51 Relawan Pariaman Dilatih Tangani Trauma dan Kekerasan Berbasis Gender saat Bencana

ZikriNiati ZN • Dipublikasikan Rabu, 14 Oktober 2026 | 19:50 WIB
Wali Kota Pariaman Yota Balad membuka pelatihan Psychological First Aid bagi 51 relawan untuk memperkuat pendampingan psikologis dan pencegahan kekerasan berbasis gender dalam situasi darurat, Rabu (14/10/2026).
Wali Kota Pariaman Yota Balad membuka pelatihan Psychological First Aid bagi 51 relawan untuk memperkuat pendampingan psikologis dan pencegahan kekerasan berbasis gender dalam situasi darurat, Rabu (14/10/2026).

PADEK.JAWAPOS.COM — Sebanyak 51 relawan di Kota Pariaman mengikuti pelatihan bantuan pertama psikologis atau Psychological First Aid (PFA) untuk memperkuat pendampingan terhadap kelompok rentan di lokasi bencana dan situasi darurat.

Pelatihan yang diinisiasi Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, dan Keluarga Berencana (DP3AKB) Kota Pariaman itu berlangsung selama dua hari, 14–15 Oktober 2026. Wali Kota Pariaman Yota Balad membuka kegiatan tersebut di Aula Pertemuan RM Sambalado, Desa Simpang, Kecamatan Pariaman Selatan, Rabu (14/10/2026).

Yota mengatakan perempuan dan anak-anak termasuk kelompok yang berisiko mengalami trauma psikologis ketika bencana terjadi. Karena itu, relawan perlu memiliki keterampilan untuk memberikan dukungan emosional sekaligus membantu penyintas memperoleh layanan yang dibutuhkan.

“Kehadiran relawan yang memiliki keahlian Psychological First Aid atau bantuan pertama psikologis mutlak diperlukan di lapangan. Bagaimana memberikan rasa aman, mendengarkan secara empatik, membantu memenuhi kebutuhan mendesak, serta memfasilitasi akses terhadap layanan yang dibutuhkan,” ujar Yota.

Relawan Tak Hanya Bertugas Membantu Evakuasi

Menurut Yota, penanganan bencana tidak cukup mengandalkan bantuan fisik dan proses evakuasi. Relawan juga perlu memahami cara merespons tekanan emosional serta mengenali risiko kekerasan berbasis gender yang berpotensi muncul dalam situasi darurat.

Ia berharap peserta mampu memberikan perlindungan emosional, melakukan pencegahan dini, dan menangani kasus kekerasan yang berpotensi terjadi di posko pengungsian.

“Kita ingin para relawan tidak hanya sigap dalam melakukan evakuasi fisik, tetapi juga mampu memberikan perlindungan emosional, melakukan pencegahan dini, serta menangani kasus kekerasan yang berpotensi terjadi di posko pengungsian,” tegasnya.

Pembekalan ini diharapkan memperkuat kesiapan relawan dalam menghadapi kebutuhan penyintas yang beragam. Selain bantuan dasar, penyintas mungkin membutuhkan ruang aman, pendampingan yang empatik, serta akses ke layanan yang sesuai dengan kondisi mereka.

Pelatihan Berlangsung Dua Hari

Yota meminta seluruh peserta mengikuti pelatihan dengan sungguh-sungguh agar kesiapsiagaan menghadapi situasi darurat semakin baik. Ia juga mengingatkan relawan agar menghadirkan rasa aman dan kepedulian saat membantu masyarakat terdampak.

“Jadilah relawan yang tidak hanya sigap dalam memberikan bantuan, tetapi juga mampu menghadirkan ketenangan, harapan, dan rasa kemanusiaan bagi sesama,” tutupnya.

Pelatihan PFA tersebut merupakan bagian dari upaya Pemerintah Kota Pariaman meningkatkan kapasitas sumber daya manusia relawan, terutama dalam mendukung perlindungan perempuan dan anak di lokasi bencana.

Dalam pembukaan kegiatan, turut hadir Plt. Kepala DP3AKB Kota Pariaman Ika Septia Maulana beserta jajaran, narasumber pelatihan, dan para relawan peserta.(*)

Editor : Hendra Efison
kekerasan berbasis gender Pelatihan PFA Pariaman relawan bencana Pariaman perlindungan perempuan dan anak