PADEK.JAWAPOS.COM - Di tepi jalan Pariaman–Padang, sebuah ”kapal” tampak berlabuh tanpa ombak. Ia tidak bergerak, namun mampu menghentikan langkah. Masjid Al Fauzan di Katapiang itu berdiri tenang, seolah menunggu siapa saja yang ingin singgah dan berlayar ke surga.
Dari kejauhan, bentuknya sudah mengundang tanya.
Semakin dekat, pesonanya justru kian nyata. Lengkung bangunannya menyerupai kapal besar yang tengah menuju daratan, menghadirkan kesan perjalanan yang tak biasa bagi setiap mata yang memandang.
Masjid Al Fauzan yang terletak di Nagari Katapiang, Kabupaten Padangpariaman, kini menjelma menjadi ikon baru wisata religi di Sumatera Barat. Bentuknya yang menyerupai kapal besar tampak seolah-olah tengah berlayar dari laut menuju daratan, mencuri perhatian setiap orang yang melintas. Dengan tinggi sekitar 28 meter, bangunan ini berdiri megah di tepi jalan utama Pariaman–Kota Padang. Hanya beberapa kilometer saja dari Bandara Internasional Minangkabau ( BIM).
Baca Juga: Ambulans Laut Mentawai Minim, Semen Padang Siap Kaji Bantuan
Saat malam tiba, pesonanya kian memikat. Masjid ini tampak layaknya kapal pesiar yang mengarungi samudra luas. Kilauan lampu berwarna oranye hangat mempertegas keindahan arsitekturnya, sekaligus menghadirkan suasana yang menenangkan.
Bagi masyarakat yang melintas, bangunan unik ini sulit diabaikan. Terlebih pada momen Lebaran, masjid ini ramai dikunjungi warga dari berbagai daerah, baik untuk beribadah maupun sekadar singgah menikmati keindahannya. “Awalnya saya hanya ingin lewat, tetapi karena melihat arsitekturnya yang unik berbentuk kapal, saya akhirnya berhenti sejenak,” ujar Fadlia (48), pengunjung asal Padang yang hendak menuju Kabupaten Padangpariaman.
Ia mengaku sebelumnya pernah melihat masjid tersebut, namun saat itu masih tertutup. Kini, setelah dibuka, masjid tersebut dipadati pengunjung. “Banyak yang salat dan juga berfoto. Apalagi area parkirnya luas. Walaupun belum sepenuhnya selesai, saya berharap masjid ini bisa menjadi salah satu penguat syiar Islam di Sumatera Barat,” ujarnya.
Imam Masjid Al Fauzan, Revo Randa Sudarman, mengatakan ke depan masjid ini dirancang sebagai masjid yang ramah musafir. Masjid akan dibuka selama 24 jam dan dilengkapi fasilitas sederhana untuk beristirahat. “Kami akan menyediakan tikar bagi musafir yang singgah,” ujarnya.
Baca Juga: Bupati Mentawai Minta 5 Ambulans Laut ke PT Semen Padang
Ia juga menegaskan, masjid ini bersifat Nonprofit dan difungsikan sepenuhnya untuk ibadah. “Parkir tidak dipungut biaya, semuanya gratis,” katanya.
Meski demikian, ke depan akan dibangun sejumlah fasilitas penunjang, seperti penginapan, area bermain anak, dan minimarket untuk memenuhi kebutuhan pengunjung. Fasilitas tersebut menjadi satu-satunya bagian yang akan dikelola secara komersial.
Revo menyebutkan, pemilik masjid memilih tetap anonim demi menjaga keikhlasan. Ia bahkan kerap menolak diwawancarai dan mempercayakan komunikasi kepada pengelola masjid.
Inspirasi desain masjid yang menyerupai kapal berasal dari latar belakang pemilik yang bekerja di bidang kelautan, tepatnya di Kesatuan Penjaga Laut dan Pantai (KPLP). Dari pengalaman itulah lahir gagasan membangun rumah ibadah dengan nuansa maritim yang kuat.
Ke depan, Masjid Al Fauzan juga akan dikembangkan sebagai pusat kegiatan keagamaan, seperti tahfiz, tahsin, dan pengajian. Tak hanya itu, pengelola juga menyiapkan program khusus bagi generasi muda, mulai dari kegiatan positif hingga ruang interaksi seperti nonton bareng dan permainan edukatif.
Dengan desain yang unik serta konsep pengembangan yang inklusif, Masjid Al Fauzan diharapkan tidak hanya menjadi tempat ibadah yang nyaman, tetapi juga destinasi wisata religi unggulan di Sumatera Barat. (*)
Editor : Adriyanto Syafril