Kegiatan ini mempertemukan para santri dari berbagai MDTA dengan empat cabang lomba, yaitu tilawah, hafizd juz 30, pidato, dan cerdas cermat.
Yota Balad menyampaikan apresiasi terhadap penyelenggaraan Porsadin sebagai ajang penguatan karakter sekaligus peningkatan kompetensi santri.
Ia menegaskan bahwa kegiatan ini selaras dengan visi Pemerintah Kota Pariaman, terutama program Satu Rumah Satu Hafidz serta upaya menjadikan Kota Pariaman sebagai kota risalah.
Menurut Yota Balad, Porsadin menjadi indikator kemampuan santri dalam memahami ajaran Islam dan Al-Qur'an.
Ia menilai kegiatan tersebut penting untuk membentuk generasi yang mampu membaca dan menghayati Al-Qur'an dengan baik.
Ia menambahkan, para peserta Porsadin diharapkan dapat menjadi pelopor perubahan di lingkungannya.
“Melalui anak-anak yang hebat ini, nantinya bisa menjadi agen perubahan agar adab dan akhlaknya semakin baik,” ujarnya.
Dalam kesempatan tersebut, Yota Balad juga menyoroti penggunaan media sosial di kalangan pelajar.
Ia menegaskan bahwa Pemerintah Kota Pariaman akan mengaktifkan kembali program Magrib Mengaji yang difokuskan bagi anak sekolah di setiap desa.
Program tersebut diarahkan untuk memperkuat kebiasaan membaca Al-Qur'an dan meningkatkan kualitas akhlak generasi muda.
Selain itu, ia menyampaikan bahwa siswa yang akan melanjutkan pendidikan ke tingkat SMP sederajat diwajibkan memiliki sertifikat baca tulis Al-Qur'an dari MDTA.
Sertifikat tersebut harus ditandatangani guru yang berkompeten sebagai bukti kemampuan dasar membaca dan menulis Al-Qur'an.
Kegiatan Porsadin 2025 berlangsung dengan dukungan masyarakat dan lembaga pendidikan keagamaan di Kota Pariaman.
Ajang ini diharapkan dapat melahirkan santri berprestasi sekaligus memperkuat pondasi keagamaan generasi muda di daerah tersebut.(*)
Editor : Hendra Efison