PADEK.JAWAPOS.COM - Sore itu, cahaya matahari perlahan meredup di tepian Batang Arau. Deretan bangunan tua di Kota Tua Padang berdiri diam, seolah menyimpan cerita panjang yang tak pernah benar-benar usang. Cat yang mulai pudar dan jendela-jendela kayu yang lapuk justru menghadirkan pesona tentang masa lalu yang masih bernafas.
Di antara lorong-lorong sempit kawasan itu, langkah kaki pengunjung mulai kembali terdengar. Kamera-kamera diangkat, mengabadikan sudut-sudut yang bagi sebagian orang hanya sekadar bangunan tua dan lapuk, namun bagi yang lain adalah potongan sejarah yang hidup.
Kini, wajah Kota Tua Padang tengah bersolek. Pemerintah kota perlahan menata ulang kawasan ini bukan menghapus jejak lama, melainkan merawatnya agar tetap bercerita. Hingga 2026, revitalisasi difokuskan pada penataan kawasan Batang Arau, perbaikan infrastruktur jalan, serta rehabilitasi puluhan bangunan cagar budaya yang tersebar di kawasan tersebut. Hanya saja masih ada beberapa bangunan tua yang belum terawat dan terabaikan.
Salah seorang pemuka masyarakat Pondok, Hanura Rusli mengatakan, revitalisasi tidak hanya sekadar memperbaiki bangunan, tetapi juga bagaimana menghidupkan daerah itu seperti Tempoe doeloe. “ Ya, bagaimana mengerakan UMKM dan kegiatan budaya, sehingga menambah daya tarik dan pesona Kota Tua,” ujarnya.
Berdasarkan data pemerintah daerah, kawasan Kota Tua Padang mempunyai puluhan bangunan bersejarah yang menjadi bagian dari cagar budaya. Sejumlah bangunan di antaranya telah mulai direstorasi secara bertahap dengan tetap mempertahankan keaslian arsitektur kolonialnya.
Di pelataran kecil dekat sungai, pedagang kaki lima mulai membuka lapaknya. Aroma makanan khas Minang menguar, bercampur dengan angin laut yang datang pelan. Tawa pengunjung, obrolan santai, dan sesekali alunan musik jalanan menghadirkan kehidupan baru di ruang yang dulu sempat sunyi.
“Dulu di sini agak masih sepi, apalagi malam hari. Sekarang mulai ramai, bahkan sudah ada café dan tempat bermain biliar,” ujar Fadlia salah seorang pengunjung yang datang melihat keindahan Kota Tua, Jumat (17/4).
Ia mengaku datang ke Kota Tua ini sekitar tahun 2000-an. “ Ya sudah lama sekali, sudah banyak perubahan,” ujarnya.
Hanya saja, ada beberapa bangunan tua peninggalan Belanda yang tidak terawat. Bahkan, hanya tinggal puing-puing bangunan saja. “Sayang kalau tidak dirawat, karena mempunyai nilai sejarah yang tinggi. Ya, kita jangan lupa sejarah lah, karena jejak sejarah tempat kita belajar agar selalu mawas diri dan jangan sampai terjadi lagi penjajahan itu,” ujarnya sambil tersenyum.
Upaya menghidupkan kawasan ini juga terlihat dari berbagai kegiatan yang mulai digelar. Sepanjang 2025 hingga awal 2026, pemerintah bersama komunitas lokal telah menyelenggarakan sejumlah iven, mulai dari festival budaya, pertunjukan seni, hingga pasar malam tematik yang melibatkan puluhan pelaku UMKM.
Revitalisasi Kota Tua Padang tak sekadar proyek pembangunan. Ia adalah upaya menghidupkan kembali ingatan kolektif tentang masa ketika kawasan ini menjadi pusat perniagaan yang sibuk, tempat kapal-kapal bersandar, dan orang-orang dari berbagai penjuru bertemu.
Pemerintah pun mendorong kawasan ini menjadi ruang yang lebih dari sekadar destinasi wisata. Kota Tua diharapkan menjadi tempat bertemunya sejarah, budaya, dan ekonomi masyarakat.
Bagi warga sekitar, geliat ini membawa harapan baru. Aktivitas ekonomi mulai bergerak, dari pedagang kecil hingga pelaku usaha kreatif yang memanfaatkan sudut-sudut Kota Tua sebagai ruang berkarya.
Saat malam turun, lampu-lampu mulai menyala, memantul di permukaan Batang Arau. Bayangan bangunan tua terlihat lebih dramatis dan mengambarkan bahwa Kota Tua ini pernah menjadi pusat perdagangan dunia.
Bangunan tua yang rusak tentu menjadi PR pemerintah Kota Padang. Termasuk masih banyak bangkai kapal yang tidak berguna di pingiran Batang Arau yang sedikit merusak pemandangan indah perbukitan dan kawasan Kota Tua. (*)
Editor : Adriyanto Syafril