Indonesia Sumbar Bisnis Olahraga Gaya Hidup Harian Magazine Otomotif Pariwisata Features Internasional Opini Advertorial Pendidikan Buku & Film Hiburan Kesehatan

Wisatawan Belanda Telusuri Jejak Leluhurnya di Sumatera Barat

Ego Arianto • Jumat, 10 Mei 2024 | 13:57 WIB

Penelusuran arsip kependudukan di Disdukcapil Kota Padang, Februari 2024 (Foto: Dok. Ego Arianto)
Penelusuran arsip kependudukan di Disdukcapil Kota Padang, Februari 2024 (Foto: Dok. Ego Arianto)
Oleh: Ego Arianto
Analis Sumber Sejarah, Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Padang.

PADA Februari lalu, seorang wisatawan Belanda berkunjung ke Sumatera Barat. Tujuannya adalah untuk mencari arsip yang berkaitan dengan kehidupan leluhurnya–yang dulu lahir dan tinggal di Padang pada akhir abad ke-18 dan abad ke-19.

Ia menelusuri sejumlah tempat di Kota Padang yang dinilai memiliki arti khusus dalam kehidupan leluhurnya.

Ia juga melakukan wawancara dengan para pakar untuk mendapatkan pemahaman lebih utuh tentang posisi leluhurnya dalam masyarakat kolonial Kota Padang tempo dulu.

Menurut ranji silsilahnya, leluhur wisatawan itu terdiri dari orang Belanda, Jerman, Nias, dan Tionghoa.

Dalam studi sejarah, aktivitas wisatawan Belanda itu termasuk dalam kajian sejarah keluarga. Sementara itu, dalam ilmu kepariwisataan, perjalanan menelusuri jejak leluhur disebut sebagai wisata genealogi.

Keterkaitan ini menyebabkan hubungan antara pariwisata dan sejarah sangat dekat–seperti yang dikatakan McCain dan Ray (2003), “… perjalanan ke tanah air leluhur menjadi titik temu antara pariwisata dan penelitian sejarah keluarga.”

Tulisan ini mencoba memperkenalkan wisata genealogi. Wisata ini pada umumnya lebih menonjol di Eropa dan Amerika, terutama di negara-negara yang pernah dilanda konflik atau perang, yang menyebabkan terjadinya eksodus besar-besaran penduduk ke luar dari negaranya.

Secara khusus, wisata genealogi di Indonesia berkaitan erat dengan sejarah kolonialisme.

Pada awal abad ke-19, Kerajaan Belanda melakukan perekrutan tentara bayaran dari berbagai negara di Eropa–terutama Jerman dan Belgia–untuk ditempatkan di Hindia-Belanda (Indonesia).

Mereka ikut dalam sejumlah ekspedisi militer, misalnya Perang Paderi dan Perang Aceh. Setelah pensiun, sebagian di antara mereka memilih menetap dan beraktivitas seperti penduduk sipil pada umumnya.

Di Padang, misalnya, mereka melakukan perkawinan dengan penduduk setempat, terutama dengan perempuan Nias dan Tionghoa.

Dalam perkembangannya, ada keturunan mereka yang memilih pulang ke Belanda. Kepulangannya ke Belanda sebagian didasarkan atas kemauan sendiri, sementara lainnya karena faktor politik dan keamanan.

Di Belanda, kisah masa lalu keluarga mereka, yang biasanya tidak utuh, diceritakan secara turun temurun dari satu generasi ke generasi berikutnya.

Ketidakutuhan cerita inilah yang membuat mereka selalu bertanya: siapa dan dari mana mereka berasal–dua pertanyaan dasar dalam upaya merekonstruksi identitas dan jati diri.

Jawaban atas pertanyaan-pertanyaan itu dapat ditemukan dengan melakukan perjalanan jauh menelusuri jejak leluhur.

Mengenal Wisata Genealogi

Istilah wisata genealogi agaknya belum begitu dikenal dalam kepustakaan pariwisata Indonesia. Wisata ini sering juga disebut dengan wisata silsilah atau “roots tourism”.

Disadari atau tidak, apa yang dimaksud sebagai wisata genealogi, dalam praktiknya telah berlangsung lama.

Wisatawan Belanda, yang menelusuri arsip keluarga di ANRI (Arsip Nasional Republik Indonesia), Jakarta, dan mengunjungi kota kelahiran leluhurnya di Padang menjadi bukti bahwa Indonesia, dan khususnya Sumatera Barat, juga menjadi tujuan wisata genealogi.

Wisata genealogi adalah kegiatan perjalanan wisatawan, baik seseorang maupun sekelompok orang, dengan mengunjungi tempat-tempat yang memiliki keterkaitan dengan keluarga atau leluhur mereka (Costa, 2022).

Tempat yang dituju dapat berupa tempat kelahiran, pemakaman, tempat kerja, tempat ibadah, dan lokasi-lokasi lainnya yang memiliki makna bagi kehidupan leluhur wisatawan.

Selain ke tempat-tempat tersebut, kegiatan wisatawan genealogi dapat berupa penelusuran arsip keluarga, konsultasi dengan para ahli (seperti sejarawan dan ahli genealogi), dan bahkan mempelajari kehidupan sosial masyarakat di mana leluhur mereka pernah tinggal. 

Wisata genealogi bukanlah sekadar perjalanan wisata biasa. Ketertarikan dengan masa lalu leluhur mendorong wisatawan melakukan perjalanan lintas negara.

Emosi dan keterikatan personal dengan leluhurnya memberi makna yang unik dan spesial pada setiap tempat yang mereka kunjungi (Stojanovic, 2022). 

Dalam beberapa tahun terakhir, wisata genealogi berkembang pesat sebagai suatu fenomena sosial. Hal itu, misalnya, tercermin dari ditemukannya alat atau metode baru yang memudahkan penelusuran genealogis.

Tes DNA, pengarsipan digital, dan tersedianya platform untuk membuat ranji keluarga secara virtual, telah memudahkan seseorang untuk melacak garis keturunan dan leluhur mereka. Dulu, praktik penelusuran genealogis ini ditujukan untuk memperkuat silsilah dan kekuasaan para elit, namun pada masa kini kegiatan itu mulai dilakukan oleh banyak kalangan.

Wisata Genealogi di Eropa dan Amerika

Hampir tidak mungkin bagi wisatawan genealogi untuk menelusuri jejak leluhurnya secara mandiri. Ia butuh pemandu, dan tidak semua orang bisa menjadi pemandu wisata genealogi.

Idealnya, kegiatan wisata ini dipandu oleh mereka yang memiliki keahlian khusus, seperti ahli genealogi, pustakawan, dan arsiparis. 

Mehtiyeva dan Prince (2020) mencatat bahwa wisatawan genealogi di Swedia sangat bergantung pada bantuan ahli genealogi untuk menemukan tempat dan orang-orang tertentu selama perjalanan mereka.

Bahkan, ahli genealogi setempat harus menghubungi orang-orang di paroki (suatu kawasan yang dikepalai oleh pastor), yang mereka ketahui memiliki hubungan keluarga dengan wisatawan tersebut.

Sementara itu, Pemerintah Skotlandia menyelenggarakan perayaan bertajuk “Homecoming Scotland” untuk menarik kunjungan orang-orang keturunan Skotlandia yang tersebar di berbagai negara.

Di Amerika, wisatawan sangat terbantu dengan adanya pusat genealogi Allen County Public Library. Lembaga ini menyimpan pangkalan data genealogis orang-orang Amerika dari abad ke-17. Terdapat tiga layanan yang ditawarkan, yaitu tanya pustakawan genealogi, tur pusat genealogi, dan konsultasi.

Pada layanan pertama, wisatawan dapat bertanya ke pustakawan genealogi mengenai ketersediaan data genealogis yang hendak dicari oleh wisatawan.

Layanan kedua menawarkan tur keliling pusat genealogi baik secara individu maupun kelompok. Layanan terakhir memberikan saran-saran dan rekomendasi kepada wisatawan yang sedang melakukan penelitian sejarah keluarga.

Seiring dengan meningkatnya popularitas wisata ini, muncul sebuah tren di mana para ahli genealogi menjadi pengusaha pariwisata.

Mereka membentuk–atau diminta untuk ikut dalam–perusahaan-perusahaan yang bergerak di bidang layanan genealogis.

Di samping memberikan data genealogis kepada kliennya, mereka terkadang juga ikut membantu merencanakan perjalanan wisatawan ke negara atau lokasi asal leluhurnya (Prince, 2023).

Wisata Genealogi di Sumatera Barat

Wisata genealogi di Indonesia, khususnya di Sumatera Barat, dapat dikatakan belum terkelola dengan baik.

Meski terdapat banyak kekurangan, tetapi telah ada upaya untuk menyelenggarakan aktivitas wisata ini dalam skala kecil.

Dalam beberapa bulan terakhir, tercatat setidaknya ada dua kegiatan wisata genealogi di Sumatera Barat. Wisata genealogi pertama terjadi pada September tahun lalu, sedangkan yang kedua pada Februari tahun ini.

Pada wisata genealogi pertama, Sumatera Barat dikunjungi oleh dua orang wisatawan Belanda. Keduanya merupakan pasangan suami-istri.

Mereka mengatakan bahwa leluhur mereka dulu pernah tinggal dan bekerja di Padang pada dekade 1840-an: awalnya sebagai ahli bedah, kemudian diangkat menjadi kepala rumah sakit.

Komunitas Padang Heritage, yang memiliki kepedulian terhadap pelestarian warisan budaya, memberikan pendampingan yang berharga selama kunjungan mereka di Kota Padang.

Mereka berkunjung ke tempat-tempat di mana leluhur wisatawan itu dulu tinggal dan bekerja, seperti Militair Hospitaal (kini: Rumah Sakit dr. Reksodiwiryo) dan officierswoningen/tempat tinggal perwira (kini: kompleks asrama TNI).

Melalui kunjungan itu, wisatawan dapat melihat langsung dan merasakan suasana dari tempat-tempat yang pernah menjadi bagian penting dalam sejarah keluarga mereka.

Selain mengunjungi tempat-tempat bersejarah, wisatawan Belanda itu juga berupaya melacak dokumen asli akta kelahiran salah satu leluhur mereka yang kemungkinan disimpan di Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil (Disdukcapil) Kota Padang.

Dalam upaya ini, mereka mendapat bantuan yang sangat berarti dari staf Disdukcapil dan Galeri Arsip Statis–Dinas Perpustakaan dan Kearsipan (Dispusip) Kota Padang.

Wisata genealogi kedua, pada Februari lalu, merupakan perjalanan panjang yang sarat dengan makna sejarah dan eksplorasi identitas.

Kegiatan wisata ini menguras pikiran dan waktu selama dua minggu. Di sini, aspek penelitian sejarah keluarga mendapat porsi lebih besar ketimbang perjalanan menyusuri tempat-tempat tertentu.

Hal ini disebabkan oleh keadaan fisik kota yang telah jauh berubah antara abad ke-19 dan situasi hari ini.

Bangunan-bangunan tertentu, yang dulu berkaitan dengan kehidupan leluhur wisatawan, kini sudah tak ditemukan lagi. 

Karena itu, sebagian besar kegiatan wisata genealoginya adalah penelusuran arsip di berbagai lembaga kearsipan di Padang dan Padangpanjang.

Dispusip dan Disdukcapil Kota Padang, PDIKM Padangpanjang, Dinas Kearsipan dan Perpustakaan Sumatera Barat, adalah beberapa di antaranya.

Selain penelusuran arsip, kegiatan lainnya adalah konsultasi dengan sejarawan dari Universitas Andalas dan Universitas Negeri Padang.

Sesi tanya-jawab dengan para pakar ini sangat penting artinya untuk mendapatkan konteks historis di mana leluhur wisatawan itu pernah tinggal.

Dalam catatan penulis, yang ikut mendampingi serta memandu perjalanan wisatawan Belanda itu, ia menghabiskan waktu selama 15 hari di Sumatera Barat. 

Ia pulang ke Belanda pada awal Maret. Perjalanannya tentu meninggalkan kesan tersendiri, yang mungkin akan ia ceritakan pada keluarga dan kerabatnya di sana.

Mungkin saja, dari penceritaan itu, akan ada lagi orang Belanda (yang leluhurnya lahir dan tinggal di Sumatera Barat) berkunjung untuk tujuan yang sama.(*)

Ucapan terima kasih penulis kepada Maaike Hajer (HU University of Applied Sciences Utrecht, the Netherlands), Rosalina Pisco Costa (University of Evora, Portugal), dan Abdul Harits R. (Universitas Andalas, Indonesia).

Editor : Heri Sugiarto
#Stojanovic #arsip belanda #sumatera barat #jejak Belanda di Padang #wisatawan Belanda #Wisata Genealogi #Ego Arianto #Mehtiyeva dan Prince #anri #padang #Komunitas Padang Heritage #roots tourism