligus mendorong peningkatan kesiapsiagaan dan koordinasi dalam menghadapi potensi bencana di masa mendatang. (wrd)
Editor : Adetio Purtama