Penggabungan dua badan usaha tak ubahnya menyatukan dua entitas bisnis. Walau setarikan nafas namun kondisi dari setiap entitas bisnis tidaklah sama. Untuk menyatukan perbedaan ini diperlukan beragam kebijakan yang terkadang juga memicu biaya. Itulah yang terjadi pada PT BPR VII Koto ditahun 2021.
“Dari sisi kinerja usaha kita ditahun 2021 relatif konstan. Asset kita masih bertumbuh dan tercapai menjadi Rp 17,39 Miliar. Begitu juga realisasi kredit tumbuh melandai menjadi Rp 10,11 Miliar dan Dana Pihak Ketiga juga tumbuh kecil Rp 12,88 Miliar. Fokus kita ditahun 2021 ini lebih kepada penataan organisasi. Mulai dari sistem operasional prosedur, konsulidasi keuangan dan SDM serta konsulidasi kredit dan permasalahan kredit," ujar Direktur Utama PT BPR VII Koto Tri Joni Putra yang didampingi Direkturnya Yuliardi.
Menurut Tri Jon Putra, relatif konstannya kinerja usaha sepanjang tahun 2021 lebih dipicu oleh adjustment organisasi. Ini tak bisa dihindari mengingat merger tahun lalu adalah menyatukan dua entitas bisnis. Untuk menyatukan itu diperlukan adjustment dan konsulidasi. Mulai dari standar operasional prosedur, konsulidasi asset, konsulidasi biaya dan konsulidasi kredit berserta kredit bermasalahnya.
Asset, Dana dan Biaya
Hingga per 31 Desember 2021 tercatat total asset PT BPR VII Koto sebanyak Rp 17,39 Miliar yang bersumber dari tiga komponen utama berupa modal, dana pihak ketiga dan realisasi kredit.
Total Dana Pihak Ketiga yang mampu dibukukan tercatat sebanyak Rp 12,88 Miliar. Dana Pihak ketiga ini bersumber dari dana tabungan sebanyak Rp 9,51 Miliar dan Deposito sebanyak Rp 3,37 Miliar. Sementara itu realisasi kredit sepanjang tahun 2021 tercatat sebanyak Rp 10,11 Miliar.
“Konfigurasi Dana dan biaya ini sudah cukup bagus. Ini bisa menjadi kekuatan kita untuk ekspansi kredit ditahun 2022,” ujar Tri Joni Putra.
Bagaimana dengan biaya? Dari sisi biaya justru terihat lebih baik. Jika sepanjang tahun 2021 asset dan dana pihak ketiga serta kredit relatif konstan, sedangkan realisasi biaya berhasil diturunkan. Sebut saja beban bunga.
Sepanjang tahun 2021 tercatat bebab bunga yang musti dipikul PT BPR VII Koto sebanyak Rp 498 juta. Realisasi beban bunga ini mengalami penurunan dibandingkan beban bunga tahun 2020 yang lalu dengan realisasi sebanyak Rp 589 juta. Sementara itu beban operasional sepanjang tahun 2021 tercatat sebanyak Rp 2,62 Miliar.
“Kita memang mencoba melakukan pengendalian biaya dengan maksimal ditahun 2021 ini. Langkah ini dilakukan karena besarnya luncuran biaya yang musti dipikul ditahun 2021 terutama pasca merger yang berlangsung mendekati akhir tahun 2020 yang lalu. Otomatis biaya itu menjadi beban luncuran yang musti dibukukan bersama ditahun 2021 ini," ujar Tri Jon Putra
Perbaiki Kualitas Aktiva Produktif
Ada beberapa point penting yang musti menjadi perhatian utama ditahun 2022 ini. Satu diantara fokus kinerja tahun 2022 ini adalah peningkatan kualitas aktiva produktif sambil terus memacu Asset, Kredit dan Dana Pihak Ketiga.
Sebut saja kualitas kredit. Realisasi ratio kredit bermasalah Non Perfomance Loan (NPL) telah berhasil kita turunkan dibandingkan diawal merger atau akhir tahun 2020 yang lalu. Jika per 31 Desember 2020 yang lalu ratio NPL masih berada diatas dua digit maka ditahun 2021 ini berhasil diturunkan menjadi single digit.
“Target kita rasio NPL bisa turun hingga dibawah 5 persen hingga akhir tahun 2022 ini. Untuk itu kita akan memaksimalkan upaya penagihan agar kredit yang tak tertagih ini terus mengalami penurunan,” ujar Tri Joni Putra.
Untuk ratio biaya, secara year on year ratio Biaya Operasional berbanding pendapatan Operasional relatif naik. Tahun 2020 yang lalu ratio BOPO tercatat sebanyak 87,66 persen dan ditahun 2021 terealisasi 96,26 persen.
“Relatif masih tingginya BOPO tak terlepas dari luncuran biaya ditahun sebelumnya. Namun kami optimis ditahun 2022 ini ratio BOPO ini akan mengalami penurunan. Kita target setidaknya ratio BOPO berada dibawah angka 90 persen dan ini akan kita coba secara bertahan menurunkannya setiap tahun,” ujar Tri Joni Putra.
Dari data yang dimiliki Harian Pagi Padang Ekspres, PT BPR VII Koto merupakan satu satunya BPR di Kabupaten Padang Pariaman yang telah berhasil merger. Sebelumnya BPR ini terdiri dari dua BPR dengan call sign PT BPR LPN Koto Dalam dan PT BPR VII Koto.
Selain itu PT BPR VII Koto merupakan BPR kedua di Sumbar yang sudah melaksanakan merger setelah sebelumnya di Payakumbuh dan Bukittinggi juga sudah melakukan merger BPR Rangkiang Aur dan BPR Rangkiang Denai.
Penggabungan dua entitas bisnis memang tak semudah dan segampang yang kita bayangkan. Tuntutan regulasi dan keterbatasan kemampuan pemegang saham untuk menanamkan modal disaat ekonomi sulit seperti saat ini menghadapkan sejumlah BPR kepada pilihan merger ini. Sudah hukum alam setiap perubahan strategis tentulah menghasilkan “turbulensi” usaha.
Namun, “getaran” usaha ini tak akan berlangsung lama. Untuk lembaga keuangan seperti BPR diperlukan satu atau dua tahun guna melakukan konsulidasi. Jika konsulidasi dapat dilaksanakan dengan baik maka perlahan lahan BPR tersebut akan bangkit dan dapat melakukan ekspansi seiring penambahan Capital Adequity Rationya.
“Ya, kita memang lebih banyak melakukan penataan kedalam. Kita lebih banyak melakukan konsulidasi berbagai hal sambil berupaya keras mengedalikan biaya. Semoga saja ditahun 2022 ini PT BPR VII Koto bisa ekspansi usaha sambil terus mempercantik kualitas aktiva produktifnya,” tukas Tri Joni Putra.(two) Editor : Hendra Efison