Indonesia Sumbar Bisnis Olahraga Gaya Hidup Harian Magazine Otomotif Pariwisata Features Internasional Opini Advertorial Pendidikan Buku & Film Hiburan Kesehatan

Geosite Danau Ajaib Tarusan Kamang, Kabupaten Agam, Sumbar: Kadang Air, Kadang Padang Rumput

Mhd Nazir Fahmi • Sabtu, 25 April 2026 | 12:28 WIB
Anak-anak muda berfoto ria di atas rakit bambu yang disediakan masyarakat sekitar. (MHD NAZIR FAHMI/PADEK)
Anak-anak muda berfoto ria di atas rakit bambu yang disediakan masyarakat sekitar. (MHD NAZIR FAHMI/PADEK)

PADEK.JAWAPOS.COM - Di jantung Ranah Minang, di pelukan sunyi Nagari Kamang Mudiak, Kecamatan Kamang Magek, Kabupaten Agam, Sumatera Barat, tersembunyi sebuah cermin langit yang nyaris tak banyak disebut: Danau Tarusan Kamang. Ia bukan danau yang riuh oleh perahu wisata, bukan pula panggung ramai untuk gemuruh swafoto. Ia lebih menyerupai doa yang dipanjatkan diam-diam—lirih, dalam, dan menyentuh.

Pagi hari di Tarusan Kamang yang terletak di Jorong Babukik dan Jorong Halalang, selalu lahir dengan cara yang sederhana. Kabut turun perlahan seperti selendang tua yang dililitkan oleh waktu. Air danau terhampar tenang, seakan enggan mengusik bayangan langit yang berdiam di permukaannya. Burung-burung melintas tanpa tergesa, seolah tahu bahwa di tempat ini, segala yang terburu-buru justru kehilangan makna.

Orang-orang setempat menyebutnya “tarusan”—genangan yang tak biasa, air yang datang dan pergi mengikuti rahasia alam yang tak sepenuhnya bisa dijelaskan. Kadang ia mengering, memperlihatkan tanah yang retak-retak seperti wajah bumi yang sedang bercerita. Lalu, di musim lain, air kembali datang, memenuhi ruang yang sama dengan kesetiaan yang tak banyak bicara. Ia mengajarkan satu hal yang sering kita lupa: bahwa kehilangan dan kembali adalah dua sisi dari perjalanan yang sama.

“Kalau lagi musim hujan, air menjadi hamparan danau yang indah. Suatu ketika juga, airnya menghilang dan berubah menjadi padang rumput hijau. Itulah Danau Tarusan Kamang yang fenomenal. Kami sering menyantai di tepinya menikmati keindahan danau sambil menyeduh teh telur plus goreng pisang hangat,” kata Ibnu, warga setempat kepada Padang Ekspres, belum lama ini.

Pada plang yang ditancapkan Dinas Pariwisata Pemuda dan Olahraga Kabupaten Agam di tepi danau, menjelaskan tempat unik ini. Ada narasi hasil penelitian Andang Bachtiar, ahli geologi Indonesia di plang itu. Disebutkannya, danau bermuka dua ini diperkirakan sudah ada sejak ribuan tahun lalu. Banyak danau karst di daerah lain, tetapi hanya kawasan Danau Tarusan Kamang ini yang punya hubungan langsung dengan sungai di bawah tanah sehingga muncul fenomena unik.

Perbukitan karst di Kawasan Danau Tarusan Kamang, katanya, usianya jauh lebih tua dari pada karst di Jawa. Karst di Kamang diperkirakan sudah berusia 300 juta tahun lalu dari komposisi batuan yang mengindikasikan proses geologi lampau.

Secara litologi yang mengelilingi danau ini adalah batu gamping dan dari hasil pengamatan peta geologi masih merupakan batu gamping umur perm-karbon. Adanya sungai bawah permukaan dan adanya struktur yang terlibat dalam pembentukan danau. Sebagai danau karst, ketika air tanah naik, maka lorong-lorong di bawah bukit batu gamping akan menyemburkan air menutupi padang rumput. Tampaklah danau yang luas dan kawasan Danau Tarusan Kamang bisa terlihat indah.

Sebaliknya, ketika air sungai bawah tanah turun, air tersedot hingga hanya tampak padang rumput. Tampak dari peta, danau ini memiliki hubungan cabang sungai intermitten dari konturing dan merupakan sungai bawah permukaan. Dari peta asumsi menggambarkan sungai bawah permukaan dari kawasan Danau Tarusan Kamang menuju Ngalau Biru dan Luak Gadang hingga perbatasan daerah Baso.

Di tepi danau, rumput liar tumbuh dengan kejujuran. Tak ada yang dipangkas rapi, tak ada yang dibuat-buat. Alam di sini dibiarkan menjadi dirinya sendiri—apa adanya, tanpa polesan. Justru di situlah keindahannya lahir. Sebab yang jujur, selalu punya cara untuk menyentuh hati lebih dalam daripada yang dibuat sempurna.

Anak-anak kampung kadang datang berlari, tertawa tanpa beban. Bagi mereka, danau ini bukan sekadar lanskap, melainkan halaman bermain yang luas. Menaiki rakit bambu, anak-anak muda berdayung menuju pulau sambil selfie ria. Para petani menatapnya dengan cara berbeda—membaca tanda-tanda musim, berharap pada air yang datang tepat waktu, dan bersabar saat ia pergi. Dan bagi para pejalan yang singgah, Tarusan Kamang sering kali menjadi ruang untuk berdamai dengan diri sendiri.

 

Ada semacam keheningan yang tak kosong di sini. Ia penuh—oleh suara angin, desir ilalang, dan detak halus waktu yang berjalan tanpa tergesa. Seolah danau ini berkata, bahwa hidup tak selalu tentang ke mana kita pergi, tetapi tentang bagaimana kita berhenti sejenak dan benar-benar melihat.

Matahari sore saat itu, di Tarusan Kamang jatuh dengan cara yang puitis. Langit memerah, lalu perlahan menjadi keemasan. Permukaan danau memantulkan warna-warna itu dengan setia, seperti kanvas yang tak pernah lelah menerima lukisan hari. Dan di momen itu, siapa pun yang berdiri di sana akan merasa kecil—bukan dalam arti lemah, tetapi dalam arti sadar bahwa ada sesuatu yang jauh lebih besar sedang bekerja dengan diam-diam.

Tarusan Kamang bukan destinasi yang meminta untuk dipuji. Ia tidak berteriak agar dilihat. Namun justru karena itulah ia berharga. Ia mengajarkan kita untuk kembali pada hal-hal sederhana: diam, sabar, dan menerima. Cobalah anda nikmati dan datanglah. Pasti nuansa itu akan terasa.

Hanya 20 menit dari Kota Bukittinggi, atau 12 kilometer dari Pasar Baso, kita sudah bisa sampai ke destinasi ini. Tapi, untuk mencapai pemandangan yang indah, kita harus bersabar mencapainya. Ada 500 meter jalan tanah berkerikil, berkelok dan agak sempit yang harus dilalui. Selain menikmati keindahan, juga ada lokasi berkemah dengan fasilitas MCK. Sudah tersedia juga homestay di sini. Warga berharap sentuhan tangan pemerintah untuk memajukan destinasi pariwisata ini.

Barangkali, di dunia yang semakin bising, kita memang membutuhkan lebih banyak tempat seperti ini—tempat di mana air bisa datang dan pergi tanpa harus menjelaskan, dan kita bisa belajar bahwa tidak semua hal perlu dipahami untuk bisa diterima. Dan ketika kita akhirnya meninggalkan Tarusan Kamang, yang kita bawa pulang bukan sekadar ingatan tentang sebuah danau. Kita membawa pulang sepotong keheningan—yang diam-diam akan kita rindukan, bahkan saat kita kembali tenggelam dalam hiruk pikuk kehidupan. (*)

Editor : Adriyanto Syafril
#Kamang Magek Agam #Wisata Agam