BALI seolah tak lagi hanya berada di seberang laut. Di kaki Gunung Talang, tepatnya di Banda Balantai, Ampang Kualo, Kelurahan Kampung Jawa, Kecamatan Tanjung Harapan, Kota Solok, nuansa Pulau Dewata hadir dalam balutan udara pegunungan yang sejuk dan hamparan taman yang tertata rapi.
Laporan : Dila Kartiko Sari dan Jufri Jao
Di sanalah The Balibis Farm House Gar den Resto berdiri. Bukan sekadar tempat menikmati hidangan, tetapi ruang untuk merasakan tenang, memandang hijau, dan membiarkan waktu berjalan sedikit lebih lambat.
Mengusung tagline Taste Nature, Feel Bali, destinasi ini memadukan konsep farm house, taman terbuka, serta sentuhan arsitektur khas Bali dalam satu kawasan. Setiap sudutnya dirancang menghadirkan pengalaman yang bukan hanya memanjakan lidah, tetapi juga memikat mata.
Salah seorang pengunjung asal Padangpanjang, Misdawati (50), mengaku terkesan dengan konsep yang ditawarkan.
“Tempat ini berbeda. Wisata kulinernya menyatu dengan alam. Suasananya tenang, nyaman, dan cocok untuk keluarga. Hanya saja, menurut saya lahannya kurang luas, mudah-mudahan pengelola bisa menambah lokasinya,” ujarnya.
Menurut dia, harga tiket masuk pun cukup terjangkau, yakni Rp15 ribu untuk orang dewasa dan Rp10 ribu bagi anak-anak, sementara biaya parkir digratiskan.
“Waktu saya datang saat libur, harga tiket memang berbeda dengan hari biasa. Kalau tarif pada hari biasa saya belum tahu,” katanya.
Di The Balibis, pengunjung bebas memilih cara menikmati suasana. Ada yang bersantai sembari mencicipi aneka hidangan, ada yang berburu foto di berbagai sudut bernuansa Bali, ada pula yang sekadar menikmati semilir angin pegunungan dengan sepiring mdari beras Solok yang tersaji hangat. Rasanya, waktu pun enggan beranjak. Tidak salah rasanya, tempat ini menjadi tempat pilihan libur keluarga. Tapi yang datang dari luar Kota Solok arah Kota Padang, hati-hati melewati jalan di Sitinjau Lauik yang penuh tanjakan
Konsep yang diusung menghadirkan sensasi berwisata yang berbeda dari destinasi wisata alam di Sumbar yang masih mengandalkan alam. Tapi The Balibis suasana khas Bali menjadi daya tarik tersendiri tanpa mengharuskan wisatawan menyeberang pulau.
Lokasinya pun mudah dijangkau. Dari Kota Padang, The Balibis berjarak sekitar 65 hingga 70 kilometer dengan waktu tempuh sekitar 1,5 sampai 2 jam melalui jalur Padang-Solok. Dari pusat Kota Solok, perjalanan hanya sekitar 10 hingga 15 menit atau sekitar 3 sampai 5 kilometer.
Lebih dari sekadar destinasi wisata, The Balibis dibangun dengan semangat kolaborasi antara dunia pendidikan, dunia usaha, dan kreativitas generasi muda. Konsep tersebut diwujudkan dalam ruang yang tidak hanya nyaman untuk berekreasi, tetapi juga edukatif dan ramah keluarga.
Kawasan ini dirancang sebagai ruang terbuka multifungsi. Selain restoran dan taman, tersedia area yang dapat dimanfaatkan untuk kegiatan komunitas, pembelajaran, hingga pertunjukan seni dan budaya.
Inilah yang membuat The Balibis memiliki karakter berbeda. Wisata, kuliner, edukasi, dan ruang kreatif berpadu dalam satu kawasan. Pengunjung dapat menikmati atmosfer Bali tanpa harus meninggalkan Sumatera Barat, sekaligus merasakan kesejukan alam Kota Solok yang masih terjaga. Kehadiran destinasi ini juga diharapkan membawa dampak yang lebih luas. Tidak hanya menjadi tujuan rekreasi baru, tetapi juga membuka peluang usaha, menyerap tenaga kerja lokal, dan menggerakkan roda perekonomian masyarakat sekitar.
Fasilitas yang tersedia pun cukup lengkap, mulai dari restoran dan area kuliner, taman terbuka hijau, spot foto bernuansa Bali, hingga ruang untuk kegiatan komunitas, edukasi, dan pertunjukan seni budaya.
Seluruh kawasan dirancang ramah keluarga dengan harga tiket yang tetap terjangkau.
Ketika senja perlahan menurunkan cahaya keemasan di antara pepohonan, The Balibis menghadirkan sesuatu yang lebih dari sekadar tempat makan atau tujuan berlibur. Ia menjadi ruang tempat alam, budaya, dan kebersamaan bertemu dalam satu lanskap yang hangat. Dari Kota Solok, seiris Bali kini tumbuh di Ranah Minangmengundang siapa saja untuk singgah, menikmati, lalu pulang membawa cerita. (*)
Editor : Adriyanto Syafril