Kalau masih meragukan kebesaran Sang Pencipta, cobalah berdiri sejenak di Bukit Nobita. Dari ketinggian bukit di pinggiran Padang itu, manusia terasa begitu kecil, hanya setitik debu di tengah hamparan alam yang luas dan megah. Setinggi apa pun jabatan, sebanyak apa pun harta dan kuasa yang dimiliki, tak akan mampu melukis langit senja, lekuk perbukitan, dan gemerlap kota seindah ciptaan-Nya di Bukit Nobita.
Laporan : Jufri Jao
Di sudut selatan Padang, ada sebuah bukit yang belakangan ramai dibicarakan orang. Namanya unik, terdengar akrab di telinga generasi pencinta kartun masa kecil, Bukit Nobita. Meski nama aslinya Bukit Batu Jarang, masyarakat lebih mengenalnya sebagai Bukit Nobita karena suasananya dianggap mirip dengan bukit di belakang sekolah Nobita dalam serial Doraemon.
Bukit ini berada di kawasan Kampung Jua Nan XX, Kecamatan Lubuk Begalung. Sebuah kelurahan di pinggiran Kota Padang. Jalannya tak terlalu sulit ditempuh. Dari pusat Kota Padang, kendaraan dapat melaju menuju kawasan perbukitan hingga akhirnya sampai di lokasi yang kini menjadi tempat favorit menikmati senja.
Dari pusat Kota Padang, Bukit Nobita bisa ditempuh sekitar 20 menit baik menggunakan sepeda motor maupun mobil dengan jarak tempuh sepanjang 10 kilometer. Mulai dari pintu masuk Bukit Nobita, pengunjung melewati jalan tanah menanjak yang penuh bebatuan. Dari bawah sampai puncak bukit, membutuhkan waktu sekitar 15 sampai 20 menit.
Ketika hampir sampai di puncak, pengunjung akan melihat sebuah kapal besar berdiri kokoh di puncak Bukit Nobita. Dari atas kapal akan nampak pemandangan seluruh Kota Padang dari batas paling timur yang dibatasi Bukit Barisan hingga arah barat yang berbatasan dengan Samudera Hindia.
Tidak hanya replika kapal di atas puncak bukit, di kawasan itu juga terdapat 3 kolam berenang dengan kedalam berbeda yang bisa diperuntukkan bagi anak-anak, remaja, sampai dewasa.
Pengelola menyediakan tempat salat dan toilet umum di sana. Pengunjung juga dapat memesan makanan dan minuman sambil menikmati panorama Kota Padang.
Tak ada gedung tinggi. Tak ada hiruk-pikuk kota yang berisik. Yang terdengar hanya angin yang bergerak perlahan membelai pengunjung. Sesekali terdengar suara obrolan pengunjung, dan bunyi kamera ponsel yang mengabadikan pemandangan.
Dari puncak bukit, hamparan Padang terlihat luas. Rumah-rumah kecil berjajar di kejauhan, berpadu dengan lekuk perbukitan yang mengelilingi kota. Saat sore datang, langit perlahan berubah jingga. Matahari turun pelan di balik cakrawala, meninggalkan cahaya hangat yang membuat siapa saja ingin berlama-lama duduk memandang
Ketika malam mulai mengambil alih, suasana berubah semakin magis. Lampu-lampu kota menyala satu per satu, membentuk hamparan city light yang berkilau bak kunang-kunang di kejauhan.
Banyak pengunjung memilih duduk santai menikmati udara malam memandangi Kota Padang dari ketinggian.
Di puncak bukit, berdiri replika perahu kayu yang kini menjadi ikon tempat wisata ini. Dari atas perahu itulah para pengunjung biasanya berfoto dengan latar senja atau gemerlap kota. Spot sederhana itu justru menjadi daya tarik tersendiri karena menghadirkan kesan hangat dan dekat dengan alam
Meski belum dipenuhi fasilitas modern, Bukit Nobita tetap memberi kenyamanan bagi pengunjung. Tersedia area parkir, musala, kamar mandi, hingga warung kecil yang menjual minuman hangat dan makanan ringan. Tak jauh dari lokasi, terdapat pula kolam renang sederhana yang sering menjadi pilihan wisata tambahan bagi keluarga.
Menariknya lagi, tempat wisata ini tidak memungut tiket masuk. Pengunjung hanya perlu membayar biaya parkir kendaraan. Bukit Nobita pun terbuka selama 24 jam, memberi kesempatan bagi siapa saja menikmati suasana pagi, senja, maupun malam dari atas bukit.
Hanya biaya parkir yang dipungut. Untuk kendaraan roda dua Rp3.000,- Dan, untuk kendaraan roda empat Rp5.000,-.
Di dekat lokasi wisata juga terdapat fasilitas kolam renang yang bisa jadi pilihan destinasi wisata lain. Cukup membayar Rp5.000,00 per orang, kita bebas berenang atau bermain air sepuasnya.
“Kalau lapar, kedai-kedai masyarakat, siap memanjkan perut,” ujar Abdi salah seorang pengunjung yang datang ingin menikmati senja yang meninggalkan cakrawala. (*)
Editor : Adriyanto Syafril