Seperti apa ceritanya?
Museum Rumah Kelahiran Bung Hatta terletak di Jorong Batungpanjang, Nagari Sungaibatang, Kecamatan Tanjungraya, Kabupaten Agam, Sumatera Barat (Sumbar).
Didirikan ulang di atas tapak rumah kelahiran Buya Hamka yang sebelumnya sempat hancur pada masa pendudukan Jepang. Pembangunan ulang rumah ini sebagai museum dimulai pada tahun 2000 lalu.
Pembangunan museum ini terlaksana berkat kerja sama dari Angkatan Belia Islam Malaysia (ABIM), pihak keluarga Buya Hamka, serta Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Agam dan Pemerintah Provinsi (Pemprov) Sumbar kala itu.
Pembangunannya memakan waktu sekitar satu tahun dan kemudian diresmikan pada tahun 2001. Museum ini dibangun tepat di tapak rumah kelahiran Buya Hamka, dengan tetap mempertahankan bentuk aslinya.
Bangunan ini terletak cukup tinggi dari bidang jalan yang membuat view bangunan ini terlihat semakin megah. Terdiri dari beberapa tiga ruang. Salah satunya kamar tidur Buya Hamka semasa kecil. Di kamar ini juga tersimpan sejumlah jubah yang pernah dipakai oleh Buya Hamka semasa hidup.
Kemudian di ruang kedua ada semacam ruang tamu. Di sini terdapat meja dan kursi peninggalan orangtua Buya Hamka. Di dindingnya juga terpajang sejumlah foto yang berkaitan dengan Buya Hamka.
Sementara di ruang berikutnya, pengunjung bisa melihat sejumlah koleksi buku karya Buya Hamka, kemudian sejumlah barang yang pernah digunakan oleh Buya Hamka. Koleksi barang tersebut mulai belasan tongkat yang pernah dipakai oleh Buya Hamka hingga mesin ketik yang digunakan oleh Buya Hamka untuk menulis.
Selain itu, di museum ini juga dipajang replika berbagai benda lain semisal, layangan dan sejumlah permainan tradisional anak nagari yang disebutkan sebagai beberapa jenis permainan yang acapkali dimainkan oleh Buya Hamka semasa kecil.
Secara keseluruhan Museum Rumah Kelahiran Buya Hamka ini juga menampilkan berbagai foto Buya Hamka di masa kecil serta foto-foto beliau saat menghadiri berbagai kegiatan penting.
Putra bungsu Buya Hamka Amir Syakib Arsalan kepada Padang Ekspres menyebutkan bahwa sedikit demi sedikit ada perhatian yang lebih besar dari masyarakat dan Pemkab Agam untuk terus merawat dan meneruskan pemikiran Buya Hamka.
“Tentu kita ingin ada peningkatan ke arah yang lebih baik. Saat ini kami melihat perhatian masyarakat dan pemerintah pada museum ini terus tumbuh. Terkait masyarakat, bisa kita lihat dari tingkat kunjungan yang tinggi,” ujarnya.
Untuk Pemkab Agam sendiri menurutnya cukup memberikan perhatian dengan disediakannya sejumlah fasilitas dan beberapa iven yang ikut mempopulerkan kembali pikiran Buya Hamka.
“Selain fasilitas seperti operasional dan perawatan saya melihat ada sejumlah iven yang dilaksanakan pemerintah daerah seperti membuat iven menulis terkait pemikiran Buya Hamka, atau iven lain yang dapat menyokong gerak museum dan merawat gagasan Buya Hamka di masyarakat terutama pelajar,” tambahnya.
Meskipun demikian Amir menilai, perhatian dari masyarakat dan pemerintah mesti terus ditingkatkan dan tidak boleh berhenti mengingat Buya Hamka salah satu tokoh penting yang memiliki pemikiran dengan pengaruh luas baik secara nasional dan internasional.
“Kalau berbicara terkait apresiasi dari negara tetangga, menurut saya sangat luar biasa. Terutama dari Angkatan Belia Islam Malaysia (ABIM), mulai sejak pembangunan museum ini hingga sekarang mereka masih terus secara rutin berkunjung dan memberikan perhatian,” sebutnya.
Menurutnya, ini merupakan penanda bahwa Buya Hamka tidak hanya berpengaruh di Indonesia tapi pengaruhnya juga sampai ke negara Jiran Malaysia. “Dalam hal mengapresiasi dan merawat pemikiran Buya Hamka jangan sampai Malaysia lebih baik dari kita,” tambahnya. (RIAN AFDOL— Agam)
Editor : Novitri Selvia