Indonesia Sumbar Bisnis Olahraga Gaya Hidup Harian Magazine Otomotif Pariwisata Features Internasional Opini Advertorial Pendidikan Buku & Film Hiburan Kesehatan

Napas Hijau Unand, Oase Sejuk Punggung Kota

Jufri Jao • Sabtu, 6 Juni 2026 | 09:20 WIB
Pengunjung sedang santai di depan Gedung Rektorat Unand. (JUFRI/PADEK)
Pengunjung sedang santai di depan Gedung Rektorat Unand. (JUFRI/PADEK)

Bagi sebagian orang, kampus adalah tempat menimba ilmu. Namun di Universitas Andalas (Unand), kampus kebanggaan Sumatera Barat ini menjelma menjadi ruang “pelarian” yang menenangkan dari hiruk-pikuk kota. Tidak salah rasanya, kawasan ini menjadi planning keluarga di akhir pekan.

Laporan : Jufri Jao

Berada di kawasan Limau Manis, Kecamatan Pauh, Kota Padang, kampus yang berdiri di ketinggian sekitar 200 hingga 450 meter di atas permukaan laut ini menawarkan lebih dari sekadar bangunan perkuliahan. Hamparan pepohonan rindang, udara yang sejuk, serta panorama perbukitan Bukit Barisan menjadikan Unand salah satu ruang terbuka favorit masyarakat untuk berolahraga dan berwisata.

Dengan luas kawasan mencapai sekitar 500 hektare, Unand dikenal sebagai kampus hijau (green campus) yang mendapat pengakuan internasional. Arsitekturnya yang  bernuansa Minangkabau berpadu harmonis dengan  lanskap hutan tropis dan menciptakan suasana yang berbeda dari kebanyakan kampus di Indonesia.

Setiap Sabtu dan Minggu, terutama pada pagi dan sore hari, kawasan kampus dipenuhi masyarakat yang datang untuk joging, bersepeda, atau sekadar menikmati udara segar bersama keluarga. Jalan-jalan kampus yang membelah rimbunnya pepohonan menghadirkan pengalaman berolahraga yang sulit ditemukan di tengah padatnya kawasan perkotaan.

Udara pagi yang kaya oksigen menjadi daya tarik tersendiri. Di bawah naungan pohon-pohon besar, pengunjung dapat merasakan kesejukan alami yang memanjakan paru-paru dan menenangkan pikiran.

Akses menuju kampus pun relatif mudah. Dari pusat Kota Padang, perjalanan menuju Unand dapat ditempuh dengan kendaraan pribadi maupun transportasi umum. Sepanjang jalan menuju kampus, berjejer  kafe dan tempat nongkrong yang menjadi pilihan anak muda untuk menghabiskan waktu selepas beraktivitas.
Menjelang senja, wajah Unand berubah semakin hidup. Dari gerbang utama hingga ruas jalan menuju fakultas-fakultas, langkah kaki para pelari berpadu dengan tawa mahasiswa dan semilir angin yang turun dari perbukitan. Di waktu seperti inilah kampus terasa bukan hanya milik sivitas akademika, tetapi juga milik masyarakat.

“Saya memilih Unand karena lingkungannya sejuk saat sore hari, perpohonan rindang tropis yang membelah kampus sulit untuk dilupakan,“ujar Adek salah seorang pengunjung yang  ditemui di kawasan kampus Unand.

Kalimat sederhana itu mewakili alasan banyak warga Padang menjadikan Unand sebagai tujuan berolahraga. Udara yang bersih, suhu yang lebih sejuk dibandingkan pusat kota, serta pemandangan alam yang memanjakan mata membuat setiap langkah terasa lebih ringan.

Di kiri dan kanan jalan, pepohonan besar berdiri seperti payung alami yang melindungi para pelari dari sengatan matahari. Sesekali terdengar gemericik air dari saluran kecil di tepi jalan, menambah syahdu suasana sore.

 

Setiap hari, jalur utama kampus menjadi ruang perjumpaan berbagai kalangan. Mahasiswa berlari santai, komunitas pesepeda melintas, sementara warga sekitar menikmati waktu dengan berjalan kaki bersama keluarga.

Minimnya kendaraan bermotor pada jam-jam tertentu membuat suasana semakin nyaman. Jalan yang lebar dan relatif landai memungkinkan siapa saja berolahraga dengan aman dan leluasa.

“Kalau sore, enak sekali di sini. Tidak terlalu ramai kendaraan, udaranya segar, dan pemandangannya bagus,” kata seorang mahasiswa yang tengah beristirahat di tepi jalan.

Di tengah kehidupan kota yang kian sibuk dan tingkat polusi yang terus meningkat, kawasan Unand hadir sebagai ruang alternatif yang menawarkan keseimbangan antara aktivitas dan ketenangan. Kampus ini bukan hanya tempat mencetak generasi masa depan, tetapi juga menjadi ruang hijau yang menjaga kualitas hidup masyarakat.

Saat matahari perlahan tenggelam di balik perbukitan Limau Manis, bayangan pepohonan memanjang di sepanjang jalan kampus. Namun langkah para pelari masih terus terdengar. Di kampus hijau ini, denyut gaya hidup sehat seolah tak pernah berhenti, mengalir bersama angin sore yang setia menyapa dari hari ke hari. (*)

Editor : Adriyanto Syafril
#Palanta Wisata