PADEK.JAWAPOS.COM-Pemerintah Kabupaten Padangpariaman bergerak cepat menghadapi potensi bencana banjir musiman di wilayah Ulakan Tapakih.
Dalam survei lapangan terbaru di sepanjang aliran Sungai Batang Ulakan, Bupati Padangpariaman John Kenedy Azis menemukan sejumlah titik penyumbatan aliran air yang dinilai sebagai pemicu utama banjir yang kerap terjadi hingga enam kali dalam setahun.
Didampingi Wakil Bupati Rahmat Hidayat dan Sekretaris Kabupaten Rudy Repenaldi Rutan, survei ini turut melibatkan jajaran Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda), Balai Wilayah Sungai (BWS) V Sumatera, Dinas Sumber Daya Air Provinsi Sumatera Barat, perwakilan PT Hutama Karya Infrastruktur, camat, serta seluruh wali nagari se-Kecamatan Ulakan Tapakih.
“Setelah menelusuri sekitar 2,5 hingga 3 kilometer aliran sungai, kami menemukan sejumlah pohon tumbang dan endapan lumpur yang menyumbat jalur air. Aliran sungai tak lagi lancar dan ini sangat berbahaya jika dibiarkan,” ungkap John Kenedy Azis kepada wartawan beberapa waktu lalu.
Menurutnya, kondisi sungai yang tertutup vegetasi liar dan sedimen membuat arus air meluap ke permukiman saat hujan deras mengguyur. Bahkan, sungai yang dulunya juga difungsikan sebagai jalur transportasi air kini nyaris tidak dapat dilalui kapal kecil akibat penyempitan dan pendangkalan.
Sebagai tindak lanjut, Pemerintah Kabupaten Padangpariaman akan menggelar gotong royong (goro) massal secara serentak pada Sabtu dan Minggu, 19–20 April 2025 mendatang.
Kegiatan ini dirancang sebagai solusi awal pencegahan banjir melalui pembersihan jalur sungai dan perbaikan infrastruktur dasar.
“Kami mengajak seluruh masyarakat untuk turun tangan bersama-sama membersihkan Batang Ulakan. Ini bukan hanya tugas pemerintah, tetapi tanggung jawab kita bersama sebagai warga yang ingin wilayahnya bebas dari bencana,” tegas bupati.
Bupati menambahkan bahwa meskipun upaya ini tidak bisa serta-merta menyelesaikan seluruh permasalahan banjir, langkah ini diperkirakan dapat menekan risiko dan dampaknya hingga 30 persen.
“Memang tidak menyelesaikan 100 persen, tapi Insyaallah bisa mengurangi risiko banjir cukup signifikan. Minimal, kita bisa menyelamatkan rumah-rumah warga yang selama ini selalu terendam tiap musim hujan,” ujarnya.
Batang Ulakan, yang menjadi urat nadi kehidupan masyarakat Ulakan Tapakih, kini justru menjadi ancaman. Jika tidak segera ditangani secara sistematis, potensi banjir yang membawa kerugian besar ini bisa menjadi bom waktu bagi daerah.
Pemerintah daerah juga berharap keterlibatan aktif semua pihak, termasuk instansi vertikal dan tokoh masyarakat, untuk bersinergi dalam membangun ketahanan lingkungan jangka panjang.
“Kerja sama lintas sektor adalah kunci. Kita tidak bisa hanya mengandalkan APBD atau pemerintah pusat. Kesadaran kolektif untuk menjaga lingkungan harus dimulai dari tingkat nagari,” tambah John Kenedy.(apg)
Editor : Novitri Selvia