Takbiran yang awalnya dimulai pukul 19.30 ini, sempat tertunda selama 1,5 jam, sampai pukul 21.00 sambil menunggu hujan reda.
Seperti yang diketahui, hujan deras disertai angin kencang melanda Kota Pariaman setelah magrib, sehingga tempat pelaksanaan malam Takbiran di Lapangan Merdeka yang diprediksi akan membeludak, disebabkan cuaca yang tidak bersahabat, hanya dihadiri ASN dan Non ASN serta pelajar yang ditunjuk oleh sekolah untuk memeriahkan malam takbiran ini.
“Awalnya kita memprediksi jumlah masyarakat baik dari ranah mapun perantau yang datang akan banyak, tetapi karena hujan yang mengguyur Kota Pariaman dari sore, akhirnya kita lakukan takbiran secara seremoni saja,” ujar Genius Umar.
Genius menuturkan memang sudah menjadi kebiasaan, bahwa malam Takbiran dan Hari Raya Idul Fitri dirayakan dengan meriah. “Alhamdullilah, di Hari Raya Idul Fitri ini, kita dapat bertemu dan bersuka-cita menyambut bulan kemenangan, 1 Syawal 1443 Hijriyah, dan setelah mendengar dan menerima masukan dari tokoh-tokoh masyarakat, maka kami mengembalikan kembali fungsi Lapangan Merdeka ini sebagai tanah lapang dan alun-alunnya Kota Pariaman, dan diawali pemakaianya dengan kegiatan malam Takbiran yang kita laksanakan pada malam ini,” terangya.
Genius juga menekankan kepada petugas keamanan, baik Polri, TNI, Perhubungan, Pol PP dan PMI, untuk siaga mengamankan, menciptakan rasa aman dan nyaman masyarakat dan pengunjung yang datang.
“Malam ini, sangat ramai masyarakat mengikuti malam takbiran sembari berbelanja kebutuhan lebaran, apalagi di sepanjang jalan dari Pasar Pariaman, Simpang Tabuik sampai Simpang Amadin, Kelurahan Kampung Jawa I, dipadati pedagang musiman yang menjajakan dagangnya, sehingga transaksi ekonomi di Kota Pariaman semakin tinggi,” tutupnya. (*)
Editor : Hendra Efison