Rumah adat dengan arsitekktur Minang dihiasi gonjong yang tersusun rapi. Menambah keindahan pemandangan serta semangat wisatawan untuk mengambil momen berfoto bersama. Seperti apa potensi wisatanya?
Tarian Minang yang gemulai dengan menambahkan tem purung sebagai sarana pelengkap indahnya tarian yang ditampilkan. Membuat semangat para wisatawan menikmati kebudayaan yang sesungguhnya karena tarian tersebut dibawakan oleh ibu-ibu yang sudah tidak muda lagi.
Itulah salah satu atraksi ketika berkunjung ke kawasan seribu rumah gadang, Solok Selatan. Apalagi sensasi menginap di rumah gonjong/rumah gadang yang berumur ratusan tahun. Bagi orang Minang, hal yang biasa tapi bagi wisatawan inilah yang luar biasa dan unik.
Pasalnya betapa terasa kebersamaan di keluarga Minang. Bercengkrama dan becanda gurau bersama di rumah gadang membuat wisatawan semakin merasakan betapa kuatnya ikatan antara satu dan yang lainnya.
Pagi harinya Anda akan disuguhkan dengan sarapan pagi khas masakan penduduk setempat ditambah makanan pelengkap pangek pisang (rekor Muri tahun 2016). Kemudian Anda akan melakukan perjalanan ke kawasan geopark Gua Batu Kapal (GBK) di Kecamatan Sangir Balai Janggo.
Yang mempunyai keindahan yang eksotik didalamnya dengan stalagtit dan stalagmit. Keelokan pesona wisata alam GBK di hamparan perkebunan kelapa sawit di Jorong Ngalau Indah, Nagari Sungai Kunyit Barat sudah menyita perhatian wisatawan lokal dan manca negara.
Kemegahan dan keunikan ukiran mahakarya alam dinding gua mulai dari pintu masuk hingga ke lorong gua sungguh menghipnotis setiap pengunjung. Disana tidak terasa waktu telah dihabiskan berjam-jam. Begitulah magnet wisata alam nan mempesona itu menyentuh perasaan manusia.
Antara gua satu, dua, tiga dan empat, tidak sekadar menawarkan nilai sensasi yang kharismatik bak rupawan bidadari selayang pandang hadir menjelma dan memukau para pengunjung.
Bahkan kemegahan Gunung Kerinci yang menjulang tinggi pun akan terlihat memperindah hamparan alam sekitar gua dan permukiman penduduk dari puncak gua dengan ketinggian 26 meter itu, sangat cocok di siang hari untuk mengabadikan momen selfi matahari.
Dari puncak, hembusan angin sepoi-sepoi bisa menembus ke hati pengunjung, pohon-pohon pelindung kelapa sawit pun terlihat menari dari arah kejauhan. Gua batu karang tersebut memiliki kedalaman 26 meter, menjulang dengan ketinggian 86 meter.
Kondisi tubuhnya persis sama menyerupai sebuah kapal yang terdampar di daratan, sehingga di namai Goa Batu Kapal oleh pemerintah kecamatan setempat. Gua tersebut berjarak 45 kilometer dari Padangaro, pusat Kabupaten Solok Selatan.
Sekitar 194 kilometer dari Kota Padang, atau butuh waktu sekitar 5,5 jam perjalanan dengan kendaraan roda empat. Gua itu mulai populer di tahun 2017 lalu. Penikmat wisata tidak sekedar punya kenangan lewat swafoto dengan latar berjuta akrobatik keunikan ukiran gua yang berwarna warni.
Ada lukisan alam menyerupai kapal lecil, organ tubuh manusia, seperti seseorang sedang berdoa, bentuk binatang, apalagi ada jelmaan cahaya fantastik muncul dari langit dan lorong gua satu.
Jika siang datang berkunjung maka sensasi ini akan bisa dinikmati. Serta di perjalanan dapat menikmati indahnya pemandangan kebun teh yang berkualiatas dunia begitu mempesona.
Setelah pulang dari menikmati keindahan gua batu kapal, tidak lengkap rasanya kalau tidak memanjakan badan yang capek berendam di air panas kawasan hot water boom Solok Selatan.
Sumber mata air panas yang konon kabarnya akan memberikan kebugaran kembali dan akan memperlancar aliran darah yang sangat berguna bagi wisatawan mempunyai penyakit hipertensi dan stroke.
Ketua DPD Asita Sumbar Arlan Dikusnata menyebutkan keindahan alam dan budaya menjadi daya tarik bagi wisatawan. Apalagi yang berasal dari luar negeri.
“Ini terus dikonsep dan ditawarkan ke wisatawan. Dan selama ini apresiasi didapatkan ketika berkunjung ke sini,” katanya. “Ayo datanglah ke Solok Selatan, nagari saribu rumah gadang, nagari sarantau sasurambi,” ajaknya. (*) Editor : Novitri Selvia