PADEK.JAWAPOS.COM—Petani di Kayutanam, Padangpariaman, meminta pemerintah menata permanen jalur irigasi di area Kapalo Banda Pasa Surau Cimangkuang setelah aliran air sempat terbendung material luapan Sungai Batang Anai.
Endapan pasir dan batu padat sebelumnya menutup total alur irigasi yang menjadi tumpuan utama pengairan sawah warga. Kondisi itu sempat membayangi petani dengan ancaman gagal tanam.
Nanda Andika Saputra, warga Kayutanam, mengatakan warga sempat kesulitan membersihkan endapan secara manual. Selain alur air yang panjang, tenaga gotong royong (goro) yang tersedia sangat terbatas dan didominasi warga lanjut usia.
Persoalan juga semakin kompleks karena lokasi Kapalo Banda berada di wilayah Nagari Guguak.
"Warga setempat tidak memiliki kepentingan langsung terhadap aliran air tersebut, sementara Petugas Penyuluh Lapangan (PPL) Kayutanam terbentur kendala batas wilayah administratif untuk turun tangan secara langsung," ujarnya.
Goro Berhasil Buka Kembali Aliran Air
Meski menghadapi berbagai kendala, gotong royong lintas warga akhirnya berhasil membuka kembali aliran air. Saat ini, air sudah kembali mengalir ke sawah-sawah petani.
Namun, kondisi tersebut belum memberikan kepastian jangka panjang bagi petani. Mereka khawatir luapan Sungai Batang Anai kembali membawa pasir dan batu hingga menutup jalur air, terutama ketika tanaman padi memasuki masa kritis dan membutuhkan pasokan air.
"Kami dan para petani berharap penanganan tidak boleh berhenti pada pengerukan endapan secara manual. Pembentukan dan penataan ulang jalur air secara teknis sangat mendesak dilakukan sebagai langkah antisipasi jangka panjang," ujar Nanda.
Akses Alat Berat Jadi Kendala Utama
Wali Nagari Guguak, Ahmad Yuni Kamil, mengatakan partisipasi warga dalam kegiatan gotong royong sebenarnya berjalan baik dan tidak menghadapi kendala sosial.
Menurutnya, persoalan utama untuk melakukan penataan permanen justru terletak pada kondisi teknis di lapangan. Lokasi Kapalo Banda belum memiliki akses yang memungkinkan alat berat masuk.
"Kegiatan gotong royong warga sebenarnya tidak pernah bermasalah. Namun, kendala utama kita di lapangan saat ini adalah ketiadaan akses atau jalur masuk untuk menurunkan alat berat ke lokasi Kapalo Banda," ujar Ahmad Yuni Kamil.
Tanpa akses bagi alat berat, penataan ulang konstruksi banda secara permanen sulit direalisasikan.
Petani kini berharap pemerintah daerah menghadirkan solusi lintas sektor untuk membuka akses alat berat. Langkah tersebut dinilai penting agar penataan irigasi tidak kembali bergantung pada pengerukan manual setiap kali luapan Sungai Batang Anai menimbun jalur air.(*)
Editor : Hendra Efison