Indonesia Sumbar Bisnis Olahraga Gaya Hidup Harian Magazine Otomotif Pariwisata Features Internasional Opini Advertorial Pendidikan Buku & Film Hiburan Kesehatan

Monumen de Greve: Riwayat Sebuah Monumen Kolonial

Ego Arianto • Jumat, 29 Maret 2024 | 17:13 WIB

MONUMEN de Greve di Padang sekitar tahun 1931 (sumber: Tropenmuseum)
MONUMEN de Greve di Padang sekitar tahun 1931 (sumber: Tropenmuseum)
Oleh: Ego Arianto.
Analis Sumber Sejarah, Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Padang.

MONUMEN DE GREVE memiliki makna tersendiri bagi pemerintah Belanda. Mulai dibangun pada 1880, monumen ini wujud ekspresi simbolik untuk mengenang Willem Hendrik de Greve, seorang insinyur pertambangan Belanda yang berjasa meneliti dan menemukan deposit batubara Sawahlunto pada pertengahan dasawarsa 1860-an dan awal 1870-an.

Laporan penelitiannya, ‘Het Ombilien-kolenveld in de Padangsche Bovenlanden en het Transportstelsel op Sumatra’s Westkust’ (Batubara Ombilin di Padang Darat dan Sistem Transportasi di Sumatra’s Westkust) pada 1871, memicu dilakukannya ekspedisi-eksplorasi lanjutan hingga akhirnya dimulai pembukaan tambang batubara tahun-tahun berikutnya.

Tambang batubara Ombilin sangat besar pengaruhnya bagi kepentingan ekonomi Belanda untuk kurun waktu yang lama.

Sementara itu, kesadaran politik kebangsaan dan nasionalisme yang menyebar di kalangan Bumiputera, yang mencapai puncaknya pada 1945, telah memunculkan pemaknaan tersendiri pula–yang berkebalikan dengan perspektif Belanda tadi.

Monumen de Greve dianggap sebagai simbol kolonialisme, dan karena itu mesti disingkirkan. Hal ini dilakukan sebagai bagian dari upaya menghapus ingatan atau ‘peniadaan’ pengaruh dan warisan Belanda di Indonesia.

Meski demikian, hal itu sebetulnya masih perlu ditelusuri kebenarannya, sebab figur de Greve berbeda dengan tokoh-tokoh Belanda lain yang juga didirikan tugu peringatannya di Padang, Sumatera Barat, semisal Raaff dan Michiels.

Kedua nama yang disebut terakhir adalah komandan militer Belanda dalam Perang Paderi, sementara de Greve sendiri adalah seorang peneliti dan insinyur pertambangan.

Jika Raaff dan Michiels memimpin perang melawan penduduk, sebaliknya de Greve memilih berkawan!

Hingga saat ini belum ditemukan sumber yang memadai perihal kapan atau mengapa monumen de Greve dihancurkan.

Sebagian kalangan memperkirakan penghancuran itu terjadi semasa pendudukan Jepang, sebagai bentuk perayaan/euforia lepas dari belenggu penjajahan Belanda.

Tetapi, sebuah peta yang dipublikasikan oleh Dinas Perang Inggris tentang situasi Kota Padang pada September 1945, menunjukkan masih terlihatnya keberadaan monumen de Greve beserta dua monumen kolonial lainnya.

Berkaca dari masalah pemaknaan di atas, ada sisi historis lain yang belum atau jarang diungkap–yang sedikit banyak dapat mempengaruhi cara pandang kita terhadap monumen de Greve.

Hal yang dimaksud antara lain arsitektur monumen, ‘nilai’ dari monumen, dan respons masyarakat dalam menanggapi pendirian monumen itu.

Tulisan ini berupaya mengungkap ketiga aspek tersebut dengan melakukan analisis terhadap sumber-sumber sejarah sezaman.

Arsitektur dan Nilai Monumen
M. Joustra, arsiparis Minangkabau Instituut, dalam ‘Minangkabau: Overzicht van Land, Geschiedenis, en Volk’ (1923), mencatat bahwa di Kota Padang terdapat tiga monumen yang didirikan untuk mengenang tokoh-tokoh Belanda yang berpengaruh bagi Sumatera Barat.

Ketiga monumen itu adalah Monumen Raaff (semula terletak di tepi pantai, sejak 1913 dipindahkan ke Plein van Rome), Monumen Michiels (di Michielsplein), dan Monumen de Greve (di Grevekade).

Ketiga monumen ini memiliki sejarah dan latar pendirian yang berbeda-beda, pun halnya dengan bentuk fisik masing-masing.

Bagian ini akan mengulas arsitektur (gaya rancangan) monumen, khususnya aspek-aspek fisik yang melekat pada Monumen de Greve.

Hal ini penting mengingat setiap monumen memiliki arsitektur yang unik, dan dapat mewakili atau menunjukkan kekhasan gaya dari suatu periode tertentu.

Dagblad van Zuidholland en ‘s Gravenhage, surat kabar Belanda yang berbasis di Den Haag, pada Juni 1878, memberikan deskripsi yang cukup jelas serta memuji keindahan Monumen de Greve.

Disebutkan bahwa Monumen de Greve dibuat oleh L.F.A. Benoist di Zuid-Oost Binnensingel, Den Haag, Belanda.

Monumen ini memiliki tinggi 6 meter dan lebar 2 meter. Material penyusun monumen terdiri dari marmer Carrara dan ‘Escauzijnse steen’, sejenis batu alam berwarna kebiru-biruan dari Belgia.

Sebagian batu itu digosok hingga mengkilap dan sebagian lagi tetap mempertahankan warna alaminya.

Bagian utama monumen berupa panil inskripsi dari marmer Carrara yang berat dan dipahatkan ukiran timbul. Pada bagian depan terdapat inskripsi “Aan de nagedachtenis van W. H. de Greve, ingenieur 1ste klasse der mijnen”–yang berarti: untuk mengenang W. H. de Greve, insinyur pertambangan tingkat satu.

Sementara itu, di bagian belakang terdapat inskripsi “geboren te Franeker den 15 April 1840, noodlottig omgekomen op een wetenschappelijken togt te Dorian-Gadang den 22n October 1872”–yang dapat diterjemahkan: lahir di Franeker pada 15 April 1840, meninggal tragis dalam sebuah perjalanan ilmiah di Durian-Gadang pada 22 Oktober 1872.

Di sekitar inskripsi “Aan de nagedachtenis van W. H. de Greve …”, terdapat ukiran beberapa simbol/lambang.

Di bagian atas inskripsi, terdapat ukiran ‘medaillon’ [sejenis hiasan berbentuk bundar yang di dalamnya berisi gambaran/lukisan orang yang dicintai] dan lambang keluarga yang dikelilingi oleh ranting tanaman Ivy dan simbol bintang.

Di bagian bawah inskripsi, ada atribut khas pertambangan, yaitu sebuah palu dan beliung yang disilangkan (sering disebut sebagai simbol Glück Auf).

Glück Auf adalah seruan atau ucapan salam dalam bahasa Jerman di kalangan pekerja tambang, yang bermakna semacam harapan agar para pekerja selamat dan berhasil dalam menggali tambang. Sementara itu, pada kedua sisi inskripsi, terdapat dua obor gantung.

Monumen itu lalu dibawa ke Hindia-Belanda menggunakan kapal laut, satu-satunya alat transportasi yang memungkinkan pengangkutan barang berukuran besar pada masa itu.

Dibutuhkan waktu sekitar satu setengah tahun sebelum akhirnya monumen itu tiba di Hindia-Belanda pada awal Desember 1879.

Bataviaasch handelsblad (1879) memberitakan kondisi monumen ketika tiba di Hindia-Belanda yang mengalami sedikit kerusakan.

Tak disebutkan bagian apa yang mengalami kerusakan – apakah ukiran atau ukuran – tetapi, tak lama kemudian kerusakan tersebut segera diperbaiki.

Pada saat itu, mulai beredar kabar bahwa monumen ini akan ditempatkan di depan kantor gubernur Sumatra’s Westkust, tepatnya di lapangan gantung (pada saat itu [1870-an], lokasi kantor gubernur masih di pinggir Batang Arau, bersebelahan dengan gedung de Javasche Bank lama).

Tanpa mengabaikan arti penting kedua monumen lainnya [Raaff dan Michiels], Monumen de Greve memiliki nilai strategis terkait keberadaannya.

Khusyairi (2011) menyebut bahwa nilai strategis monumen bisa ditentukan dari lokasi, bentuk, dan inskripsi yang diukir pada suatu monumen.

Penempatan suatu monumen pada lokasi tertentu dapat memperlihatkan pentingnya keberadaan monumen tersebut. Monumen yang dibangun di lokasi atau pusat pemerintahan memiliki nilai strategis yang bisa menjadi alat komunikasi kekuasaan.

Monumen de Greve, yang dibangun di depan kantor gubernur Sumatra’s Westkust, dengan sendirinya menunjukkan nilai strategis itu.

Bahkan, nama lapangan/taman tempat monumen de Greve didirikan diubah namanya menjadi ‘de Greveplein’, dan nama dermaga di sekitar lokasi monumen ini dinamai ‘de Grevekade’.

Ketiga objek ini–Monumen de Greve, de Greveplein, dan de Grevekade–terletak pada kawasan pusat perdagangan dan pusat pemerintahan Sumatera Barat tempo dulu, yang kini menjadi bagian dari Kawasan Kota Tua Padang.

Monumen de Greve di depan Gedung de Javasche Bank, Padang (sumber: Wereldmuseum)
Monumen de Greve di depan Gedung de Javasche Bank, Padang (sumber: Wereldmuseum)

Respons Masyarakat

Pendirian Monumen de Greve umumnya mendapat dukungan dari pemerintah dan warga Belanda di Hindia-Belanda. Tetapi, sebagaimana diberitakan Sumatra-courant (1880), sebagian warga Belanda di Padang mengkritik pemerintah terkait lokasi pendirian monumen.

Mereka menganggap lapangan yang berada di depan kantor gubernur, tempat monumen de Greve akan dibangun, bukanlah lokasi yang tepat.

Alasannya adalah bahwa lapangan itu dulunya berfungsi sebagai tempat pelaksanaan hukuman (eksekusi) gantung bagi para kriminal [dalam perspektif Belanda].

Mereka mengkhawatirkan kesan yang mungkin timbul di kalangan penduduk pribumi bahwa – seperti mereka katakan – “sebuah tugu peringatan untuk mengenang salah seorang Belanda yang berjasa, yang seperti prajurit di medan perang, gugur untuk tanah airnya, yang namanya akan selalu disebut-sebut sebagai berkah bagi Belanda, dan daerah jajahannya pada umumnya, dan Sumatera pada khususnya, … didirikan di tempat ‘terkutuk’, di mana sampah-sampah masyarakat yang mengganggu keamanan dan ketentraman dihukum mati? Lapangan gantung akan merusak kehormatan De Greve!”

Karena itu, mereka mengusulkan lokasi alternatif yang menurut mereka lebih baik, yaitu Plein van Rome (kini: Lapangan Imam Bonjol).

Pendirian sebuah monumen di tengah-tengah lokasi itu tidak akan merusak apa pun. Demikian pendapat mereka. Monumen de Greve pada akhirnya tetap dibangun di lapangan gantung tadi, yang kemudian diubah namanya menjadi de Greveplein.

Kasus semacam ini menunjukkan bahwa–seperti yang dikatakan Khusyairi (2011)–kisah di balik pembangunan sebuah monumen dapat mencerminkan tujuan sekaligus reaksi masyarakat atas pendirian monumen tersebut.

Meski nama dan makna tertentu coba dilekatkan pada sebuah monumen, setiap orang mempunyai tafsiran sendiri terhadap monumen itu–yang mungkin dipengaruhi oleh bentuk, lokasi, atau faktor-faktor lain, sehingga mengakibatkan terjadinya pergeseran makna awal atau tujuan didirikannya sebuah monumen.(*)

Editor : Heri Sugiarto
#lapangan Imam Bonjol #Batubara Ombilin #Monumen De Greve #Willem Hendrik de Greve #Ego Arianto #hindia belanda #sumbar #padang #kota tua padang