Indonesia Sumbar Bisnis Olahraga Gaya Hidup Harian Magazine Otomotif Pariwisata Features Internasional Opini Advertorial Pendidikan Buku & Film Hiburan Kesehatan

Maarak Saroban Tabuik Pariaman Dipadati Warga, Tradisi Basalisiah Ditiadakan

Hendra Efison • Sabtu, 5 Juli 2025 | 12:13 WIB

Prosesi Maarak Saroban Tabuik Pariaman, tradisi sakral yang sarat makna simbolis, memperingati perjuangan Husein dan menyatukan masyarakat dalam budaya penuh nilai.
Prosesi Maarak Saroban Tabuik Pariaman, tradisi sakral yang sarat makna simbolis, memperingati perjuangan Husein dan menyatukan masyarakat dalam budaya penuh nilai.
PADEK.JAWAPOS.COM—Ribuan masyarakat memadati lokasi prosesi ketujuh dalam rangkaian pembuatan Tabuik Budaya Pariaman, yakni Maarak Saroban, yang digelar pada hari kedelapan Muharram 1447 H, Sabtu (13/7/2025) malam.

Dua kelompok anak tabuik, Tabuik Pasa dan Tabuik Subarang, kembali ambil bagian dalam tradisi tahunan tersebut.

Maarak Saroban bukan sekadar arak-arakan biasa. Prosesi ini sarat makna simbolik sebagai pengingat perjuangan Husein, cucu Nabi Muhammad SAW, dalam melawan kezaliman pada peristiwa Karbala.

Biasanya, kedua kelompok tabuik akan saling berhadapan atau melewati satu sama lain dalam nuansa kompetitif yang dikenal sebagai "basalisiah".

Namun berbeda dari tahun-tahun sebelumnya, malam ini prosesi basalisiah ditiadakan. Keputusan ini diambil oleh Pemerintah Kota Pariaman bersama kedua belah pihak tuo tabuik, guna mencegah potensi konflik yang dapat mengganggu jalannya acara.

“Untuk malam ini proses basalisiah di acara maarak saroban memang kami tiadakan setelah melalui rapat evaluasi dengan tuo tabuik pasa dan tuo tabuik subarang, guna menghindari terjadinya hal-hal yang tidak diinginkan,” ujar Plt. Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kota Pariaman, Ferialdi.

Ia menjelaskan bahwa ketegangan antar kelompok sudah mulai terasa sejak prosesi awal pengambilan tanah untuk tabuik hingga maarak jari-jari.

Selain itu, waktu yang singkat antara prosesi dan puncak acara menjadi alasan tambahan ditiadakannya ritual basalisiah.

“Atas kesepakatan kedua belah pihak dari tuo tabuik pasa dan tuo tabuik subarang maka basalisiah ditiadakan tanpa mengurangi esensi dari acara prosesi maarak saroban yang dilakukan malam ini,” tambah Ferialdi.

Meskipun tidak terjadi konflik antar kelompok, masyarakat tetap antusias mengikuti prosesi. Pertunjukan yang disuguhkan tetap menarik dan sarat nilai budaya.

Firman Syakri Pribadi atau Adjo Fe, tokoh masyarakat dan pengamat seni serta pariwisata Kota Pariaman, menyambut baik keputusan tersebut.

“Walaupun tidak terjadi perselisihan malam ini, tapi pertunjukan yang diberikan oleh dua kelompok tabuik masih bisa memberikan tontonan yang menarik bagi pengunjung, dan tidak menghilangkan makna dari prosesi tabuik itu sendiri,” ujarnya.

Adjo Fe juga menegaskan pentingnya pelestarian tabuik sebagai identitas kolektif warga Pariaman.

Menurutnya, tradisi ini menguatkan silaturahmi, gotong royong, solidaritas, serta menjadi momen bagi perantau untuk kembali ke kampung halaman.

“Secara pribadi saya sangat mendukung sekali tabuik ini diadakan karena memberikan dampak dan manfaat yang positif untuk kita warga Pariaman,” tegasnya.

Tradisi Tabuik akan terus berlanjut menuju puncaknya pada 10 Muharram. Pemerintah dan panitia berharap seluruh prosesi berlangsung aman dan tetap menjaga kekhusyukan nilai budaya yang telah diwariskan secara turun-temurun.(*)

Editor : Hendra Efison
#Festival Pesona Tabuik Pariaman #Maarak Saroban Tabuik Pariaman Dipadati Warga #Tradisi Basalisiah Ditiadakan