Selain kawasan objek wisata Pantai Carocok Painan, ternyata Kabupaten Pessel juga memiliki banyak potensi wisata lainya yang tidak kalah menarik. Sebut saja salah satunya kawasan objek wisata Jembatan Akar yang berada di Nagari Puluik-Puluik, Kecamatan Bayang Utara, Kabupaten Pessel.
Objek wisata yang tergolong unik ini, bisa dijadikan sebagai salah satu tujuan wisata yang mengasyikkan bagi keluarga dan wisatawan. Sebab pemandangan alamnya yang masih asri dan alami, serta juga aliran sungainya yang jernih di bawah jembatan akar ini, akan membuat setiap pengunjung betah untuk berlama-lama berada di objek wisata Jembatan Akar Puluik-Puluik.
Jembatan akar yang lebih dikenal dengan sebutan titian akar oleh masyarakat Kabupaten Pessel itu, merupakan salah satu kekayaan alam yang sangat berpotensi membuat, dan Kabupaten Pessel semakin dikenal di bidang kepariwisataan. Sebagaimana diketahui, kawasan wisata jembatan akar ini berjarak sekitar 25 kilometer dari Pasarbaru, Kecamatan Bayang.
“Karena ruas jalan untuk menuju kawasan itu sangat bagus, sehingga dengan menggunakan sepeda motor atau mobil bisa ditempuh dalam waktu 25 menit. Untuk kenyamanan pengunjung, di lokasi itu juga telah disediakan gazebo-gazebo. Karena setiap hari libur banyak wisatawan yang berkunjung, sehingga kehadiran kawasan wisata ini memberikan dampak ekonomi bagi masyarakat lokal, terutama sekali bagi pedagang kuliner khas lokal,” ungkap Ismandri, 56, salah seorang tokoh masyarakat Bayang kepada Padang Ekspres.
Dia menyampaikan, berkat pelatihan dan sosialisasi yang dilakukan oleh Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) kepada masyarakat pelaku wisata di kawasan itu, sehingga dari waktu ke waktu terus terjadi peningkatan terhadap pelayanan kepada wisatawan yang berkunjung.
“Gemericik air yang mengalir di sela-sela batu besar yang berada di aliran batang Bayang itu terasa tidak lengkap kalau kita tidak terjun untuk berenang di sungai itu. Sebab aliran sungai yang berarus sedang dengan lebar mencapai 25 meter di bawah jembatan akar itu, sangat mengasikkan untuk mandi-mandi dan berenang,” ujarnya.
Dikatakan pula, semua sisi di kawasan itu memiliki panorama yang indah untuk ber swafoto atau berselfi. “Oleh sebab itu, ajaklah keluarga dan teman kerja untuk berlibur ke kawasan objek wisata Jembatan Akar yang terdapat di Kenagarian Puluik-Puluik, Kecamatan Bayang ini,” ungkapnya.
Kepala Dinas Pariwisata Pemuda dan Olahraga (Disparpora) Kabupaten Pessel Suhendri, melalui Kepala Bidang (Kabid) Pariwisata Gunawan menjelaskan, menurut sejarahnya, jembatan akar itu dibangun oleh seorang pemuda kreatif yang memiliki kepedulian sosial yang tinggi terhadap masyarakat guna menghubungkan dua kampung yang terpisah oleh Batang Bayang 100 tahun lalu.
“Pemuda itu bernama Sokan. Namun oleh masyarakat setempat pemuda yang kreatif itu setelah dewasa menjadi seorang ulama yang akrab dipanggil Pakiah Sokan. Gelar Pakiah itu disandangnya karena dia memang memiliki kepedulian sosial yang tinggi, serta juga piawai dalam mencari solusi dan persoalan sosial yang terjadi di masyarakat,” kata Gunawan.
Semasa hidupnya, baik ketika masih belia hingga dewasa, otaknya selalu berpikir mencari solusi terhadap berbagai persoalan yang terjadi di masyarakat. Termasuk juga terhadap minimnya sarana transportasi di kampungnya.
Ketika itu yang paling mendesak menurutnya adalah sarana penghubung antara Kampung Puluik-Puluik dengan Kampung Lubuksilau yang dibatasi oleh batang Bayang.
“Agar sarana penghubung dua kampung itu bisa teratasi, maka perlu dibangun sebuah jembatan. Tapi keterbatasan material baik semen, besi dan lainya, menjadi penghalang solusi pembangunan jembatan tidak bisa dilakukan oleh masyarakat saat itu. Sebab Kampung Pulik-Pulik yang berjarak sekitar 25 kilometer dari dari Pasarbaru, Bayang ketika itu, selain sulit dijangkau dari daerah luar, berbagai kebutuhan untuk membangun jembatan juga tidak bisa didapat,” ujarnya.
“Setelah melalui pertimbangan yang matang baik terhadap kekuatan pohon dan kekuatan akar dan lainya. Sehingga tahun 1916 Pakia Sokan mulai menanam dua jenis pohon pilihannya itu, yakni pohon kubang dan beringin. Dua jenis pohon ini, masing-masing ditanam secara berseberangan. Dimana sebelah Kampung Puluik-Puluik ditanam pohon kubang dan di seberang sebelah Dusun Lubuaksilau ditanam pohon beringin,” terangnya.
Pohon yang sudah ditanam itu oleh Pakia Sokan tidak dibiarkan tumbuh begitu saja, tapi juga dirawat hingga tumbuh menjadi dua pohon yang besar. Setelah itu, barulah dipasangnya bambu sebagai titian.
“Jadi kehadiran jembatan akar ini tidak hanya sekedar menawarkan pariwisata alam dengan keunikannya, tapi juga memiliki historis dan sejarah yang bisa dijadikan keteladanan bagi generasi sekarang dan masa datang,” jelas Gunawan. (YONI SYAFRIZAL— Pessel)
Editor : Novitri Selvia