di perbatasan Kota Bukittinggi dan Kabupaten Agam. Dengan kontur alam berupa ngarai dan sungai Sianok yang berliku menyusuri jalur ngarai menambah eksotis pemandangan alam di lokasi ini. Salah satu cara untuk melihat keindahan alam Ngarai Sianok adalah dengan mengunjungi Janjang Koto Gadang. Seperti apa ceritanya?
Selain bentangan alam, rindangnya pepohonan, serta keasrian udara di lokasi ini, menjadi salah satu alasan kenapa Ngarai Sianok mesti dikunjungi, terutama bagi mereka yang ingin rehat dari rutinitas yang sibuk dan padat. Tidak hanya itu, suara alam mulai dari desir angin, kicau burung dan berbagai hewan lainnya menambahkan pesona Ngarai Sianok.
Dengan segala daya tariknya, berbagai objek wisata berkembang di sekitaran Ngarai Sianok. Salah satunya adalah Janjang Koto Gadang atau yang lebih populer dengan sebutan Great Wall Koto Gadang. Objek wisata dengan arsitektur menyerupai Tembok Besar di Tiongkok ini diresmikan pada tahun 2013 lalu.
Terletak di wilayah Nagari Kotogadang, Kecamatan IV Koto, Kabupaten Agam, janjang ini memiliki panjang sekitar satu kilometer menurun mengikuti tebing Ngarai Sianok. Pada bagian terdapat sebuah jembatan yang menghubungkan Kabupaten Agam dan Kota Bukittinggi.
Dengan kata lain, untuk bisa sampai ke lokasi eksotis ini, pengunjung bisa masuk dari Kota Bukittinggi atau dari Nagari Koto Gadang. Jika memilih pintu masuk dari Kota Bukittinggi, pengunjung harus menempuh jarak sekitar 6,5 kilometer dengan waktu tempuh sekitar 20 menit melewati jalur yang lumayan banyak tikungannya.
Setelah menempuh perjalan tersebut, pengunjung akan sampai di bagain bawah dari jenjang ini. Artinya untuk mencapai puncak mesti butuh usaha ekstra untuk mendaki.
Di sisi lain, jika memilih untuk masuk melalui Nagari Kotogadang, pengunjung akan langsung sampai di bagian puncak dari Janjang Koto Gadang. Dari Kota Bukittinggi, untuk mencapai pintu masuk ini berjarak sekitar 8,5 kilometer dengan waktu tempuh sekitar 23 menit.
Selain pemandangan teduh dan sejuk di sepanjang menyusuri Janjang Koto Gadang ini, pada bagian puncak Janjang Koto Gadang kita bisa melihat lepas jejeran Ngarai Sianok dengan bentang yang sangat luas. Tebing ngarai yang berbelok dan diikuti area perbukitan yang hijau dan asri, panorama ini tentu sangat sayang jika dilewatkan sebagai objek foto.
Di pertengahan jalan, ada sebuah spot yang memang disediakan bagi pengunjung untuk beristirahat setelah menyusuri sebagian jenjang ini. Lokasi ini tentu juga sangat cantik untuk mengambil foto.
Kemudian pada bagian bawah dari Janjang Koto Gadang, terdapat sebuah jembatan yang menghubungkan antara Kabupaten Agam dan Kota Bukittinggi. Jembatan dengan panjang 42 meter ini berada tepat di atas aliran air batang Ngarai Sianok. Dengan kata lain, pengunjung bisa melihat sungai dengan lebih dekat.
Salah seorang pengunjung Akbar Rinaldi, 24, kepada Padang Ekspres mengatakan, bentang alam dari lokasi ini merupakan daya tarik utama dari Janjang Koto Gadang.
“Pemandangan di sini sangat eksotis, alami dan masih sangat asri. Ini tentu sangat menarik. Karena harus mendaki atau menurun yang butuh energi ekstra, jadi bagi yang ingin ke sini tentu harus siap untuk hal ini,” ujarnya.
Pengunjung yang berasal dari Kota Padang ini menyebutkan lokasi Janjang Koto Gadang yang masih berada di Kota Bukittinggi membuat lokasi ini cukup mudah untuk diakses.
“Kalau Kota Bukittinggi tentu sudah sangat popular. Branding sebagai kota wisata sudha sangat kuat. Ini tentu juga berdampak baik bagi lokasi wisata yang ada di sekitar Kota Bukittinggi termasuk bagi Janjang Koto Gadang ini,” tambahnya.
Selain itu, salah satu hal alasan lain untuk datang ke lokasi ini adalah keunikan Nagari Kotogadang itu sendiri. Dimana Kotogadang merupakan nagari asal banyak pahlawan di masa awal pembentukan negara Indonesia.
“Ada banyak tokoh nasional yang berasal dari Kotodadang seperti Agus Salim, Rohana Kudus dan tokoh lainnya. Jadi selain datang ke lokasi ini, pengunjung bisa melakukan wisata sejarah ke kampung halaman para pejuang. Salah satu tempat bersejarah yang ada di nagari ini adalah Rumah Kerajinan Amay Setia yang dibangun oleh Rohana Kudus,” jelasnya. (RIAN AFDOL—Bukittinggi) Editor : Novitri Selvia