Indonesia Sumbar Bisnis Olahraga Gaya Hidup Harian Magazine Otomotif Pariwisata Features Internasional Opini Advertorial Pendidikan Buku & Film Hiburan Kesehatan

Bencana Abrasi Batang Anai: Belasan Rumah di Palapa Saiyo Terancam, Pemkab Padangpariaman Siapkan Solusi Relokasi

Adetio Purtama • Kamis, 11 Desember 2025 | 11:05 WIB

Kondisi beberapa rumah warga di Korong 1 Palapa Saiyo, Sungaibuluh Selatan, Padangpariaman, yang rusak diterjadi aliran Batang Anai, kemarin.
Kondisi beberapa rumah warga di Korong 1 Palapa Saiyo, Sungaibuluh Selatan, Padangpariaman, yang rusak diterjadi aliran Batang Anai, kemarin.
PADEK.JAWAPOS.COMPemerintah Kabupaten Padangpariaman bergerak cepat menindaklanjuti bencana abrasi hebat yang kembali melanda bantaran Batang Anai, Kecamatan Batanganai.

Sedikitnya tujuh rumah warga di Korong 1 Kompleks Palapa Saiyo, Jorong Sungaibuluh Selatan, ambruk setelah dihantam arus sungai yang berbelok akibat banjir pada Rabu (10/12) sekitar pukul 11.00.

Bupati Padangpariaman, John Kenedy Azis, langsung turun ke lokasi sesaat setelah menerima laporan. Ia meninjau kondisi tebing sungai, rumah-rumah yang ambruk, serta sejumlah bangunan yang kini berada di bibir jurang.

Dalam dialognya dengan warga, John Kenedy menyampaikan bahwa pemerintah daerah akan melakukan penanganan cepat untuk rumah yang sudah runtuh maupun yang terancam. Ia meminta Camat Batanganai segera memperbarui data warga terdampak sebagai dasar perjuangan relokasi.

“Pemerintah pusat sebelumnya telah membahas opsi relokasi untuk masyarakat terdampak bencana di Sumatera Barat melalui koordinasi Komisi V DPR RI, Kementerian Perumahan dan Kawasan Permukiman, Kementerian PU, serta mitra kerja lainnya. Ini akan kita dorong kembali,” ujarnya.

Selain relokasi, Pemkab Padangpariaman juga berupaya berkoordinasi dengan Balai Wilayah Sungai (BWS) Sumatera V Padang untuk membahas pengendalian banjir dan perbaikan struktur bantaran agar kejadian serupa tidak terjadi lagi.

Untuk penanganan pascabencana, John mengungkapkan bahwa pendirian dapur umum, distribusi bantuan, serta layanan kesehatan di posko pengungsian telah berjalan secara terstruktur.

Sembilan orang tercatat meninggal dunia akibat rangkaian bencana hidrometeorologi di wilayah tersebut, sementara satu korban masih dalam pencarian.

Petugas medis juga disiagakan untuk memantau kesehatan masyarakat terdampak, terutama yang tinggal di tenda darurat, guna mencegah munculnya penyakit pascabanjir.

Warga Mengungsi dalam Kondisi Cemas

Banjir yang memicu abrasi hebat membuat arus Batang Anai menghantam rumah-rumah warga di tepi sungai hingga tidak mampu menahan tekanan air. Meski bangunan runtuh, para penghuni berhasil menyelamatkan diri karena telah mengantisipasi sejak malam sebelumnya.

Sebagian warga kini mengungsi ke rumah kerabat dan tetangga. Tenda darurat juga didirikan untuk menampung mereka yang tidak lagi memiliki tempat tinggal.

Ita (70), salah satu warga yang rumahnya terancam ambruk, mengaku tidak bisa tidur nyenyak sejak kejadian tersebut.

“Kami benar-benar was-was. Kalau hujan turun lagi dengan deras, rumah kami bisa ikut runtuh. Untuk sekarang kami berjaga-jaga dan siap mengungsi kapan saja,” ujarnya.

Tokoh masyarakat Palapa Saiyo, Iskandar, menyebut kejadian ini bukan yang pertama. Pada akhir November lalu, tiga rumah warga lebih dulu ambruk akibat luapan Batang Anai. Runtuhnya tujuh rumah tambahan pada Rabu siang membuat total bangunan yang hilang terus bertambah.

Ia memperkirakan belasan rumah lain berada dalam kondisi sangat rawan. Struktur tanah yang semakin labil membuat warga tidak memiliki pilihan selain meninggalkan rumah mereka untuk sementara.

“Rencana pembangunan pengendalian banjir sebenarnya sudah pernah dibahas pemerintah sebelum pandemi Covid-19, tetapi tertunda. Kami berharap penanganan segera dilakukan dan solusi relokasi dapat diberikan,” katanya. (*)

Editor : Adetio Purtama
#relokasi #abrasi #batanganai #Pemkab Padangpariaman #Palapa Saiyo #rumah